Prompt #37 : Airmata Nirinda

Prompt 37

Bagi kami, manusia, adalah hal terlarang untuk menjejakkan kaki memasuki hutan Holfeg. Pohon Oak yang berdiri garang merupakan penanda jelas batas antara dunia manusia dan elf.

 “Ma, seperti apakah hutan Holfeg?” tanya Nirinda satu ketika.

Tubuh Mamanya menegang mendengar pertanyaan putri sulungnya.

“Di balik pohon Oak, ada kerajaan elf. Pepohonan yang rindang, bunga berwarna warni akan menyambut langkahmu memasuki hutan Holfeg. Bau lavender semerbak di setiap sudut hutan dan rumah. Para elf bertubuh langsing, wajah seputih pualam, berambut panjang, bertubuh gemulai bak hembusan angin, warna mata keperakan dan memiliki telinga yang runcing. Di tiap sudut buah-buah bergelantungan di pohon. ” Mata Mamanya berbinar ketika menjelaskan tentang hutan Holfeg.

Sejak saat itu, Nirinda selalu berandai bisa menjejakkan kakinya di hutan Holfeg dan menjadi elf.

Hingga malam itu tiba.

“Mereka datang, Pa,” ucap Mama tergugu.

BRAKK!!

Pintu rumah terbuka lebar, aroma lavender menguar pekat.

Tiba-tiba, rumah Nirinda kedatangan tiga orang tamu. Mereka memakai baju berlapis besi berwarna coklat, boots setinggi lutut, busur melingkar di punggung. Wajah mereka persis seperti gambaran Mama tentang elf penghuni hutan Holfeg.

“Artyiara, hari ini genap purnama kedua sejak putrimu berusia dua belas tahun. Saatnya, kami mengambil dia, membawanya ke hutan Holfeg!” seru elf berambut putih.

“Tidak! Kalian tidak bisa membawanya!” Papa Nirinda merentangkan tangan.

“Minggir kau manusia! Artyiara, ini sudah saatnya, ratu sudah menunggu!”

“Tidak!” teriak Mama Nirinda.

Dua elf di belakang, maju serempak. Yang satunya menahan Papa Nirinda dan merapalkan mantra membuat Papa tergeletak di lantai, yang satunya mencengkram erat tangan Mama dan berjalan menuju Nirinda. Elf itu menatap Nirinda, rekat. Seakan ada kekuatan magis dari sorot mata elf itu, Nirinda menyambut uluran tangannya.

“TIDAAAAKKK!” Mama Nirinda menjerit histeris menatap tubuh Papa Nirinda tergeletak di lantai.

Nirinda tercekat, napasnya menyesak. Elf berambut putih, mengangguk ke arah dua elf lainnya. Secepat angin, mereka memapah Mama dan Nirinda keluar dari rumah.

“Biarkan mereka berdua berdiri di sini!” Perintah elf berambut putih.

Lantas, elf yang satunya mengeluarkan busur dan anak panah. Mata Nirinda membulat. Ujung anak panah berkobar api. Secepat kilat, anak panah dilesatkan ke arah rumah mereka. Dan..

DHUAAARRRR..

Rumah Nirinda terbakar. Tangisan Mamanya makin menjadi. Nirinda terhenyak melihat rumah dan Papanya dilalap api. Kedua matanya basah. Para elf itu bergerak cepat, yang satu memegang tangan kanan, yang satunya memegang tangan kiri Nirinda. Elf berambut putih itu merapalkan sebuah mantra, lalu mengeluarkan tabung kecil dan mendekatkannya di pipi Nirinda.

“Ratu harus menunggu seratus tahun untuk menunggu lahirnya anak gadis campuran elf dan manusia. Airmata keabadian ini akan membuat kekuatan ratu bertambah.  Airmata  bisa diambil saat anak ini  berusia dua belas tahun dan ketika purnama kedua. Ayo, waktu kita tak banyak! Kita harus tiba di istana sebelum purnama tidak bulat penuh lagi,” ujar elf berambut putih.

Dengan sigap, kedua elf itu membopong Mama dan Nirinda. Berlari secepat angin, meninggalkan aroma lavender di sepanjang jalan desa Gayth.

Mata Nirinda nanar menatap sisa kobaran api. Keinginan untuk tinggal di hutan Holfeg lesap seketika. Aku tak ingin ke sana! Elf makhluk jahat!  Batinnya. Tapi, tubuh Nirinda kaku, suara tertahan di tenggorokan, dia tak bisa bergerak.

6 Comments

  1. friendship sms messages
  2. ranny
  3. RedCarra
    • ranny
  4. ndop
    • ranny

Reply