Long Distance Marriage, Yay or Nay?

Tak pernah terpikirkan olehku akan mengalami yang namanya Long Distance Marriage (LDM). Tidak sama sekali.

Saya pacaran dengan Abang selama 9 tahun (tentunya tidak mulus-mulus amat, laah :D) pun jarak jauh, jadi saya bertekad, kelak jika kami menikah saya tak mau jarak jauh lagi! Saya pun memilih resign dari pekerjaan yang sedang menanjak demi ikut Abang yang tugas di Solo.

Ternyata, cobaan itu datang. Beberapa kali saya pulang ke Manado karena menyangkut kondisi saya. Jarak jauh pun tak bisa kami hindari. LDM pun menjadi kesepakatan kami berdua sebagai solusi atas masalah yang kami hadapi. Sedih? Jangan tanya lah. Keadaan itu berlangsung selama 2-3 bulan. Ketika kami sudah bersama lagi, kembali kami di hadapkan dengan kondisi yang membuat kami LDM (lagi). Kali ini, tak tanggung-tanggung 7 bulan! Gosh..

β€˜Ran, kan banyak pasangan lain yang LDM bertahun-tahun, kok kamu cuma segitu saja udah lebay?’

Bukan masalah lebay, yang namanya berpisah dengan suami ataupun istri apa enaknya? Tapi, kami harus menghela napas panjang karena itu adalah solusi terbaik. Masa bodoh dengan omongan orang. Di sudut hati, saya pun menangis karena jarak ini, tapi satu sisi saya harus bisa mandiri, harus tegar dengan keputusan ini.

LDM adalah tren zaman ini?

LDM

Melihat kencederungan pasangan zaman sekarang ini di mana suami dan istri bekerja, LDM adalah solusi demi mengembangkan karir atau kesempatan memperoleh penghasilan lebih tinggi. Jarak pun tak menjadi masalah karena kecangggihan teknologi dan fasilitas seperti harga tiket yang murah. Pada umumnya, yang melatarbelakangi masalah LDM adalah materi. Suami mendapat pekerjaan, gaji dan fasilitas bagus di perusahaan X yang membuat dia harus berpisah dari anak-istri, LDM adalah solusinya. Biar kata capek menjadi penglaju dari kota X (tempat kerja) ke kota Y (kota asal), tak apalah, demi sebuah impian masa depan yang tidak dimengerti oleh orang lain.

Tapi bagi saya, sehebat apapun teknologi, tak ada yang bisa menandingi sentuhan hangat seorang istri atau suami. Setuju? Iya yaaa… Saya, tak bisa memungkiri, terkadang saya ini suka kebangun tengah malam dan susah tidur. Biasanya kalau ada suami di samping, saya sering peluk dia dan dia refleks kebangun, menanyakan kenapa, lalu mengelus rambut dan menciumku. Tak lama, saya pun tertidur. Magis bukan? *hela napas panjaang*

Hati-hati dengan orang ketiga!

LDM

Jika jauh dari pasangan, celah untuk dekat dengan orang lain akan terbuka

Saya setuju dengan ungkapan dari artikel yang saya baca di Femina, bukan berarti saya mengalaminya. Tak salah menurut saya. Jarak yang jauh ditambah kurangnya perhatian, lalu muncul lah si orang ketiga ini yang bisa saja datang dari lingkungan kantor ataupun media sosial. Tentu saja, tiap hari bertemu dan chatting, pasti menimbulkan getar-getar belum lagi jika pasangan tidak perhatian. Wassalam deh. πŸ™

Menurut artikel yang saya baca, ada satu istilah yang namanya proximity – di mana kita cenderung secara emosional merasa dekat dengan seseorang yang sering kita temui- dapat terjadi dan bisa berakhir dengan perselingkuhan. *amit-amiiitttt dah* >.<

Tapi bagi saya, yang namanya selingkuh tuh, mau jauh apa dekat pun bisa saja terjadi.

Tips agar hubungan LDM awet

LDM

  1. Perhatian

Sekecil apapun perhatian itu, TETAP HARUS kita berikan. Jangan pernah absen untuk menelepon, menanyakan kabar, mengingatkan makan dan sholat. Mosok sewaktu pacaran rutin kita lakukan tapi saat nikah jadi luntur. Jangan dong! Laki-laki itu suka akan segala macam bentuk perhatian. Eh, perempuan juga *nunjuk diri sendiri*

2. Jika diperlukan, buatlah kesepakatan tertulis nonformal yang ditandatangani kedua belah pihak. Hal ini untuk menghindari saling menyalahkan atas kondisi jarak jauh.

3. Buat kesapakatan di awal mengenai keungan. Apapun cara pengelolaannya, yang terpenting disepakati peran dan tanggung jawab masing-masing.

4. Bila kondisi memungkinkan, lakukan kunjungan ke tempat tugas pasangan atau pulang ke rumah.

5. Binalah komunikasi dan kedekatan yang cukup intens dengan orang yang bisa dipercaya di tempat tinggal barunya. Agar, bila satu saat Anda membuthkan pertolongan atau informasi, akan mudah didapatkan.

6. Sebelum melakukan hubungan jarak jauh, persiapkan pasangan untuk bisa bercinta jarak jauh. *

Ada juga sih, yang kadang kami lakukan. Hal kecil yang membuat hubungan ini awet. Seperti chatting di bawah ini.

Long Distance MarriageMelakukan hal-hal kecil seperti ini, makin cinta deh. Trust me!

Terkadang, yang sebal itu tetangga yang kepo.

Ih kenapa ya si Ranny pulang? Jangan-jangan berantem, abis dikit-dikit pulang.’”Β – Deuh Plis deh! Urus saja urusanmu!

Ranny kok belum pulang juga sih?” – Β Masalah buat lo?!

Kok suami jarang jenguk sih?” – Β Situ mau bayarin?

Athar gak kangen ya sama Papanya?” – Emang kudu dibilang ya?

Nanti Papa Athar jemput saat pulang?” – Mau tahu apa mau tahu bingits?

Hahaha itulah yang saya alami selama kurang lebih 7 bulan di sini. Mangkel? Jangan tanya deh.

LDM itu butuh mental kuat, sabar dan keuangan kuat. Harus bisa cuek dengan nyanyian tetangga yang menyebalkan itu. Apapun yang kita lakukan, toh ada dasarnya, tidak semerta lakukan gitu. Sebelum melakukan hubungan jarak jauh, ada baiknya mempertimbangkan segala resiko. If you ready with it, then go!

Jika ditanya enak apa nggak LDM? Jawaban saya, TIDAK ENAK! πŸ™‚ Hanya saja ketika menjalaninya dibikin ENAK πŸ˜‰

**

*) Sumber : Femina XIII

32 Comments

  1. Nathalia DP
  2. suria riza
  3. ndop
  4. Arifah Abdul Majid (@arifah_feibiii)
  5. Henny
    • ranny
  6. ranny
  7. Titis Ayuningsih
    • ranny
    • ranny
  8. Muna Sungkar
    • ranny
  9. Heni Puspita
    • ranny
  10. yulia
    • ranny
  11. RedCarra
    • ranny
    • Hilda Ikka
  12. Liza
    • ranny
  13. LIdya
    • ranny

Reply