Kontraksi Awal (Lagi)

Kontraksi awal (lagi)? *huft

Kehamilan kedua ini memang penuh warna. Memang sih saya jarang membagikannya ke blog ataupun akun social media lainnya. Yang paling sering, ya itu hasil masak dan baking saja heheheh.. Membagi yang happy-happy saja. Mau menulis tentang kehamilan dari A-Z sudah saya lakukan di waktu kehamilan pertama. Jadi, untuk yang kedua ini saya agak santai.

Kejadian diagnosa usus buntu pun saya tulis setelah melewati sebulan. Sebenarnya urung mau nulis, tapi setelah dipikir lagi, saya ingin membagi pengalaman bukan kesedihan. Setidaknya jika ada emaks di luar sana yang mengalami nasib sama bisa saling sharing. Saya pun teringat di salah satu postingan Mak Carra, sah-sah saja untuk menulis curhatan tapi alangkah baiknya jika curhatan itu ada solusinya. Dan saya pun berusaha menerapkan hal itu.

Kali ini saya ingin curhat sekaligus membagi pengalaman yang terjadi dua minggu lalu.

Semua bermula di hari senin, selesai menghadiri resepsi ponakan. Mama minta untuk jalan sebentar sebelum pulang ke rumah. Tiba di rumah sekitar pukul setengah lima sore. Saya merasakan mulas untuk buang air besar. Tetapi, setelah buang air besar kok mulas masih ada, ya? Saya berusaha tenang. Mencoba jalan ke segala penjuru rumah. Namun, mulas nggak hilang berganti nyeri di tengah perut dan bagian bawah. Tak hanya itu, perut mengeras. Keringat di dahi sudah bak pipilan jagung! Saya kembali berusaha tenang tapi dalam hati ini udah ciut. Saya teringat kejadian kehamilan pertama di mana saya mengalami kontraksi awal di usia kandungan 7 bulan.

Sungguh, saya tidak tahan dan memutuskan untuk ke dokter saja. Dan bikin bete, rumah sakit tempat saya konsul dengan dokter agak tidak ramah cara registrasi. Jadi, saya harus daftar di CS rawat jalan, dapat nomer antrian kan. Lalu, harus ke Hall B untuk timbang berat badan dan tensi. Nah, penentuan nomor antrian itu di timbang dan tensi. Duh, ribet! Suster yang menangani saya mengatakan untuk jangan dulu banyak gerak, kalau udah nggak tahan stay di rumah sakit saja. Oh, BIG NO! Dan apesnya, saya dapat nomor antrian 19. Konsul dokter mulai pukul setengah enam. Ahh, makin lama nahan sakit ini. Duh, saya pun jadi ingat kontraksi awal sewaktu kehamilan Athar.

kontraksi awal

Di rumah, saya berusaha duduk, tarik napas dalam lalu buang, jalan bentar keliling ruangan. Namun sakit ini tak kunjung reda. Saya pun haqul yakin kalau ini bukan kontraksi palsu! Saya membuka beberapa situs untuk mengetahui cara meredakannya. Di salah satu situs, bidanku.com, menuliskan : baring miring dan minum air putih. Ok, it’s easy! Too bad, saat baring malah makin sakit hikz hikz.. Nggak mempan sarannya! Saya pun memutuskan untuk duduk saja, tetap minum air putih sambil dzikir. Dan berharap agar saya tetap sehat.

Baca juga : Perkembangan janin 36 minggu dan ciri-ciri kontraksi

Jam setengah sembilan saya start ke rumah sakit. Syukurlah sudah nomor 18. Saat masuk ruangan, wajah saya sudah kusut.

“Kenapa, Ran?”

“Dok, mulas banget,” ujarku dengan nada menahan sakit.

Ayo, di-usg sekarang. Sus, tolong gel nya,” kata dokterku.

Dengan sigap, suster mengoleskan gel dan dengan cekatan alat usg sudah menempel di perut. Dokter pun terlihat diam sejenak.

“Aduh, Ran.. Ini bayinya udah masuk panggul. Kamu lagi kontraksi ini,” seru dokter.

Masya Allah, kontraksi awal lagi! Saya makin deg-degan. Keringat dingin terus mengucur.

“Ran, kamu mau stay di rumah sakit atau rawat jalan?”

Langsung kujawab, “rawat jalan, dok!”

“Oke, bisa. Ini saya kasih resep untuk menghilangkan kontraksi. Tapi, dengan syarat kamu harus bedrest total!”

“Iya, dok.”

Obat yang dikasih dokter sebanyak 20 tablet seharga Rp. 150.000,-. Alhamdulilah setelah minum obatnya, sakit kontraksi hilang. Dan saya benar-benar meminimalisir gerakan.

Tapi, dua hari berikut, Mama sakit. Dan saya mau tak mau harus mengantarkan Mama dari rumah sakit ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan saya berdoa semoga Mama sehat dan bayi juga kuat.

Jumat siang, saya mengalami flek yang lumayan. Panik!!!! Saya memutuskan untuk ke dokter lagi. Suster sampai bingung lihat saya, “Ibu kok balik lagi?” Saya hanya senyum-senyum kuda saja.

Syukurlah hari itu nggak banyak pasien. Saya dapat nomor urut 3.

“Ran, ada apa?” tanya dokter ketika saya masuk ruangan.

“Ngg.. Dok, saya flek,” ujar saya pelan.

“Aduh, Ranny! Kamu bandel banget, pasti gak bedrest bener!”

“Itu, dok.. Mama sakit jadi mau gak mau harus urus.”

“Iya, Mama sakit tapi kamu juga harus jaga kesehatan. Kamu harus bisa membagi waktu tubuhmu. Jangan diforsir! Ayo, di usg dulu.”

Saya pun menurut saja.

“Ran, ada sedikit pendarahan di plasenta! Kali ini 3 hari kamu harus benar-benar bedrest! Saya gak akan mau melahirkan bayi di 8 bulan, lihat paru-parunya belum matang! Saya juga gak akan kasih obat biar kamu kapok!”

Duh, asli dokterku jadi galak 🙁 tapi emang salahku sih.

“Ran, obatnya masih ada?”

“Ada, dok.”

“Kalau sakit, minum aja. Dan ingat BEDREST!!”

“Iya, dok.”

Hingga hari ini, saya masih sering rasakan kontraksi dan nyeri. Jika sudah datang nyeri, saya tinggalkan aktivitas, memilih untuk berbaring. Jika nyeri sudah nggak tahan, saya akan minum obat. Saya berusaha sekali untuk mengurangi aktivitas dan istirahat yang cukup.

Sedikit berbagi, ini yang saya rasakan dan merupakan kontraksi melahirkan :

  1. Mulas seperti mau buang air besar
  2. Nyeri di bagian tengah perut dan bagian bawah.
  3. Selangkangan nyeri.
  4. (Maaf) vagina pun terasa nyeri.
  5. Interval sakit 10 menit (jika sakitnya hanya 15 menit saja habis itu hilang, tandanya kontraksi palsu).
  6. Napas ngos-ngosan.

Jika sudah merasa seperti itu, segeralah ke dokter! Dan jika usia kehamilan belum genap untuk melahirkan, obat yang utama adalah bedrest. Kurangi aktivitas.

Sengaja saya tidak menampilkan obat yang dokter berikan, karena tiap dokter pasti memiliki resep berbeda.

Semoga #BabyKei bisa kuat dalam perut Mama, ya. Dua minggu lagi bakal ketemu. Mohon doanya, temans..

16 Comments

  1. ranny
  2. pipit
    • ranny
  3. ranny
  4. ranny
    • ranny
    • ranny
    • ranny
  5. Dani
    • ranny
    • ranny

Reply