Temukan Pasien TB : Mereka di Sekeliling Kita

Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di dunia ini. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO) telah mencanangkan tuberkulosis sebagai Global Emergency. Berdasarkan hasil survei tahun 2010, jumlah penderita TB di Indonesia mencapai 289 per 100.000.000 penduduk. Saat ini, Indonesia menempati urutan ke-5 sebagai negara dengan penderita Tuberkulosis Paru terbanyak di dunia. Sedangkan di Indonesia sendiri, Tuberkulosis Paru adalah penyebab kematian ke-2 setelah penyakit jantung dan pembuluh darah lainnya. Secara umum, dicatat di seluruh dunia terdapat sekitar 2-3 juta orang meninggal akibat Tuberkulosis Paru setiap tahunnya.

Saya bergidik membaca laporan di atas. Sekarang ini penyakit TB tidak boleh dianggap remeh. Penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tubercolosis dapat menyerang anak maupun orang dewasa. Dulu, penyakit ini dianggap hanya diderita oleh kalangan bawah, padahal anak-anak dan dewasa yang bergizi baik pun bisa terjangkit. Ketika membaca laporan di atas, terlintas : gimana sih gejala TB itu?

Mengenali Gejala TB

tbc1Gambar diambil di sini

Gejala umum TB Paru

  •  Batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tanpa sputum (dahak)
  • Malaise : berat badan menurun, nyeri otot, berkeringat saat malam, nafsu makan menurun, anoreksia
  • Gejala flu
  • Demam derajat rendah
  • Nyeri dada
  • Batuk darah

Pada bayi dan anak-anak pun bisa dilihat gejalanya seperti :

  • Demam
  • Tampak mengantuk
  • Tidak kuat mengisap
  • Gangguan pernapasan
  • Gagal berkembang (tidak terjadi penambahan berat badan)
  • Pembesaran hati dan limpa

Pasti pada bertanya, kok bisa bayi dan anak-anak tertular? Bisa! Pada umumnya mereka tertular karena kontak langsung dengan salah satu anggota keluarga yang mengidap TB.

Setelah membaca referensi di atas, saya semakin penasaran. Gejala-gejala itu sangat mudah dikenali. Saya pun bertanya ke Cici -kakak- yang adalah seorang dokter umum.

R :  “Apa bisa kita mengenali pasien TB secara langsung dengan mata telanjang?”

C :  “Tidak! Perlu dilakukan pemeriksaan seperti anamnesis (riwayat penyakit), pemeriksaan    fisik (mendengar suara pernapasan lewat stetoskop), uji laboratorium, foto toraks dan paling penting adalah pemeriksaan sputum (dahak) sebanyak 3 kali.”

Saya pun kekeuh sumekeuh karena membaca gejala TB yang mudah dikenali.

R : “Loh, gejala-gejalanya sangat umum, Ci. Contohnya batuk darah. Itu gimana?”

C : “Gejala seperti itu bisa juga karena penyakit lain, namanya batuk darah adalah efek dari penyakit paru lainnya. Kan bisa saja, ada pendarahan di hidung lantas tertelan lalu keluar saat batuk. Atau saking kerasnya batuk, kan menghambat saluran pernapasan, berakibat bisa keluar darah. Makanya, perlu dilakukan pemeriksaan.”

Aku pun terdiam mendengar penjelasan Cici. Benar juga kata Cici, gejala umumnya yang mudah dikenali itu bisa menipu. Kita bisa saja memvonis teman yang kurus sebagai penderita TB, padahal mungkin dia sedang diet. Sekarang ini kurus menjadi tren di semua kalangan, tak heran bakal banyak ketemu orang kurus dimana-mana. Jadi,  singkirkan prasangka bahwa orang kurus itu mengidap TB.

Aku pun mencoba memutar ingatan, apa ada di keluargaku yang menderita TB? Sepertinya tidak ada. Tiba-tiba, saya teringat akan teman Cici, saya mengenalnya dengan baik karena beberapa kali dia main ke rumah.

Beberapa tahun lalu, teman Cici tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata dia menderita TB Paru yang sudah menjalar sampai ke otak (meningitis). Tak ayal, teman Cici koma selama tiga hari. Setelah ditelusuri, seluruh anggota keluarganya tidak ada yang mengidap TB dan lingkungannya pun bersih. Setelah diusut lebih lanjut, ternyata dia memeroleh bakteri tersebut dari kantornya. Ditambah kondisi fisiknya yang menurun karena sering bolak-balik rumah ke tempat kerja yang jaraknya lumayan jauh. Daya tahan tubuhnya pun menjadi lemah, tidak menghiraukan kesehatan, tidak berobat, bakteri dengan leluasa menginfeksi organ paru dan menjalar ke organ lain. Jika sudah sampai ke otak, sangat fatal akibatnya. Teman Cici itu sekarang sudah sembuh dari TB tapi masih rutin berobat. Karena bakterinya sudah menyerang otak, jadi terkadang teman Cici itu bisa hang tiba-tiba, tidak boleh capek dan pandangan ke samping agak kabur.

Belajar dari contoh kasus teman Cici. Penularan TB itu sangat cepat, bisa melalui udara, lingkungan, penggunaan alat-alat makan bersama, ataupun lewat percikan darah dari batuk. TB tidak pandang bulu. Kaya atau miskin, tua atau muda, sewaktu-waktu bisa mengidap penyakit ini.

tuberkolosis.orgGambar diambil di sini

Kita tidak bisa memungkiri, bahwa penderita TB ada dimana-mana, tapi jika kondisi tubuh kita baik, kemungkinan untuk terjangkit sangat kecil. Biasakan untuk makan dan istirahat teratur, lebih bagus juga kalau tubuh ada asupan vitamin. Dan juga, lingkungan rumah dibiasakan untuk bersih.

Jika sudah menemukan gejala seperti di atas, segeralah ke dokter!  Singkirkan rasa malu akan vonis TB, ingat yang sehat kan kita bukan orang lain. Dan jika, ada saudara atau teman yang mengidap TB, jangan jauhi mereka, tapi berikan semangat untuk rutin berobat demi kesembuhan.

**

Referensi :

www.tanyadok.com

www.klikpdpi.com

www.tuberkulosis.org

Mansjoer Aif, et al.  Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3, cetakan 1. Jakarta, Media Aesculapius, 2000.

17 Comments

  1. 8 Ciri-Ciri Orang Hamil
  2. LIdya
  3. keke naima
    • ranny
  4. ruziana
    • ranny
  5. Arifah Abdul Majid (@arifah_feibiii)
    • ranny
    • ranny
  6. Lusi
    • ranny
  7. Nia Haryanto
    • ranny
  8. ndop
    • ranny
  9. fandhy

Reply