Tentang Rindu

Lama ku terdiam di depan layar monitor meja kerja. Ku hanya bisa terdiam melihat screen saver polkadot yang mulai menghiasi layar monitor. Ku tarik napas panjang sambil memjamkan mata. Terasa berat kepala ini, mood hilang entah kemana, tak bergairah untuk kerja dan untuk melakukan apapun. Arrgghhh..

“I cant be like this!” batinku dalam hati.

Ku alihkan pandangan ke luar pintu kantor, hujan sudah berhenti, tapi mendung masih menyelimuti langit kota ini. Kantor terasa sunyi dan dingin. Ku urut pelipisku, kepala terasa berat. Temanku masih asik didepan komputernya menyelesaikan laporan yang di minta Bos D. Ku lirik jam, udah pukul empat sore. Aku gak bisa melanjutkan pekerjaan hari ini, ku putuskan untuk pulang cepat hari ini. Untunglah para petinggi kantor lagi tidak ada, jadi bisa kabur cepat. Ku bereskan semua perlengkapan kantor, membersihkan meja dari kertas-kertas yang berserakan, lalu pamit sama teman-teman se-ruangan. Ku melangkah menuju mobilku yang terparkir agak jauh dari kantor. Sengaja tidak menyalakan AC karena udara masih terasa sejuk sehabis hujan, mencoba agar pening tidak terlalu menjadi-jadi ku putar lagu dengan irama sedikit slow, ku pilih lagu All By My Self versi Glee menemani perjalanan pulang ke rumah.

Seharian ini tak ada sms maupun telpon masuk dari Bisma dan nomornya pun tak bisa dihubungi. Ku hempaskan tubuhku di atas ranjang. Ku pandangi langit-langit kamar yang berwarna violet, ku buka folder foto di BB, folder khusus foto berdua bersama Bisma. Lelaki ini sudah setahun menemaniku setelah pertemuan setahun lalu di kota Solo.

Ada sebuah perasaan yang tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata, perasaan yang begitu membuncah saat melihat fotonya, jantung berdebar mendengar suaranya dan seperti ada sekumpulan kupu-kupu diperut saat dia menggemggam tanganku kala berjalan berdua. Dan kali ini perasaan merindu saat dia tidak bisa hadir menghiasi hariku baik lewat sms, telpon.
Mataku terpejam, pikiran melayang jauh, kesadaran pun mulai hilang. Tiba-tiba kesadaran penuh kembali karena ringtone dari hpku, ringtone yang sangat familiar, segera ku ambil hp yang tergeletak di samping bantal, tanpa melihat nama di layar hp langsung ku sapa orang di seberang sana.

“Haii,kemana aja sih,hp pun gak bisa dihubungin.” Rajukku.

“Hehe,maaf nimas,saya sibuk sekali seharian ini. Ini aja baru setengah kerjaan yang selesai, mumet.” Jawaban yang disambung desahan panjang.

“Hmm, sibuk banget yah sampe gak hubungin aku. Emang gag rindu ma aku?”

“Manja banget nimas. Emang apa itu rindu?”

Ihhh lagi rindu malah ditanyain definisi rindu, wajahku langsung berubah cemberut.

“Looh kok malah nanya sihh. Rindu ya rindu. Ya udahlah kalo gak rindu.” Jawabku setengah merajuk.

“Lah malah ngambek, kan saya tanya apa itu rindu. Itu aja.” Jawabnya dengan tenang.

“Entaahh.. Hmmmm..”

Hening.

“Rindu ya perasaan yang tak bisa diungkapkan, perasaan yang hadir saat orang disayang tak ada disamping. “ kataku.

“Rindu adalah masa lalu. Cinta adalah tujuan dan masa depan. Jejak-jejak langkah adalah luka.” Jawabnya lugas

“Aih, kok rindu masa lalu, kan rindu yang aku rasa masa sekarang. Kenapa pula jejak langkah adalah luka?” Tanyaku

“Bagaimana punya Rindu jika tak ada masa lalu. Rindu adalah keadaan hati yang rentan akan luka. Luka adalah penanda perjalanan, apalah arti Cinta tanpa kerinduan.” Jelasnya

“So, Bisma rindu gag ma aku?”

“Menurutmu?”

“Huuu ditanya malah tanya balik.”

“Kalo gag rindu ngapain juga telpon ditengah kesibukanku nimas Amba. Seumpama kita mendekat apakah hati kita melekat?” Tanya Bisma. “Tak ada lagi waktu, semuanya telah dihabisi oleh Rindu” Jawabnya dengan senyuman yang khas.

“Jadi rindu itu aku, rindu itu kamu dan rindu itu kita..” Jawabku

“Ya udah, saya balik kerja dulu yah. Hari sabtu saya ke rumahmu. Jangan lupa makan, kebiasaanmu selalu telat makan, gag usah khawatir, saya baik-baik aja disini. Take care yah.. Wassalam..”

“Wa’alaikumsalam.”

-klik-

Fiuh, lega juga hatiku ini setelah mendengar suaranya. Setidaknya rindu ini sudah terobati. Lelaki itu selalu membuat warna yang baru dalam hariku.
Adzan Magrib berkumandang, ku bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Hari ini aku putuskan untuk dirumah saja, mengurungkan niat ke Cafe Oranje.

“Jika Rindu adalah kamu, siapakah aku?”

-hujan, 14.53-

4 Comments

  1. rannyrainy
  2. Maztrie
  3. Mbok Jamu

Reply