Semarang, We’re Coming

Jumat kemarin, saya, Mama, Cici dan Athar ke Semarang. Secara sudah tinggal di Jawa Tengah, rasanya tak afdol jika belum berkunjung ke kota terbesar di Indonesia ini. Sudah berkali-kali, saya merengek ke Abang untuk ke Semarang, tapi berkali-kali itu juga dia menolak dengan alasan tidak hafal jalan-jalan di Semarang. #okesip #baiklah. Mama dan saya sudah memendam rasa untuk ke sana. Dan kebetulan Cici mau ketemu dengan temannya, maka kami membulatkan tekad untuk ke Semarang tanpa Abang.

Rencana awal mau naik cipaganti, harga per orang Rp. 50.000. Tapi rasanya gak puas deh. Sampai di Semarang tar bingung. Ya sudah kami memutuskan untuk rental mobil. Beruntung, Abang punya teman, jadi kami dikasih harga khusus Rp. 300.000 plus sopir tidak termasuk bensin.

Kami menggunakan tol baru, rasanya seperti tol Cipularang deh. Jalan bebas hambatan, membuat perjalanan Solo-Semarang terasa singkat, hanya satu setengah jam saja! Tiba di Semarang, saya langsung disuguhi pemandangan kemacetan! Beda tipis sama Jakarta dan Surabaya lah. Kami memutar kota dulu dan akhirnya ke Lawang Sewu.

Lawang Sewu berada di pusat kota. Dari depan tak ada kesan angker sama sekali. Bangunannya memang khas zaman Kolonial. Untuk memasuki tempat ini dikenakan charge Rp. 10.000/ orang. Jika ingin menggunakan jasa guide, nambah biaya Rp. 30.000. Ketika kami tiba, Lawang Sewu nampak lengang. Hanya ada kami dan beberapa pengunjung saja. Tak lama berselang, ada rombongan Ibu-Ibu (yang dilihat dari tag name) berasal dari Dinas Pendidikan.

Lawang Sewu dulunya adalah stasiun kereta api. Dan sekarang ini beralih fungsi menjadi museum. Saya dan Cici yang memasuki ruangan-ruangannya, sedangkan Mama dan Athar nunggu di bawah pohon saja. Udara dingin menerpa kulit ketika memasuki salah satu ruangan. Tak heran, ini kan bangunan tua. Ruangan demi ruangan berisi gambar-gambar yang dipajang dan pameran alat-alat zaman dahulu seperti telepon, mesik ketik, mesin penghitung uang, lukisan dan lain-lain.

Lawang SewuIni adalah gambar Lawang Sewu zaman dulu

Lawang SewuBagian depan Lawang Sewu

Lawang SewuSalah satu selasar yang masih meninggalkan kesan tua.

Lawang SewuIni di bagian yang sudah direnovasi, bangunannya sudah dicat, berbeda dengan bangunan sebelumnya. Jangan protes, ya, saya poto ubinnya πŸ˜€

Lawang SewuNah, ini adalah benda-benda peninggalan zaman dahulu. Mesin ketiknya antik bener, ya..

Lawang SewuRasanya tak afdol jika tidak ada foto diri πŸ˜€ heheheh

Perjalanan pun dilanjutkan.

Kami sempat bingung mau ke mana, karena dadakan dan tak punya itinerary. Cici berujar mau ke klenteng besar yang ada di Semarang. Pak Sopir pun tak tahu dimana tempatnya. Saya pun langsung googling. Berbekal alamat hasil googling, kami pun mengamalkan peribahasa ‘malu bertanya sesat di jalan.’ πŸ˜€ The power of asking ternyata manjur! Kami menemukan Klenteng itu yang ternyata sudah kami lewati pertama kali.

Klenteng yang kami tuju adalah Sam Poo Kong. Parkirannya luas dan hanya diisi beberapa mobil saja. Untuk masuk dikenakan charge Rp. 10.000 per orang. Memasuki klenteng ini, kami disuguhkan 3 bagian klenteng dan patung yang besar. Di sisi sebelah kiri (dari pintu masuk), klentengnya bisa dipakai untuk foto-foto dan ada banyak tangga yang mengingatkan akan film-film Cina. Sedangkan bagian kanan, ada dua bagian yang tidak sembarang orang bisa masuk selain untuk sembhayang. Dan ada bagian seperti ruang santai yang berisi bangku-bangku besi dinaungi pohon beringin nan besar. Eksotis! Athar sangat excited melihat lapangan yang super gede itu.

Ada satu kejadian yang bikin kami sewot jika mengingatnya. Ceritanya, kami ditawarkan si Bapak untuk foto, sebenarnya Mama dan saya menolak, tapi Cici kekeuh mau foto. Wis, kami di foto tiga kali. Dan bodohnya, kami tak bilang berapa banyak mau dicetak. Setelah keluar dari klenteng kami kaget diminta bayar Rp. 80.000 dengan foto sebanyak 8 lembar. Kami serasa dibodohi! Sebagai pengunjung, harusnya si Bapak bertanya berapa mau dicetak, dan mungkin dia pikir kami orang baru jadi bisa dijadikan lahan untuk mengeruk keuntungan. Ah, sudahlah nasi sudah menjadi bubur, dibikin bubur ayam saja.

Klenteng Sam Poo KongIni klenteng sisi kiri dari pintu masuk

Sam Poo KongAthar gak mau dipegangin, maunya jalan sendiri dan lari.

Selesai dari klenteng, jam menunjukkan pukul setengah satu siang. Kami pun berbalik arah menuju Pucang Gading tempat teman Cici. Saya sebenarnya mau kopdar sama Mbak Latree, mau ditraktir tahu gimbal, tapi sayangnya gak bisa πŸ™ next time yaa Mbak La ^^. Rumah teman Cici itu jauhnyaaa, untuk Pak Sopir ini gak malu bertanya. Kami agak lama di Pucang Gading. Pukul setengah enam, kami bertolak balik ke Solo untuk menghindari macet.

Well, liburan kali ini walau cuma setengah hari tapi menyenangkan ^^. Next time balik lagi semoga bisa kopdaran dan bisa kunjungi tempat yang lain.

Happy wiken, fellas..

 

9 Comments

  1. Keke Naima
  2. LIdya
  3. ndop
  4. Dhe
  5. Indah Juli
  6. rahmi
  7. pi23tz

Reply