#IbuBerbagiBijak – STOP Jadi Feeling Analysis! Yuk, Kita Lebih Pintar Kelola Keuangan

Seberapa penting sih pengelolaan keuangan bagi kita?

Kalau saya itu penting banget!

Secara saya sebagai ‘menteri keuangan’ rumah tangga, harus berpikir detil untuk hal ini. Salah langkah, bisa kolaps keuangan. Saya harus bisa mengelola uang yang diberikan suami untuk alokasi keuangan bulanan. Harus bisa tercukupi dengan membagi ke pos-pos semestinya.

Pun dengan fee yang saya dapatkan dari pekerjaan sebagai freelance. Harus bisa kelola. Sayangnya untuk yang satu ini, saya akui agak tidak telaten. Biasanya fee yang saya dapatkan variatif, dan ada saja kebutuhan mendadak bikin uangnya habis.

Sebenarnya kebutuhan nggak emergency. Kayak, ajak anak-anak makan di mal, beliin camilan. Ini kan sebenarnya mesti bisa lah saya kurangi. Tapi, jika diingat-ingat fee yang saya dapatkan pun tak jarang saya jadikan investasi berupa properti foto untuk digunakan saat foto produk. Juga tambahan di rumah, dan renovasi rumah.

Tapi, untuk investasi dalam bentuk tabungan atau saham, errr ini nih yang masih jadi pe-er banget bagi saya! Hiks …

Mengelola keuangan ini bagi saya sebuah seni yang bentuknya practice makes perfect, dicari sela agar dapat feel-nya. *halah … Beneran deh, mengelola itu termasuk mencatat keuangan rumah tangga yekan. Nah, yang di satu ini saya agak keteteran. Padahal sudah ada aplikasi pencatat keuangan yang saya punya.

Then, balik lagi udah sampai mana sih kita mengelola keuangan? Apakah sudah dibagi ke kebutuhan, zakat, investasi?

Generasi yang HARUS melek literasi keuangan

Saya termasuk generasi milenial (apabila dilihat dari tahun lahir, ya). Sayangnya tingkat literasi keuangan kita ini masih termasuk rendah loh khususnya perempuan.

“Tingkat literasi keuangan di Indonesia telah meningkat dari 21,8% pada tahun 2013 menjadi 29,6% pada tahun 2016. Sayangnya, tingkat literasi keuangan perempuan jauh lebih rendah sebesar 25,5% dibanding laki-laki 33,2%.” – Survei OJK 2016

Saya termangu akan pemaparan Pak Riko Abdurrahman, Presiden Direktur PT. Visa Worldwide, saat acara Visa #IbuBerbagiBijak tanggal 3 September 2019 kemarin.

Pak Riko Abdurrahman, Presiden Direktur PT. Visa Worldwide

Jika, dilihat ke belakang saya akui survei itu benar. Di tahun 2016, saya sendiri masih kurang pengetahuan akan keuangan. Laki-laki persentasinya besar apakah mungkin karena mereka adalah tulang punggung keluarga dan mesti tau tentang keuangan? Maybe.

Survei itu di tahun 2016, tapi saya yakin di tahun 2019 sekarang ini angkanya sudah berubah!

Sekarang sudah banyak hadir financial blogger, financial planner yang nggak segan berbagi ilmu di blog maupun Instagram. Workshop, talkshow tentang literasi keuangan pun giat dilakukan di mana-mana. Termasuk event #IbuBerbagiBijak yang diadakan Visa.

Ini sebuah tren positif. Membuat masyarakat diedukasi tentang literasi keuangan apalagi perempuan. Jadi, sebagai penyokong ekonomi keluarga perempuan juga mampu mengelola keuangan dengan baik, bisa memilih instrumen investasi yang tepat.

Jika, literasi keuangan ini berjalan dengan bagus efeknya pun bisa membuat perekonomian kita menjadi lebih baik. Setuju?

#IbuBerbagiBijak dan peningkatan literasi keuangan di kalangan perempuan

Bagi teman-teman yang belum tau tentang #IbuBerbagiBijak bisa mantengin Instagramnya di @ibuberbagibijak. Di sana, ada banyak tips pengelolaan keuangan yang bisa diadaptasi loh.

Nah, kemarin saya merasa so lucky banget bisa hadir di acara ini. Mendapat materi bergizi dari praktisi keuangan itu membuat mata saya terbuka lebar.

Pastinya teman-teman bertanya, apa sih istimewanya dari #IbuBerbagiBijak?

  • Melibatkan komunitas, sesama perempuan.
  • Mengusung konsep “train the trainers”, mengedukasi dan mendorong perempuan agar dapat berbagi pengetahuan dengan anggota keluarga, kerabat dan tetangga.
  • Memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan informasi mengenai pentingnya literasi keuangan.

Itulah mengapa di acara kali ini yang diadakan di Roast and Bear, Harper Hotel Yogyakarta, #IbuBerbagiBijak menghadirkan Prita Ghozie seorang financial planner untuk menjadi pembicara.

Pintar mengelola keuangan adalah kunci usaha

Sesi pemparan oleh mbak Prita Ghozie dibuka dengan pertanyaan : “siapa yang memiliki usaha dan siapa yang bekerja lepas alias freelance?”

Ternyata yang hadir sebagian besar memiliki usaha dan juga freelance termasuk saya.

Sesi Mbak Prita Ghozie ini bikin makjleb sekaligus banyak ilmu yang didapat.

Lanjutnya lagi, ditanya apakah sudah bisa mengelola keuangan dengan baik? Peserta terdiam. Saya pun bergeming, ikut berpikir ke mana saja aliran uang yang diterima selama ini.

Mbak Prita melanjutkan bahwa dalam memulai sebuah usaha harus dipahami beberapa hal di bawah ini.

  1. Pahami modal dan kebutuhan dasar

Yang termasuk dalam modal :

  • Modal investasi awal

Properti, fasilitas pendukung, pelatihan tenaga kerja.

  • Modal kerja operasional

Barang dagangan, barang pendukung.

Lalu apa kebutuhan dasar? Ini berupa biaya tetap seperti biaya listrik, telepon, internet, pemasaran, pegawai.

Mau apapun modalnya, kebutuhan dasar usaha ini harus kita keluarkan tiap bulannya.

  1. Pertimbangan kunci dalam usaha

Dalam usaha ada yang namanya pembiayaan. Di dalamnya ada pinjaman atau dana sendiri juga perluasan usaha.

Ada juga operasional yang dilakukan sebagai strategi dalam mencapai tujuan usaha.

  1. Pertimbangan mengambil pinjaman

Pinjaman yang akan dilakukan dalam memulai usaha harus dipikirkan baik-baik. Biasanya pinjaman bisa melalui tiga instrumen : bank, multifinance, P2P lending.

Nah, sebelum memilih ke mana. Baiknya pikirkan tiga hal ini.

  • Hitung kebutuhan pendanaan.
  • Tambah 10% dari kalkukasi.
  • Pertimbangan alternatif sumber pendanaan.

Setelah usaha berjalan, kita harus bisa memahami situasi keuangan. Caranya? Coba dianalisa apakah usaha mengalami profit, loss atau sudah mencapai break even poin.

Untuk bisa menganalisanya, kita perlu laporan keuangan usaha. Seperti, neraca, laporan laba rugi, catatan laporan keuangan.

Seberapa Sehat Keuangan Kita?

“Ibu-ibu tuh, suka banget jadi feeling analysis. Perasaan untung, perasaan rugi, astaga!”

Ucapan mbak Prita tersebut bikin peserta ketawa sekaligus makjleb dah.

Gimana tidak jadi feeling analysis, wong pencatatan keuangan acakdut. Makanya, profit nggak kelihatan, loss mah iya, break even poin mah jauh banget deh.

Peserta menyimak dan mencatat

Untuk menentukan seberapa sehat keuangan kita ada 4 faktor yang coba deh dijawab dalam hati.

  1. Punya utang?
  2. Biaya hidup lebih besar dari pemasukan?
  3. Punya dana darurat?
  4. Punya tabungan?

Untuk utang, nggak masalah kalau utang itu produktif dan cicilannya di bawah 30%. Artinya, utangnya lancar dan memang digunakan untuk hal positif seperti usaha.

Biaya hidup itu maksimal 50% dari gaji. Harus bisa paham antara prioritas pengeluaran.

Dana darurat itu minimal 3x pengeluaran rutin dan dalam berbentuk kas.

Tabungan, ini bagi tiap orang variatif. Bisa dalam bentuk tabungan untuk rencana (pendidikan, kesehatan) juga investasi masa depan.

Alokasi ideal untuk penghasilan bulanan berupa zakat, assurance, present consumption, future spending, investment. Untuk persentasinya, 5% zakat, infaq, sedekah, 10% dana darurat dan asuransi, 30% biaya hidup, 30% cicilan pinjaman, 15% investasi, 10% gaya hidup.

Apabila teman-teman memiliki usaha, 5 tips mengelola keuangan ini bisa diadaptasi.

  1. Punya rencana pengeluaran

Jadi, sebaiknya teman-teman memiliki catatan keuangan, ya. Ada banyak aplikasi pencatat keuangan yang bisa digunakan, jadi bisa ditracking ke mana saja.

  1. No utang konsumtif

Menjamurnya pinjaman online sekarang ini harus bisa diwaspadai, ya. Untuk modal usaha baiknya bisa berupa modal sendiri, atau dari bank untuk amannya. Jangan jadikan pinjaman yang sudah cair untuk membeli barang-barang konsumtif seperti gadget, alat-alat elektronik.

  1. Tabung dan investasi

Seberapa besar profit yang kamu punya, sisihkan untuk tabungan juga investasi. Wah, sekarang ini banyak loh instrumen investasi yang bisa dipilih. Mau saham, reksadana, deposito, logam mulia dan lain sebagainya.

  1. Dana darurat

Ini perlu juga disiapkan, agar saat terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan kita punya backup dana untuk mengatasinya.

  1. Asuransi kesehatan dan jiwa

Kita mah sedianya pengin sehat selalu, ya. Tapi, namanya sakit nggak akan pernah kita duga. Untuk itu, sebaiknya kita punya asuransi kesehatan. Kalau saya pribadi BPJS mah, itu udah oke ya bisa cover semua penyakit dengan biaya yang terjangkau.

Well, selesai dari acara #IbuBerbagiBijak ini saya pun mempunyai insight baru tentang pengelolaan keuangan. Apalagi persentasi alokasi keuangan, setidaknya walah fee saya variatif sudah bisa membagi ke berbagai pos.

Selesai workshop, foto bareng dulu. ^^
Foto by Mak Mira Sahid

Semoga, tulisan saya ini bisa membantu teman-teman dalam memahami tentang pengelolaan juga literasi keuangan. Sebagai perempuan, tanggung jawab pengelolaan keuangan ada di pundak kita.

Yuk, kita menjadi financial analysis bukan feeling analysis!

2 Comments

Leave a Reply to April Tupai Cancel reply