Random Story : Sekuler dan Liberal

Sekuler

Se-ku-ler, a, bersifat duniawi atau kebendaan (bukan bersifat keagamaan atau kerohanian).

Liberal

Li-be-ral a 1 bersifat bebas; 2 berpandangan bebas (luas dan terbuka).

Memiliki banyak teman dari segala penjuru dunia bagi saya adalah satu keasikan dan anugerah yang tak terkira.

Dari cerita sebelumnya, saya bertemu dengan banyak orang di IG. Walau hanya lewat foto, bisa bertukar sapa dan cerita. Nah, saya memiliki beberapa teman dari Turki. Percakapan terjadi seputar wisata, fotografi dan berujung pada sebuah diskusi yang menarik.

Ada satu cerita yang membuat saya kaget, speachless sekaligus merenung. Mungkin saya yang tidak banyak membaca berita internasional. Jadi, selama sepuluh tahun ini di Turki ada larangan memakai hijab untuk ke sekolah maupun universitas. It’s really sad for me. Dan saya gak habis pikir, Turki kan mayoritasnya muslim, bisa-bisanya ada larangan seperti itu. Tapi, seiring berganti pimpinan, larangan itupun tidak diberlakukan lagi.

Saya bukan termasuk orang yang fanatik maupun religius sangat. Religius sangat apa sih ukurannya? Bukannya hanya Tuhan dan kita yang tahu? Okay, skip it. Saya berdiskusi dengan dua orang teman. Satunya sekuler, satunya konservatif. Dan membawa saya ke percakapan yang unik.

Sekuler mereka seperti apa, sih? Ini menarik karena baru saya temui.

Teman saya mengaku beragama Islam, tapi tidak menjalankan sholat, puasa dan jarang membaca Al Qur’an. Jujur saya sempat kaget, tapi berusaha tidak menjudge malah penasaran kenapa begitu? Hehehe … Saya crosscek ke teman yang satunya, seperti apa sih Islam sekuler di sana? Dan jawabannya persis seperti itu.

Sangat menarik pandangan teman saya yang sekuler. Dia berpikir luas, tidak menjudge.

T : “Dunia ini terlalu luas untuk mengatakan bahwa Tuhan itu milik satu agama.”

Me : *diam*

T : “Hijab itu hanyalah bagian dari political human! Yang terlalu mengontrol wanita.”

Me : “Bagi saya, menggunakan hijab itu sudah jelas di Al Qur’an. Saya tidak terlalu memusingkan orang lain yang tidak memakai hijab. Dan bagi saya, hijab itu bukanlah political human!”

T : “Saya tidak terlalu suka dengan para imam dan para pemuka agama yang mengatakan bahwa snowman is a sin. Bagaimana anak-anak bisa tumbuh dengan semestinya jika dilarang ini itu?”

Me : “Saya juga tidak setuju dengan larangan seperti itu. Bagi saya, Al Qur’an dan Hadis adalah pedoman. Rules di dalamnya jelas. Jadi, saya tidak terlalu suka adanya klasifikasi dosa-dosa baru yang dibuat manusia. Wait, coba jelasin kenapa kamu mengatakan hijab as a political human?”

T : “Wanita menjadi objek penderita. Di mana laki-laki bisa melakukan poligami sedangkan wanita dituntut untuk menerima. Lihat di Saudi, wanita tidak bisa keluar, tidak bisa mengendarai mobil. Bukannya itu satu political human?”

Me : *diam* saya diam karena tidak ingin mendebat, karena pasti gak akan ada ujungnya.

Sempat saya mengatakan kepadanya, “wah kalau gitu sekuler kayak atheis dong.” Dia menjawab dengan santai, “no problem.” Hehehe

Terkait Islam sekuler, kalau dipikir di tiap negara pasti ada istilah masing-masing. Kalau di sini, kita pasti menyebut ‘Islam ktp’, betul nggak? Sami mawon saja di mana-mana.

Satu hal, bahwa saya suka berdiskusi dengannya karena memiliki kesamaan visi yang tidak suka menjudge. Walau berbeda pandangan tapi saling menghormati. Saya gak bisa bayangin kalau temanku itu tinggal di sini, bisa dibully habis-habisan.

Di lain hari saya bertukar cerita dengan teman yang sudah saya anggap sebagai kakak. Dia menceritakan tentang hidupnya yang tumbuh di lingkungan Islami. Rasanya tidak pas menyebutkan konservatif, ya. Hanya saja saya sedikit kaget mengetahui bahwa dia terlalu terkukung hingga tidak bisa going out .

Karena, di Indonesia pada umumnya laki-laki dibiarkan bebas ke mana saja, sedangkan kondisinya berbalik 90 derajat. Belum lagi budaya perjodohan yang masih melekat di beberapa negara, dan dia pun mengalami hal itu. Selesai kuliah langsung dijodohkan. Berbicara leluasa dengan perempuan pun dilakukan ketika di universitas.

Amazing lah bagi saya. Dan ini membawa satu pengalaman baru mengetahui budaya di satu negara.

Saya pribadi, melabeli diri dengan pemikiran liberal tapi dalam hal tauhid, saya tidak liberal. Liberal dalam artian, saya menerima semua pandangan, cara berpikir dari teman-teman. Mau diskusi hayuk asal tidak berbuntut bully atau putus tali silaturahmi.

Tapi, so sad sekarang ini liberal itu identik dengan hal buruk. Andai saja semua pada tahu definisi sebenarnya, ya nggak gitu juga.

Saya merenung setelah berdiskusi dengan kedua teman.

Well, saya bersyukur hidup di negara yang membebaskan memakai hijab. Dan, sangat menarik mengetahui bahwa di luar sana banyak hal menarik beserta pemikiran yang unik. Saya memutuskan untuk menjalin pertemanan dengan siapa saja karena saya selalu menemukan hal-hal menarik di dalam itu.

Saya berencana untuk traveling ke Turki, semoga bisa diwujudkan walau entah kapan :D. Senang sekali jika bisa bertemu dengan mereka dan menikmati eksotisnya selat Bosphorus, rumah-rumah yang beraneka warna, bunga di mana-mana dan pastinya Cappadocia yang selalu saya impikan.

A friendship started from a little thing, isn’t it?

Tulisan ini berdasarkan percakapan dengan teman-teman saya yang tinggal di Turki. Apabila ada perbedaan pendapat, silahkan sharing di kolom komen. Tapi, no bully yes! Atau ada teman yang memiliki cerita lain, senang banget bisa cerita di kolom komen.

4 Comments

  1. -n-

Reply