Gadis Anggrek

Takkan pernah kulupa pertemuan pertama kita di petang itu. Kamu menggenggam sebuah buku dengan setangkai anggrek di dalamnya. Kursi di sudut ruangan kafe menjadi pilihanmu untuk menikmati secangkir teh, sepotong red velvet sambil sesekali matamu menatap gelisah ke luar jendela. Lalu, tatapan itu akan mematung saat langit berubah jingga dan mentari berwarna kuning keemasan. Setelahnya, kamu akan merapikan buku yang tak dibaca, mencium anggrek lalu meletakkannya kembali di dalam buku. Dengan langkah kecil, kamu mendekati mejaku menyodorkan selembar uang berwarna biru.
Setelah hari itu, kamu menjadi pengunjung tetap kafeku dengan kursi spesial di sudut ruangan. Berkali lidah ini ingin menanyakan namamu, tinggal di mana, menunggu siapa dan hal lainnya, tapi selalu kelu tiap kali melihat dekik di kedua pipimu.

Sebulan berlalu. Kita masih bertukar senyum dan ucapan terimakasih. Rasa penasaran semakin membuncah. Aku benci melihat tatapan sendumu tiap kali mentari jatuh di balik gedung depan kafe. Ingin kuhapus luka di matamu sembari memelukmu erat.

17.00
Harusnya kamu datang lima menit lalu seperti biasanya, tapi lonceng pintu tak juga menunjukkan kedatanganmu. Aku resah. Setengah jam berlalu dan mentari mulai luruh perlahan.
Aku berjalan menuju kursimu. Duduk di tempatmu dan melakukan hal serupa denganmu.
Kuhela napas panjang dan menghembuskannya dengan kesal. Mentari senja tertutup awan kelabu. Mataku tiba-tiba menatap sesuatu di balik kotak kayu yang berisi cream dan gula. Ada sehelai bunga anggrek di baliknya. Mungkin milikmu.

Angin yang masuk di sela jendela, menghangatkanku. Aku tersenyum. Kuambil sehelai anggrek itu dan menyimpannya di saku. Besok, akan kuberikan padamu. Aku takkan ragu lagi untuk menanyakan namamu dan segala hal tentangmu.Rindu sehari tak melihatmu sudah cukup menyiksaku.
(R)

1st part

One Response

Reply