7 Warna Warni Bubur di Indonesia

7 Warna Warni Bubur di Indonesia

Siapa sih yang nggak suka bubur?

Bagi yang sakit, makanan ini wajib ya hukumnya. Kalau saya sih, bubur thok saja walaupun dicampur garam ataupun telur uhmm rasanya sedikit berat di lidah kecuali lagi sakit. Beda kalau bubur dicampur dengan ayam, kuah kari, telur, kerupuk, cakwe, dan herbs. Rasanya lezat pake banget! Saya yang nggak penggemar berat bubur pun sukak dengan komposisi tersebut. Biasanya sih, bubur macam gitu sering banget kita jumpai di gerobak-gerobak pinggir jalan ataupun rumah makan kecil. Kayak bubur ayam dekat rumahku itu, mereka jualan pakai gerobak saja dari jam 6-8 pagi. Harga yang komplit pakai telur itu 10rb, kalau nggak pakai telur 8rb. Rasanya lezat, makanya jam 8 itu sudah habis.

Baca juga : Mencicipi Lezatnya Soto Segeer Hj. Fatimah di Pagi Hari

Ternyata nih, bubur itu asalanya dari Cina loh. Memang ya negeri Tirai Bambu ini selain memiliki budaya tua dan juga meninggalkan pengaruhnya termasuk kuliner di berbagai penjuru dunia. Bubur semula dikenal sebagai comfort food di Cina. Posisinya penting sebagai penghangat bagi tubuh yang sedang sakit. Orang Cina yang berhijrah ke berbagai wilayah dan jauh dari kondisi mapan juga berpaling ke bubur sebagai penyelamat perut.

Orang Cina yang datang ke Indonesia sebagian besar lewat jalur dagang. Dari sejarah pun kita tau bahwa para saudagar Cina ini bermukin nggak hanya di satu wilayah saja. Jadi, nggak sulit bubur ini beradaptasi dengan selera orang Indonesia di mana, bahan dasar bubur –beras- adalah makanan utama kita sehari-hari. Di pulau Jawa sendiri, bubur ini sering banget hadir di acara adat, bahkan menjadi hal yang wajib.

Keragaman budaya dan hasil bumi melahirkan warna berbeda pada bubur di beberapa kota di Indonesia. Nah, kali ini saya akan sharing beberapa versi asli sajian bubur (bubur bericta rasa gurih dari beras) yang ada di Indonesia. Namun, perlu digarisbawahi dalam migrasinya ke kota lain, mungkin saja terjadi penyesuaian demi memenuhi selera setempat. Jadi, nggak perlu bingung jika di kota temans ada salah satu jenis bubur berikut yang nggak sama persis dengan ‘pakem’ ini.

7 Warna-Warni Bubur di Indonesia

  1. Bubur Kanji Rumbi – Aceh

Bubur Kanji Rumbi

Bubur Kanji Rumbi – Sumber : masakandapurku.com

Le bu kanji adalah sebutan lain yang diberikan orang Aceh pada bubur kanji rumbi. Ada rasa kari pada bubur yang juga terpengaruh budaya India ini.

Pekak, kayu manis, pala, merica, adas manis, ketumbar, jahe dan bawang merah saling menyatu di dalamnya. Makin sedap saat ditambahkan potongan daging ayam yang dimasukkan kala memasak bubur. Cita rasa gurih sukses diraih berkat sari pati ayam yang larut ke dalam bubur. Udang rebus/tumis juga biasa ditambahkan untuk membuat rasanya makin kaya.

Bagi masyarakat Aceh, makanan ini kerap hadir sebagai takjil di bulan Ramadan.

  1. Bubur Pedas – Medan & Riau

Bubur Pedas Medan - Riau

Bubur Pedas – Sumber : indonesian-medan-food.blogspot.com

Dua daerah ini kental dengan budaya Melayu memiliki bubur yang mirip. Orang Melayu Riau melafalkannya sebagai Bubo Pedas. Warnanya kecoklatan, diaraih dari beras yang disangrai dahulu dan ditumbuk hingga hampir hancur.

Di dalamnya ada kacang tanah, kacang panjang, jagung dan jamur kuping. Rumah tangga modern di Riau juga menambahkan makaroni. Semua wangi berkat tumisan bumbu terasi dan cabai, serta daun kesum dan ikan asap (tenggiri atau tongkol suwir).

Versi Medan berisi daging ayam dan udang. Sayurnya daun mangkokan, daun mengkudu, daun jeruk, daun kunyit, dedaun jambu biji. Rempahnya kompleks, dominasi kunyit, temu kunci, jintan, serai dan temu mangga.

Biasanya tiap bulan Ramadan, masjid-masjid besar di Medan akan membagikan bubur pedas gratis kepada pengunjung.

  1. Bubur Ase – Betawi

Bubur Ase Betawi

Bubur Ase Betawi – Sumber : cookpad.com

Ase adalah singkatan dari asinan semur, sebab bubur ini disiram kuah semur yang nyaris membanjiri piring, lengkap dengan potongan daging sapi, kentang dan tahu. Uniknya, juga ada asinan sayuran yang terdiri dari wortel, kol, mentimun, taoge dan sawi. Kecutnya menjadi elemen penting bagi kuah yang manis-gurih ini.

Ternyata, bubur ini termasuk langka agak sulit ditemui di Jakarta.

  1. Bubur Sukabumi & Cianjur

Bubur Sukabumi

Bubur Sukabumi – Sumber : qraved.com

Keduanya sama-sama bersiram kuah berwarna kekuningan. Warnanya mirip, tapi berbeda rasa. Bubur ayam Sukabumi menggunakan racikan bumbu soto. Aslinya disantap bersama daging ayam suwir, cah sawi asin, tahu goreng, semur kentang, dan mentimun yang tersaji dalam wadah terpisah. Cakwe dan kulit pangsit goreng ditabur di atas bubur. Boleh juga ditambahkan sate hati-ampela dan telur rebus agar lebih mengenyangkan.

Bubur Cianjur selain dibumbui kecap asin (merk lokal yang terkenal adalah Patkwa Padi) juga dibanjiri pais bawang (kaldu ayam berpadu bumbu pepes dan irisan bawang daun yang royal). Taburannya adalah kacang kedelai goreng, emping dan kerupuk Cianjur.

Cianjur dan Sukabumi terkenal sebagai produsen beras kualitas baik. Nggak heran jika banyak yang bilang, kedua bubur ini begitu gurih, kental dan lezat.

  1. Bubur Lambuk – Pontianak

Bubur Lambuk

Bubur Lambuk – Sumber : merdeka.com

Disebut juga padas karena dimasak dengan cabai merah keriting. Kelapa parut yang ditambahkan saat memasak kian mempertegas rasa gurih pada bubur.

Isi lainnya adalah daun pakis, daun kesum, kacang panjang, kangkung dan taoge. Pamungkasnya adalah teri dan kacang tanah.

Bubur lambuk biasa hadir saat selamatan dan acara adat.

  1. Tinutuan (Bubur Manado) – Manado

Tinutuan

Tinutuan (Bubur Manado) – Sumber : bastenratu.wordpress.com

Konon, Alm. Presiden Soeharto setiap pagi selalu makan tinutuan. Nggak heran, karena dari semua bubur, tinutuan adalah menu sarapan pagi yang bergizi.

Tinutuan adalah bahasa lokal Sulawesi Utara. Banyak beredar bubur Manado berwarna putih, tapi sejatinya warna asli bubur Manado adalah kuning kecoklatan yang dihasilkan dari campuran sambiki (labu), ubi dan jagung yang dipipil pada bubur. Lalu, bubur dicampur dengan kangkung atau bayam, kemangi dan bawang goreng. Sebagai pelengkap, biasanya tinutuan di makan bareng dengan perkedel ikan nike, ikan cakalang fufu goreng dan aneka dabu-dabu(sambal). Untuk dabu-dabu bisanya disajikan tiga macam : dabu-dabu terasi, ikan roa dan bakasang.

Mudah banget menemui menu satu ini di seluruh pelosok kota Manado. Biasanya bubur ini di makan di pagi hari.

  1. Bubuh Mengguh & Bubuh Mebasa – Bali

Bubur Mengguh

Bubuh Mengguh – Sumber : bukucatatan.net

Bubuh (bahasa lokal untuk bubur) yang semula santapan sore selepas bertani ini menggunung dengan urap kacang panjang. Saat diaduk, kelapa parut berbumbu pedas memberi tendangan seru pada bubur. Ada yang menyertakan ayam suwir pada urapnya.

Bubur biasa di masak bersama pindah ikan tongkol suwir. Saat penyajian, ditaburi kacang tanah, bawang goreng dan serundeng basah.

Ada juga Bubur Buning/Bubuh Mebasa (bahasa lokal untuk ‘bubur berbumbu’). Warnanya kuning berkat bumbu dasar magenep/genep (kunyit, kencur, ketumbar, bawang merah, bawang putih, cabai, jahe) dan disajikan bersama daging ayam dan kerupuk.

Bubur yang semula berwarna putih thok ketika dipadu dengan sentuhan nusantara, menjadi kuliner yang lezat dan wajib untuk dicoba! Untuk temans yang mau traveling ke daerah-daerah tersebut, sangat direkomendasikan untuk mencicipi buburnya. Jadi kepikiran juga untuk meracik salah satu bubur tersebut di rumah.

Temans ada yang pernah mencicipi salah satu 7 warna-warni bubur di Indonesia? Sharing dong!

 

 

32 Comments

  1. chef aulia
    • ranny
    • ranny
  2. DollyPR
    • ranny
    • ranny
    • ranny
    • ranny
  3. iip
    • ranny
  4. Hastira
    • ranny
    • ranny
  5. Ety Abdoel
    • ranny
    • ranny
    • ranny
    • ranny
    • ranny
    • ranny
    • ranny

Reply