Prompt #79 : Sebuah Awal

Bias Matahari

Aku menekan tombol OFF, mematikan beberapa tombol bersamaan. Mesin pesawat seketika mati. Aku termangu menatap pemandangan di balik kaca pesawat. Hamparan hijau bebukitan, bias sinar matahari, pohon-pohon berdiri gagah, beberapa bangunan rumah nampak berjejer. Planet ini tak seperti Bumi. Ada kedamaian yang selalu kurasakan tiap ke sini. Aku melangkah keluar dari pesawat. Sebuah sentuhan halus menahanku.

“Di mana ini, Zeth?” tanya Rein dengan tatapan lembut.

“Ikuti saja aku, akan kuceritakan nanti,” jawabku sambil menggenggam tangannya.

Lembut rerumput dan belaian angin menyambut kedatangan kami. Kulepaskan helm kaca.

“Zeth! Kamu bisa mati jika melepaskan helm!” pekik Rein.

Aku tersenyum. “Tak akan mati. Lihat!” Kurentangkan tangan sambil kepala menengadah ke atas.

“Zeth! Jangaan!”

“Hahaha.. Rein, planet ini mirip Bumi memiliki oksigen untuk kita hirup.”

Rein menatapku nanar. Pelan, dia pun melepasnya.

“Ini gila, Zeth! Aku bisa bernapas! Bagaimana bisa?”

“Rein, aku menemukan tempat ini sepuluh tahun lalu ketika Parlemen Bumi melancarkan invansi untuk merebut planet Aora, sebuah planet kecil dekat Jupiter. Aku menemukannya tidak sengaja. Planet ini berkilau kehijauan membuatku penasaran. Butuh bertahun-tahun aku meneliti planet ini. Planet yang hanya dihuni tak lebih dari seratus orang. Wujud mereka seperti kita.”

Aku mendesah pelan. “Aku muak hidup di Bumi.”

“Parlemen membiarkan alien untuk terus datang ke Bumi, aku membenci mereka! Tak bisa menghargai kaum progetor seperti aku,” desah Rein.

“Parlemen terlalu takut akan kekuatan Gaudron, padahal planet itu takkan pernah menyerang Bumi. Terlalu banyak politik di parlemen. Tak ada lagi ruang hijau, semua berlomba membangun bangunan tinggi. Aku lelah, Rein,” ucapku dengan amarah.

Rein menatapku lembut. “Apa nama planet ini?”

“Kunamakan, Euroworld.”

Aku menatap Rein, kudekatkan bibirku ke telinganya. “Rein, aku ingin tinggal di sini. Maukah kamu hidup denganku di sini?”

Rein memelukku erat. “Zeth, ke manapun kamu pergi aku akan bersamamu. Hanya kamu yang bisa menghargai dan mencintaiku kaum progetor, kaum robot sepertiku.”

**

Photo Credit : Zoran Stojanovic

 

 

One Response

Reply