#RandomStory : Celah Untuk Diri Sendiri

Saya tipikal orang ketika kerjaan nggak beres, nggak sesuai jadwal, sesuai saya mau, bawaannya kesal.

Dan suka feeling guilty.

Tidak menyalahkan pandemi, tapi memang ketika masa ini datang semua serba kacau.

Kacau dalam artian, mesti menyesuaikan ritme belajar online. Mengubah seluruh jadwal harian (masak-nyuci-kerja), belum lagi ada waktuwaktu di mana Athar mesti setoran sehabis subuh.

Apa kabar si nona Kei?

Kurang lebih sama juga, mesti menyetorkan video-video.

Sungguh menjadi Mamak di masa pandemi ini butuh keseimbangan di segala lini.

Ada kalanya ketidakseimbangan terjadi, bikin saya kesal terhadap diri sendiri.

Saya tidak terlalu memusingkan omongan orang, tapi saya lebih merasa down dengan diri sendiri atas ekspektasi yang tidak sesuai.

Ambil jeda untuk me time, I did it.

Tapi kadang kala kebablasan terlalu menuruti mood. Akhirnya jadwal pun kacau.

Apa ya, diri ini yang membuat kacau.

Seringkali ada suarasuara, “Udah deh, Ran.”

Tapi, seringkali pula saya deny it. Rupanya setan terlalu menguasai.

Hari ini sepertinya saya berada di titik puncak atas semuasemua yang terjadi.

It’s enough. I must change.

Saya butuh celah untuk diri sendiri.

Sebuah celah di mana saya : mesti menurunkan ekspektasi, mengurangi perfeksionis.

Menulis ini seperti catatan, bahwa saya pernah ada di fase yang entah apalah mau diistilahkan.

Sore tadi, selesai mandi saya melakukan seperti yang sering saya baca dan dichat sama sahabat : afirmasi terhadap diri sendiri.

I said to myself (not so loud, but i told it) : Ranny, kamu udah kelarin jadwal anakanak hari ini, tugas kakak done, pun dengan Kei. Kamu bisa, kamu bisa, kamu hebat.

After it, I cried.

No, it’s not period. Entahlah mungkin ini titik balik harus memberi celah untuk diri sendiri.

Doakan saya.

P.S

Untuk Nyonyah di Bogor, yang selalu memberikan ‘cahaya’ di tiap chattingan saya yang random. Gomawo. <3

One Response

Reply