Ibu Tiri (Tidak) Jahat

Tulisan ini saya buat selepas chattingan malam dengan sahabat-sahabat.

Salah satu sahabat saya, Gita, menikah dengan seorang duda dua tahun silam. Saat menikah, suaminya membawa anak dua. Saat berpacaran, dia memang sudah dekat dengan anak-anaknya. Saya tahu dia mencintai kedua anak itu selayaknya anak sendiri. Ketika menikah, dia menghadapi satu masalah klasik khas ibu tiri. Ya, cap seorang ibu tiri.

Sebenarnya, ini hanyalah buah kekhawatirannya tapi patut juga jadi bahan pembelajaran bagi kita. Dan, malam itu akhirnya dia benar-benar mencurahkan uneg-unegnya.

Gita : Entah kenapa saya agak cemas kalau Michelle baca buku dongeng princess gitu kayak cinderella, snow white, aurora, rapunzel dan sejenisnya. Kenapa sih kalau yang namanya ibu tiri itu digambarkan evil skali? Huh.

Me : ngggg

Gita : Di dunia nyata, memang galak sih ibu tiri tapi gak jahat. Yang namanya ibu-ibu pasti bawel, pasti suka nyuruh-nyuruh. Waktu kecil juga sampai besar kita sering kena marah, mama ngomel.

Gita : Terus pernah kan disuruh mama cuci piring, cuci baju, nyapu, ngepel, masak? Kenapa kalau ibu tiri yang ngomel, ibu tiri yang suruh anak tirinya bekerja bantu-bantu di rumah, kesannya kok jahat sekali?

Gita : ckckck.. Emosi.. Hahaha.. Neh dongeng diceritakan turun temurun dari abad pertengahan, begitu saja ceritanya kalau ibu tiri itu jahat.

Gita : Keingat dulu kalau saya nakal, mama bakal ngomong ‘kalo kamu nakal terus nanti mama pergi trus ganti sama ibu tiri, kamu suka?’

Gita : Terus saya akan ketakutan dan gak jadi nakal lagi.

Sampai curhatan di sini, sahabat saya benar-benar khawatir. Selama dua tahun menikah, baru kali ini dia curhat segini panjang tentang posisinya. Kami pun agak berhati-hati menanggapi, harus bisa berada di tengah.

Saya pun berpikir, benar juga ya, stigma yang berkembang di masyarakat itu : Ibu Tiri itu JAHAT. Semua mungkin bermula karena cerita-cerita dongeng itu. Mungkin saja awal mula ide ceritanya tidak maksud mendiskreditkan para ibu tiri, tapi pada kenyataan hal itu tertanam benar di benak. Stigma yang harus diubah!! Dan mungkin saja, ada kejadian di dunia nyata ibu tiri jahat tapi tak harus kita generalisasi semua ibu tiri jadi jahat dong. Kalaupun ada ibu tiri yang suka menyiksa anaknya, itu berarti dia bermasalah dengan kejiwaan.

Memiliki anak bawaan dengan karateristik yang berbeda membuat seorang ibu tiri harus benar-benar memahami apa mau mereka. Bagaimana cara menangani si abang yang tukang gaya, atau si Michelle yang terkadang susah makan. Menjadi orangtua baru yang menyambung pola asuh anak tak mudah loh. Membuat pola baru saat anak umur enam tahun ke atas lebih sulit ketimbang ngerjain soal matematika. Harus ada kerja sama dengan suami, belum lagi ditambah punya bayi lagi, makin kompleks lah. Bukan berarti pola asuh sebelumnya salah, tidak, ada beberapa hal yang perlu penyesuaian dengan pola baru yang ingin diterapkan.

Saya yakin, semua ibu di dunia ini mencintai anak-anaknya, termasuk ibu tiri. Tapi, terkadang ada sesuatu di ibu tiri itu yang mengganjal. Seperti mau menyuruh ini itu padahal maksudnya baik tapi mereka segan takut dicap bla bla bla, kalau di anak sendiri rasanya leluasa menyuruh ini itu. Dan masalah omelan itu termasuk sensitif, tak jarang jika ibu tiri yang ngomel pasti akan langsung dicap JAHAT, tapi tak ada yang tahu kenapa sebab si ibu ngomel.

“Kalau diibaratkan, omelan itu bagaikan mendengarkan musik. Kalau ibu kandung yang ngomel, bagaikan mendengarkan musik dari laptop. Tapi, kalau ibu tiri yang ngomel, bagaikan mendengarkan musik dari laptop tapi disambung ke speaker full volume, streo pula.” –Gita-

cinderella02image : ibu tiri cinderella

Di luar sana pasti banyak Gita, Gita , Gita yang mengalami hal sama. Saya sebagai sahabatnya merasa wajib menuliskan ini, bahwa kita tak boleh menjustifikasi seseorang hanya karena statusnya itu. Buka mata lebar-lebar, seorang ibu punya naluri yang baik dan tak ingin anaknya celaka. Gita yang kukenal itu, sangat menyayangi anak-anaknya, kalau gak ngapain juga dia repot bangun subuh untuk bikin sarapan anak-anak, mau mengurus mereka. Dan memang butuh waktu bagi seorang ibu tiri untuk beradaptasi dengan sifat anak bawaan, lalu membentuk pola asuh baru.

Sebagai seorang penulis, saya juga sedih karena dongeng anak itu sangat menggiring opini dan pembentukan pola pikir. Sudah saatnya, menuliskan dongeng baru. 😉 Atau bisa saja kita membacakan dongeng lain untuk anak, bisa juga dongeng itu tapi kita harus menjelaskan di akhirnya kalau itu sekedar cerita saja. Dan bagi kita, cobalah jangan cepat menghakimi seseorang tanpa tahu sebab terlebih dulu. Rasanya tidak semua perempuan, ya, bisa menjadi ibu tiri, beban mereka menjadi dua kali lipat dibanding kita.

Untuk para ibu tiri, jangan pernah lelah yah untuk terus berusaha menjadi ibu yang terbaik karena kami juga melakukan hal yang sama. Tak usah khawatir dengan status itu, yakin bahwa anak-anak juga bisa melihat ketulusan kita sebagai seorang ibu. Tetap semangat!! ^.^

**

Image : Ibu tiri cinderella itsdisneyworld.blogspot.com

4 Comments

  1. 3d
  2. Ety Abdoel
  3. Nathalia DP
  4. ndop

Reply