Email yang Berbalas

Jalanan mulai lenggang saat aku meninggalkan area kantor. Temaram lampu jalan yang bersinar kekuningan berbanding terbalik dengan wajah langit yang hitam pekat. Aku menyetir dengan pelan, sambil mencoba merelaksasi pikiran dari keruwetan kerjaan seharian ini.
Lagu di cd mobil,menghentakku dari lamunan sejenak.

Far away..The ship is taking me far away..Far away from the memories..Of the people who care if I live or die..
Starlight..I will be chasing the starlight..Until the end of my life..I don’t know if it’s worth it anymore..” (Starlight – Muse)

Alunan suara Matthew Belamy yang sangat berkarakter, pas membawakan lagu Starlight ini. Aku menggigit bibir bawah, berusaha meredam rasa yang tiba-tiba berkecamuk dalam dada.Potongan ingatan melintas dengan cepat dipikiranku, tanpa meminta izin terlebih dahulu. Lagu ini sering aku putar saat lagi berdua dengannya, yang setia menemaniku menghabiskan seperempat malam bercakap lewat ponsel. Kuedarkan pandangan, mataku tertumbuk pada sebuah bangunan berwarna orange dengan hiasan lampu-lampu yang membentuk kata “Cafe d’Orange”. Aku menghembuskan napas berat dan membuang muka, rasanya seperti tersayat silet, sakit. Kenapa hal-hal kecil ini seakan sengaja berkolaborasi membentuk sebuah ingatan akan dirimu.  Kulirik blackberry yang tergeletak di kursi samping, hmm mati, apakah ini penanda bahwa aku harus membalas emailmu? Ingin secepatnya sampai dirumah, mandi dan mengademkan diri dikamar.
Hari ini bener-bener melelahkan.

Aku tak berselera makan malam ini, hanya ingin ngemil saja.
“Wi, gak makan?” Tanya mama yang lagi asyik nonton sinetron kesayangannya.

“Gak ma. Lagi males.” Jawabku sambil mengubek-ubek isi kulkas.

“Oh ya udah, tuh ada panada sama roti, dikasih Ma’Ti tadi sehabis magrib. Ada juga apel di kulkas tuh.” Sahut mama tanpa mengalihkan pandangan dari tv.

“Waaahhh, boleh tuh ma. Buat Wi aja yah panada nya. Pasti enak nih.” Kataku seraya ambil 2 buah panada, apel sama teh kotak. Semuanya dibawa ke kamar.

Salah satu tempat favoritku adalah kamarku. Duduk di karpet yang penuh dengan bantal-bantal kecil, sambil main laptop, utak atik blackberry, sungguh sebuah kenikmatan sederhana yang berharga.
Ingatanku melayang ke email yang aku terima beberapa hari lalu. Kenapa hanya ngirim email? Tidak telpon atau sms? Ahhh entahlah, sikapmu susah ditebak. Dan terkadang itu menyakitkan. Apakah aku yang terlalu berharap lebih akan hubungan ini? Sedangkan kamu hanya menganggap biasa saja. Apakah aku hanya seperti perempuan-perempuan yang hadir dan pergi begitu saja kah dalam hidupmu? Arghhhh pikiran itu sungguh menyiksaku.

Kenapa kamu tak mau telpon aku Bisma?! Pelit banget sih sama pulsa. Kalo kamu tidak telpon, berarti aku ini hanya teman biasa saja bukan. Tapi kenapa kamu mengirimkan email seperti itu, memberi sebuah harapan.
“Arrggghhhhh Bisma aku benci kamu.” Gumanku sambil mengacak rambut sendiri.
Aku terlalu gengsi untuk menelpon kamu. Kan kamu yang tiba-tiba menghilang, seharusnya kamu donk yang hubungin aku duluan. Kalo aku duluan, seperti aku yang terlalu bernafsu menguber-uber kamu, menuntut pertanggung jawaban.
Hah, pikiranku semakin liar. No..no..no.. Aku gak boleh terlalu berharap. Seorang Dewi Amba Ardhiona Putri pantang mengharap dan mengiba belas kasih seorang lelaki!

Terus aku harus gimana, perasaan dan pikiran ini sungguh menyiksaku, seperti dementor yang merebut kebahagiaan.
Sambil mengunyah apel, pikiranku memutar kembali potongan-potongan kejadian antara kita.
Hmm aku harus bisa, menjaga perasaanku, aku gak boleh membiarkan ini berlarut, aku harus mengambil keputusan.
Kuambil blackberry dan mulai mengetik email balasan.

Send Using : ardhionaputri@gmail.com
To : bisma@gmail.com
Subject : Hii too..

Hai kamu yang disana, apa kabarmu?
Sepertinya kamu terlalu larut dalam duniamu dan mengabaikan sekelilingmu, termasuk aku.
Itu hakmu memutuskan kontak secara sepihak, aku gak punya hak untuk marah, tapi aku punya tanya akan hal itu.
Aku hanya berharap semua akan cepat berlalu, kembali lagi seperti sedia kala, dimana kamu dan aku bisa duduk berdua menikmati tiap detik hari itu, karena keesokan hari, kamu dan aku harus berpisah bermil-mil jauhnya untuk kembali berjibaku dengan keruwetan kerjaan. Aku tidak pernah protes, jika hari-hari kita lebih banyak dilalui via ponsel. Aku menikmatinya. Karena tiap detik bersamamu adalah suatu cerita yang indah, walaupun harus mengalah dengan keadaan.

Apa aku terlalu berharap? Mungkin. Aku berharap,kamu tidak pelit pulsa untuk menghubungiku. 😉

Semoga kamu baik-baik disana. Jaga kesehatan yah. Dan semoga kamu punya pulsa untuk menghubungiku 😉 hehehe

Nite..

-Wi-

Kubaca lagi isi emailku. Tak apalah jika dia tau aku sedikit berharap dan rindu.
Kutekan tombol send. Semoga dia bisa langsung membacanya dan langsung telpon aku. Wajahku terasa panas, ahh keinginan yang terlalu tinggi. Tapi tak ada salahnya kan berharap.
Ku katupkan mata, sembari berdoa, semoga dia menelponku malam ini.

Malam sudah semakin larut dan tubuhku terlalu letih. Ku rebahkan tubuhku di tempat tidur, adem banget. Seketika aku terbang ke alam mimpi.

**

Ting.. Ada notifikasi masuk di Samsung Notesku. Email.
Aku terkejut melihat siapa yang mengirim email. Aku pikir dia tidak akan membalas emailku beberapa hari lalu, karena aku udah keterlaluan.
Tanpa sadar, bibirku membentuk sebuah senyuman. Ahh, aku rindu dia.

“Woi, kok ketawa sendiri. Ada yang lucu gitu?” Ujar Nara sambil mendorong bahuku.

“Gak ada.” Balasku sambil tersenyum.

“Naah kan, senyum lagi, udah gila lo man. Hayoo dapet proyek yah..” Sahut Nara sambil berusaha melihat layar Samsungku.

“Mau tau aja lo..” Kataku sambil simpan Samsungku di kantong kemeja.

“Yuk ah balik, kopi ku udah abis nih. Besok gw kudu rapat sama direksi.” Ujar Nara sambil merapikan laptop dan kabel-kabelnya.

“Oke..”

Aku gak sabar untuk sampai dirumah, membaca emailmu. Andai kamu tau, aku uring-uringan beberapa hari ini menunggu email atau telpon atau sms dari kamu. Aku merasa sangat bersalah, sampai tak sanggup untuk menelponmu, mendengar suaramu.
Malam ini begitu dingin, kopi tadi tak mampu menahan kantukku. Dan ku terlelap dalam mimpi di perjalanan pulang.

**

00.15 am

 

*FYI : panada adalah kue khas Manado, seperti pastel tapi lebih banyak berisi kulitnya, kalau pastel kan berongga, isi panada ikan cakalang  yang disuwir dicampur dengan bumbu seperti bawang merah, putih, cabe dan terkadang kalau suka bisa dicampur laksa.

Tags:,

2 Comments

  1. ranny
  2. Lidya

Reply