Prompt #17 : Bad Day

Hari ini sungguh melelahkan bagiku. Pukul 8 pagi, aku sudah di rumah sakit untuk shift pagi. Selesai pukul 2 siang, tak pulang ke rumah, aku langsung menuju STIKES untuk menghadiri ujian skripsi. Ada 2 mahasiswa kebidanan bimbinganku yang akan ujian. Tiba di rumah, petang telah berganti malam.

Aku merebahkan diri sejenak di sofa depan tivi. Mama menghampiriku sambil membawakan piring berisi apel.

“Ada mahasiswa ujian yah?” Tanya mama sambil membuka tas berukuran sedang yang aku bawa pulang.

“Iyah, Ma. Ada 2 orang mahasiswaku ujian. Sungguh menyebalkan mahasiswa jaman sekarang. Dengan mudahnya mengcopy paste artikel dari google untuk bahan skripsi. Setelah ditanya, mereka bingung jawabnya. Padahal sudah aku peringatkan, jangan sekali-kali mengcopas artikel di googel tanpa tau keabsahannya. Sudah aku kasih tau text book mana saja yang bisa jadi rujukan. Tapi, mereka ngeyel.” Selorohku panjang lebar.

" Jadi dosen harus sabar, nak.”

“Sabar terus, bisa-bisa kena stroke saya, Ma. Coba mama bayangin, ditanyain oleh dosen penguji, alat apa untuk mendengar detak jantung bayi. Dijawabnya stetoskop. Astaga, memalukan, Ma!”

“Emang apa alat untuk dengar detak jantung bayi?”

Doppler, Ma.”

Mama pun tertawa mendengar ceritaku.

Menjadi dosen untuk ukuran jaman sekarang ini harus pintar dan melek teknologi. Aku harus bisa mengendalikan amarah dalam menghadapi mereka. Wifi di ruang kelas digunakan hanya untuk facebook-an, tugas rumah bahkan bahan skripsi dicopas mentah-mentah dari google. Gimana mau pintar kalo tingkahnya seperti itu.

Ponselku berdering.

“Halo.”

“Yun, kamu lupa yah hari ini janjian ma aku?”

“Eh, No..Iyah, lupa.”

 “Aku udah 2 jam di cafe menunggumu. Ini udah kesekian kali kamu lupa dengan janji kita. Mending kita sudahi hubungan ini. Aku udah gak tahan. Maaf.”

-klik-

Rasa sesak menelusup dalam dada mendengar kalimat terakhir dari Reno, kekasihku. Iniliah resiko yang harus aku terima atas profesiku sebagai dokter dan dosen. Pahit memang, tapi aku yakin, aku bisa menjalaninya.

2 Comments

  1. Ayu Citraningtias

Reply