Sebaris Rindu

Dua minggu. Waktu yang disarankan dokter untuk diam di rumah, tidak keluar, tidur teratur, makan dan minum obat. Membosankan!

Tiap pagi dan sore, jendela ini selalu menjadi teman setiaku menikmati hangatnya mentari pagi, udara yang sejuk dan pendar jingga mentari petang hari sebelum dipeluk malam. Diam-diam, aku selalu membuka sebelah jendela kala pagi. Menopang dagu dengan kedua tangan, menutup mata sambil menghirup udara dan membiarkan sinar mentari membelai hangat wajahku. Aku menyukai sensasi ini. Seperti saat bertemu dengan lelaki pemilik Cupcake Shop, Shayan.

Mengingatnya selalu membuat rona di kedua pipiku. Paras timur tengah, lembut tutur kata, sikap salah tingkah ketika aku membayar sangat kurindukan. Berada di dekatnya, membuat perut ini serasa ada orkestra kupu-kupu. Sorot lembut mata bulat di balik kacamatanya adalah yang paling kurindukan. Seakan ada oase di matanya, membuatku nyaman, memiliki sesuatu yang kucari selama ini.

Aku sudah lupa bagaimana rasanya merindu, hingga bertemu dengannya. Bertahun aku menenggelamkan diri dengan rutinitas kerja, menghindari perjodohan teman maupun keluarga. Tak pernah terpikir sebelumnya, tingkah acuh dan terkadang salah tingkah pemilik Cupcake Shop itu mencuri perhatianku. Bagaimana bisa rindu ini hadir tanpa ada banyak kata yang terucap? Bagaimana bisa rindu ini hadir hanya sekedar tatapan mata, saling tukar senyum dan percakapan singkat di sela akhir pertemuan? Ah, semesta pintar sekali kamu mempermainkan hati ini!

Tiga belas hari. Kulirik kalender di dinding seraya mencoret tanggal hari ini dengan silang besar berwarna merah. Selama tiga belas hari ini pula aku tersiksa akan rindu yang menghantuiku setiap detik dan tersiksa akan obat-obatan yang harus rutin diminum tiap harinya.

“Cmon, semangat Andrea! Satu hari lagi dan kamu akan bertemu dengannya!” batinku.

Senja kali ini sedikit berbeda, biasanya semburat oranye kemerahan menghias langit, tapi kali ini ada gradasi warna pink diantaranya. Ah, senja, selalu mengingatkanku akan lelaki timur tengah itu. Saat senja pula, aku bertemu dengannya.

Kupasang earphone di telinga. Melipat kedua kaki di kursi. Angin sepoi-sepoi beradu di balik tirai kamar, menyentuh lembut kulitku. Kupejamkan mata, menikmati suara merdu yang tengah mengalun, seakan menjawab segala resah akan rindu.

I can’t believe it

You’re a dream coming true

I can’t believe it

How I have fallen for you..

**

Credit image : Zoran Stojanovic

Thanks a lot my Z, give me a permission to use one of ur great candid image. ^.^

Read 1st part in here

2nd part in here

4 Comments

    • ranny

Reply