5 Istilah Untuk Tempat Makan dan Minum yang Ternyata Artinya Berbeda

Selama ini kita hanya mengenal istilah warung makan untuk menunjukkan tempat makan dan minum, ya. Pokoknya di warung itu, semua serba ada.

Namun, istilah warung ini pun mulai bergeser dari waktu ke waktu mulai dari restoran, kafe, bar.

Banyak yang berpendapat bahwa istilah tersebut intinya sama saja, ya tempat untuk makan dan minum saja. Bahkan ada yang mengira penamaannya bergantung pada selera pemilik usaha.

Padahal masing-masing istilah punya arti dan cerita tersendiri loh, yang akhirnya berpengaruh pada konsep tempat makan, daftar menu, tingkat harga hingga sistem pelayanan.

Di dalam pikiran kita, masa sih hanya istilah untuk menunjukkan tempat makan dan minum pun ternyata memiliki setangkup cerita yang ternyata berpengaruh terhadap konsep umumnya.

Hayo, penasaran nggak?

5 Istilah ini digunakan untuk tempat makan dan minum tapi konsepnya beda-beda lho

  1. Restaurant (Restoran)

Saya pikir selama ini kata restaurant itu berasal dari bahasa Inggris, ternyata istilah ini pertama kali ditemukan di negara super romantis, Prancis.

Asal katanya restaurer atau restore yang berarti kaldu pembangkit tenanga. Singkatnya, istilah ini digunakan untuk sajian sup.

Di abad ke-18, resto diartikan sebagai ruang kecil di sebuah pondokan, atau tempat bagi para turis mengisi perut. Makanan yang disajikan adalah hidangan sederhana.

Perkembangan pun terus berlangsung. Kini, restoran menjadi dua jenis lho.

  • Restoran kasual, yang menjual makanan sehari-hari.
  • Fine dining, yaitu restoran dengan tampilan eksklusif (pastinya mahal juga) dengan menu yang ditata secara apik dengan peranti makan mewah.

Untuk restoran kasual ternyata mengalami perkembangan lagi. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup orang Amerika.

Dan sekarang ini kita lebih mengenal cafetaria, rest-stop restaurant, bistro, fast food restaurant yang masuk ke dalam kategori restoran kasual.

2. Deli

Deli berasal dari bahasa Jerman, delicatessen di mana artinya makanan lezat. Pertama kali populer di benua Eropa.

Deli ini nggak jauh beda dari supermarket yang menjual berbagai varian bahan makanan.

Perbedaannya, di deli kamu bakal menemukan bahan makanan impor yang sulit didapatkan. Ada juga beberapa deli yang mengisi rak-raknya dengan wine, cookies, teh, kopi, cokelat, softdrink.

Menjamurnya deli di Amerika disebabkan oleh orang-orang Eropa yang bermukin di sana. Mereka mendirikan deli untuk menyediakan bahan makanan yang sulit didapat di Amerika.

Di sini konsep deli pun berkembang. Nggak hanya menyediakan bahan makanan tapi juga menyajikan makanan cepat saji. Ruangan deli biasanya nggak besar dan ini juga menjadi ciri khas.

Sehingga bisa membuat pemilik deli lebih banyak melayani pesanan dibawa pulang, dan ada juga pembeli menikmati pesanannya di tempat.

Deli ala Amerika ini menjamur di beberapa negara. Bahkan, deli yang lebih fokus pada penjualan makanan siap saji boleh dikatakan lebih laris dibandingkan dengan deli yang hanya menjual bahan mentah.

Di Indonesia sendiri, saya pernah memasuki sebuah tempat yang menuliskan Deli. Di situ mereka menjual only kue-kue saja tidak ada yang lain.

3. Café (Kafe)

Kafe yang pertama dibuka di Constantinople, ibukota Kerajaan Ottoman, Turki, pada tahun 1555. Ini bertepatan dengan pembukaan toko yang menyediakan kopi di distrik Tahtakale oleh Hakam dan Shams, imigran asal Turko dari Aleppo.

Pada abad ke-17, kafe mulai menjamur di Eropa.

Bisa dikatakan imigran yang berasal dari Armenia lah yang membuat konsep kafe ini pertama kali. Mereka membuka warung kecil di pinggir jalan dan menjual kopi dalam.

Ternyata, warung ini mendapat sambutan positif dari warga sekitar. Dari sinilah, orang Armenia pun berani memperlebar kawasan kafenya hingga ke wilayah eropa lainnya.

Pertumbuhannya pun sangat pesat. Boleh jadi karena saat itu orang Prancis sudah terkenal sebagai pecinta kopi. Orang-orang Eropa yang dulu menikmati kopi di rumah, mulai berdatangan ke kafe.

Sambil ngopi,mereka asyik ngobrol isu politik, main kartu dan membaca koran.

Di abad ke-19 hingga ke-20, kafe tak hanya berfungsi sebagai tempat ngopi, tapi juga tempat untuk berdiskusi.

Di Amerika, kafe tak sekedar menyajikan kopi tapi juga makanan ringan seperti sandwich, cake dan pastry. Kafe ala Amerika dipelopori oleh imigran Italia di Amerika yang membuka espresso bar (kedai kopi waralaba).

Kafe jenis inilah yang kini banyak beredar di mana-mana.

Untuk di negara kita sendiri, kafe menjelma menjadi tempat nongkrong yang asyik.

Menu yang ditawarkan pun umumnya ada kopi ya, makanan ringan, varian minuam lainnya bahkan ada juga beberapa kafe menampilkan live music.

Salah satu kafe favorit saya di Solo itu Pixels Coffee Solo.

4. Bar

Sekali lagi negara Prancis menjadi awal mula untuk istilah ini.

Bar digunakan untuk menyebut tempat yang menawarkan alkohol dengan konsep desain khas seperti kursi berkaki tinggi, meja persegi dan ada counter untuk menyambut pelanggan.

Gaya hidup ini turut membawa perubahan pada varian minuman yang disediakan.  Sekarang nggak hanya minuman alkohol juga yang disediakan, ada juga minuman racikan seperti cocktail, mocktail, tequilla.

Kini, terdapat beragam jenis tempat yang masuk kategori bar. Seperti lounge, yaitu bar kelas atas yang biasanya ada di dalam sebuah restoran, hotel atau bandara internasional. Dan brew pub, yaitu tempat yang menyediakan bir hasil produksi sendiri.

5. Bakery

Bakery atau toko roti adalah tempat membuat dan menjual aneka roti.

Hingga akhir Perang Dunia I, pengolahan roti di Prancis hanya dilakukan di rumah. Beberapa bakery sudah bermunculan, tetapi masih dalam skala kecil.

Biasanya, pembeli yang datang ke bakery hanya membungkus roti sehingga tidak ada penataan meja maupun kursi. Konsep ini pun masih dipakai hingga saat ini.

Yang menjadi pembedanya, sekarang ini koleksi makanan semakin banyak. Tak hanya menyajikan roti, Bakery juga menyediakan macam cookies, pastry, cake, permen, es krim hingga puding.

Inilah membuat pemilik usaha bakery kerap menamakan tempatnya sesuai dengan jenis makanan yang dijual. Seperti, pastisserie, istilah ini digunakan untuk tempat membuat dan menjual pastry manis (cake, quiche dan eclair) dan gurih (risoles, pancake dan crepes), yang panas maupun dingin.

Ternyata, asal usul 5 istilah tempat makan dan minum ini dari Eropa ya.

Saya pikir kayak restoran itu dari Amerika loh. Mengetahui sejarah dan konsep 5 istilah ini semoga bisa membuat kita bisa membedakannya dengan baik ya.

Atau kamu pengin membuka usaha kuliner, barangkali 5 istilah ini bisa jadi bahan pertimbangan untuk menyusun konsepnya.

Kalau saya sih lebih suka nongkrong di kafe, ya. Apalagi kalau ada live music. Dan yang paling suka saya datangi juga ada Bakery! Duh bau dari roti, pastri itu sangat menggugah selera dan bikin betah.

Semoga sharing ini bermanfaat ya.

Dari 5 tempat di atas, mana nih yang paling suka kalian datangi?

Have a good day.

One Response

Reply