Selamat Datang, Kei!

Hello 2016..

Hari kedua di tahun yang baru, rasanya? Uhmm campur aduk! Hehehe.. Bagaimana tidak, apa yang sudah direncanakan sejak awal, tiba-tiba berubah drastis 180 derajat! Feels like, there’s a miracle behind it.

Ketika Dia Bekerja Dengan Cara yang Misterius

There Can Be a Miracle When You Believe

Itu adalah salah satu penggalan lirik dari  Ost. Musa yang dinyanyikan oleh dua diva dunia, Mariah Carey dan Whitney Houston. Pasti semua pada tau, ya. Lagu yang selalu sukses membuat saya merinding dan percaya bahwa Dia selalu memberikan apa yang kita butuhkan lewat cara ajaibNya.

Iya, saya merasakan adanya keajaiban yang terjadi dalam hidup. Sewaktu dokter kandungan memperkirakan bahwa saya bisa melahirkan tanggal 21 Desember, saya excited karena bulan kelahiran kami bisa berturut-turut : November (abang), Desember (baby), Januari (saya) dan Februari (Athar). Saya pun senyum-senyum karena keren yaaa bulan lahir kami berurutan. Tapi, dokter mematahkan impian saya itu dengan mengatakan bisa lahiran sesuai HPL 25 Desember – 15 Januari, dan telah dipilih tanggal 4 Januari sesuai kontrol terakhir saya senin kemarin (28 Desember). Dokter sudah memberikan surat rujukan, booking kamar operasi untuk hari senin 4 Januari pukul sembilan pagi. Pulang dari dokter, saya pun langsung mengabari abang. Seperti biasa, kami menentukan tanggal kedatangan abang dan mengecek tiket. 1 Januari kami pilih untuk kedatangan abang, tapi tiket belum dipesan. Kata abang, nanti dulu takutnya ada perubahan atau gimana.

Hingga tanggal 29 Desember..

Paginya saya bangun langsung bikin susu Athar dengan harapan biar dia tidur agak lama dan saya bisa menyelesaikan tulisan. Tapi, Athar malah bangun dan temenin saya ngetik. Selagi ngetik, kok perut bagian bawah terasa nyeri banget. Saya berasumsi mungkin posisi duduk. Tapi, kok sakitnya gak hilang-hilang, ya. Keringat dingin pun mengucur. Sebelum jam sembilan pagi, tulisan saya (baca : Mengakhiri Kehamilan Bukanlah Perkara Mudah) sudah kelar publish dan ada beberapa artikel untuk Rocking Mama selesai saya draft-kan. Lega!

Saya pun minum obat penghilang kontraksi. Tapi, gak mempan! Saya coba jalan ke tukang sayur dan beli es cendol. Selagi milih sayur, saya tiba-tiba pusing. Mas tukang sayur pun nyuruh saya pulang cepat, takutnya mau lahiran karena saya bilang perut sakit.

Fix, pukul sebelas siang saya minta diantar ke rumah sakit! Kontraksi sudah interval 10 menit. Rasanya? Aduhaaaiiiiiiii SAKIT!!!!! Bawaan anak perempuan sakitnya itu perut bagian bawah, rasanya kayak ada yang remas gitu.

Tiba di rumah sakit langsung ke lantai dua di LDS. Menurut bidan, bayi sudah di panggul kedua tapi belum ada bukaan. Mak jaaang, (((belum ada bukaan)))! Pengen pingsan. Ternyata level panggul itu ada empat, kalo udah di panggul keempat, tinggal ngedan aja, bayi pasti keluar.

Telponan dengan dokter kandungan dan anak plus booking ruang operasi, fix pukul tiga sore! Saya langsung mengabari abang. Saya bisa bayangkan paniknya abang karena lagi mumet juga sama tutup buku dan akhir tahun.

Putri Yang Kami Tunggu

Saya pun mulai panik karena dokter kandungan masih belum tiba, beliau PNS di salah satu rumah sakit di Tondano (jarak Tondano – Manado, sekitar 1,5 jam). Akhirnya, saya pun masuk ruang operasi pukul empat sore.

Ruang operasi gak horor kok, suster, bidan, dokternya baik semua. Kembali lagi saya dengar dokter Tonny belum tiba. Amboii, dokterku ini, hikz!

Di ruang operasi, ada sekitar empat lapu besar di atas saya. Lalu, dokter Joddie (anastesi) mulai meminta saya untuk melengkungkan tubuh karena akan disuntik anti nyeri. Blass.. Seketika nyeri yang mulai 5 menit sekali itu hilang!

Samar-samar saya dengar ketika suster mau pasang kateter, dia berujar, “Kepala bayi udah di bawah banget nih, dok!”

*keringat dingin makin deras*

“Halo, Ran.. Lah katanya mau tanggal empat, kok tiba-tiba udah sekarang?” ujar dokter Tonny.

Alamak jang, masih sempet becandain saya si dokternya. “Ya, gimana dong dok,” balas saya pasrah.

“Ya udah, ini kita mau mulai ya.”

Seorang suster menyela, “Dok, bentar.. Dokter anak belum datang!”

HASTAJAAAAHHH…

“Lagi macet katanya di Golden,” sahut suster lain yang disambut tawa.

Fyi, Golden itu supermarket di samping rumah sakit.

Gak lama terdengar musik dari handphone atau entah apa itu. Ya ampun lagu galau! Saya pun bercandaan dengan dokter Joddie.

“Dok, kok lagu galau sih?”

“Tau tuh dokter Tonny,” ujarnya sambil ketawa.

Di manapun, dokter anastesi itu baiiiik banget ya sama perhatian. Dikit-dikit ajak saya ngobrol, pokoknya apapun yang bikin saya rileks.

Sekitar pukul 4.45 operasi dimulai. Terdengar klontang-klontang dari alat operasi entah itu pisau, gunting atau apalah. Sebelum memulai operasi, seorang suster membacakan personil yang ada di ruang operasi.

“17.01 … 17.02.., ya!”

Tedengar desahan napas lega dari dokter dan para suster, lalu diiringi tangis pertama dari bayi yang baru saja keluar dari rahimku.

“17.02.. Bayi perempuan,” ujar seorang suster.

Selamat Datang Kei!

welcome kei

Mata saya seketika panas mendengar tangisnya. Sungguh hadiah penghujung tahun yang berharga bagi keluarga kecil saya. Putri yang kami tunggu, yang kami jaga karena banyak perjuangan dibaliknya.

Doa-doa senantiasa kami rapal untuk kebaikanmu, Nak. Semoga kami bisa menjadi orangtua yang memberikan terbaik untuk Athar dan Kei. Kami selalu mencintai kalian berdua.

 

36 Comments

  1. Istiadzah Rohyati
    • ranny
  2. pipit
    • ranny
  3. ranny
  4. ranny
  5. ranny
  6. ndop
    • ranny
    • ranny
  7. Fida
    • ranny
    • ranny
    • ranny
  8. Ety Abdoel
    • ranny
  9. echaimutenan
    • ranny
    • ranny
    • ranny
  10. Rani Yulianty
    • ranny
    • ranny
  11. rahmiaziza.com
    • ranny
  12. Indah Juli
    • ranny
  13. CaDaS
    • ranny

Reply