#RandomStory : Konsep Pernikahan

“Konsep sebuah pernikahan bagi kamu itu seperti apa?”

“Saya cuma bisa jawab umum : sakinah mawadah warahmah. Sakinah itu tujuannya. Mawadah warahmah, ini modal. Suami istri sudah dibekali secara lahir : mawadah warahmah. Menjadi dasar manusia. Tinggal bagaimana mengolah antara suami dan istri menuju sakinah. Itu saja. “

“Dengan kata sederhana mawadah = magnet. Suami dan istri terus menyatu. Warahmah = kasih sayang. Udah.”

“Lalu sakinah?”

“Sakinah itu bukan suatu keadaan tapi tujuan. Ini yg tidak pasti. Makanya kalau berdoa minta sakinah.”

“Mengapa tidak pasti?”

“Karena ada ngambeg, kesel, dan lain-lain.”

“Banyak yang tidak paham konsep sakinah, mawadah, warahma termasuk saya. Padahal ini bisa dikatakan landasan ya dalam memulai rumah tangga.”

“Mawadah warahmah ini sudah dikasih Tuhan. Sakinah kan sangat panjang, nanti sampai di surgaNya. Banyak suami istri yg tidak bisa merasakan sakinah.”

“Jangankan sakinah, mawadah dan warahma barangkali juga tidak. Makanya saya menyukai mendoakan : semoga pernikahannya berkah dan membawa kebaikan. Karena berkah itu datangnya dari Allah, sedangkan kebahagiaan itu kita cari.”

“Menurut saya malah kebalik. Jadi manusia itu sudah dibekali mawadah warahmah untuk menuju sakinah.”

“Sudah dibekali tapi tidak tahu memanfaatkannya.”

“Itu cuma teori menurut saya lho.”

Di atas adalah selentingan percakapan di ruang digital dengan sahabat saya. Percakapan yang mungkin terasa berat.

Pernah nggak kalian berpikir tentang konsep pernikahan sebelum atau sesudah menikah?

Setelah melalui perjalanan, saya pun kembali memikirkan konsep pernikahan. Harusnya ini menjadi awal setiap orang yang ingin melangkah ke jenjang berikutnya dalam hidup.

Sebuah konsep yang akan menentukan arah perjalanan pernikahan. Jadi, tidak sekedar saya cinta kamu, kamu cinta saya, duit ada, skuuyyy lah nikah.

Pernikahan itu tidak mudah seperti di novel atau drama India maupun Korea. Tidak sayang.

Bagi saya konsep adalah dasar, akar berpikir kita. Perlu adanya kesamaan pandangan dalam menyusun konsep.

Sama halnya ketika kita membuat usaha, konsep usaha itu adalah dasar. Bagaimana nantinya usaha itu akan berjalan dimulai dari konsep.

Benar nggak sih?

Saya termenung dengan kalimat sahabat saya yang membahas sakinah,mawadah, warahma. Sebuah doa yang sering kita ucapkan ke pengantin namun saya yakin masih sedikit yang bisa memaknainya.

Sakinah berasal dari bahasa arab yang artinya adalah ketenangan, ketentraman, aman atau damai. 

Mawaddah berasal pula dari bahasa Arab yang artinya adalah perasaan kasih sayang, cinta yang membara, dan menggebu. Mawaddah ini khususnya digunakan untuk istilah perasaan cinta yang menggebu pada pasangannya. Dalam islam, mawaddah ini adalah fitrah yang pasti dimiliki oleh manusia. 

Kata Rahmah berasal dari bahasa arab yang artinya adalah ampunan, rahmat, rezeki, dan karunia. Rahmah terbesar tentu berasal dari Allah SWT yang diberikan pada keluarga yang terjaga rasa cinta, kasih sayang, dan juga kepercayaan.

Keluarga yang rahmah tidak mungkin muncul hanya sekejap melainkan muncul karena proses adanya saling membutuhkan, saling menutupi kekurangan, saling memahami, dan memberikan pengertian.

Dalam agama Islam sudah sangat jelas ya dipaparkan dengan detail tentang hal-hal ini. Kembali ke kita apakah mau mencarinya atau tidak.

Saya tertarik dengan sebuah artikel di muslim.or.id yang membahas tentang menjalin cinta abadi dalam rumah tangga. Saya kutipkan ya bagian yang bikin saya nyess.

Seorang kepala keluarga yang benar-benar mencintai dan menyayangi istri dan anak-anaknya hendaknya menyadari bahwa cinta dan kasih sayang sejati terhadap mereka tidak diwujudkan dengan hanya mencukupi kebutuhan duniawi dan fasilitas hidup mereka. Akan tetapi yang lebih penting dari semua itu pemenuhan kebutuhan rohani mereka terhadap pengajaran dan bimbingan agama yang bersumber dari petunjuk Al-Quran dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam hidup itu perlu keseimbangan termasuk dalam pernikahan. Menyayangi (saya memilih frasa menyayangi karena konon cinta bisa terkikis seiring waktu :D), itu tidak sekedar materi namun ada juga di sisi spiritual.

Inilah yang menjadi tugas lumayan berat, bagaimana saling membersamai dalam mendapatkan ridhoNya. Bagaimana bersama-sama belajar agama terlebih untuk anak-anak sebagai bekal dasar mereka.

Mungkin terdengar klise, tapi ini dibutuhkan. Jiwa kita membutuhkan sisi spiritual sebagai ‘nutrisi’ terbaik agar bisa menjalani hidup dengan lebih berkah, ada ketenangan di dalamnya.

Saya ingin mengutip kalimat sahabat, “Jangan bergantung selain Tuhan, kata pak Ustad.”

Lalu di hari lain dia mengatakan, “Jadikan sholat itu menjadi kebutuhan utama. Karena ketika kita menjadikannya kebutuhan maka akan kita lakukan dengan hati lapang.”

Pernikahan begitu kompleks. Mengutip kata sahabat saya : namanya relasi dua orang yah nda always rainbows and butterflies kan yah.

Banyak yang menyerah karena tidak sanggup meluruskan konsep pernikahan, komunikasi yang ruwet. Namun tidak sedikit juga yang berhasil mempertahankan, saling membersamai menuju kebaikan-kebaikan.

Jika kita memahami dengan baik konsep pernikahan, insya Allah akan saling mengingatkan dalam kebaikan, bekerja sama dalam rumah tangga, mengurus anak dan bersama-sama berproses meningkatkan ibadah. Insya Allah bisa saling melalui segala kerikil dalam perjalanan.

Ini tentunya sekedar buah pemikiran dari saya dan sahabat saya. Karena kembali lagi tiap orang memiliki konsep pernikahan berbeda.

Manado, 13 Mei 2022

9:16

Referensi : https://dalamislam.com/hukum-islam/pernikahan/keluarga-sakinah-mawaddah-wa-rahmah

One Response

Reply