Dendamku, lunas!

Kepulan asap rokok memenuhi ruangan 4×4 itu. Sesosok lelaki berada dibalik meja besar, asik depan laptop. Sebungkus rokok Marlboro sudah habis, ini sudah bungkus kedua. Asbak penuh dengan abu dan puntung rokok. Matanya serius menatap angka-angka dilayar laptop. Sesekali mengerang, mendengus dan terkadang seringai kecil menghiasi wajahnya. Dua cangkir kopi telah habis menemaninya melewati malam. Tak ada suara apapun, selain bunyi ketukan tuts keyboard. Detik jam dan binatang malam pun seakan malu untuk bersuara. Diliriknya jam di laptop, sudah pukul 2 dini hari. Dan lelaki itu kembali menekuni dengan pekerjaannya.

“Untuk sebuah sukses, saya harus menyelesaikan dengan baik.” Desisnya

Senyum puas menghiasi wajahnya. Lelaki itu merenggangkan tubuhnya dan menguap lebar. Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Waktunya untuk istirahat sejenak untuk sebuah rencana besar. Batinnya.

Gedung itu berlantai 20. Berdiri megah diantara gedung-gedung yang lain. Jam 7 pagi, gedung itu sudah ramai dengan para karyawan yang lalu lalang. Karyawan di gedung ini tampil begitu fashionable, sungguh pemandangan yang khas tiap harinya. Setiap orang yang masuk gedung itu, selalu ingin menjadi bagian didalamnya.

Sesosok laki-laki bertubuh tegap, tinggi 170cm khas untuk ukuran Asia, potongan rambut ala Marinir, kulit coklat, sepatu pantofel Bailey, celana kain Armani, kemeja lengan panjang dipadu dasi dan jas merk yang sama, bau khas parfum Escape membalut tubuh lelaki ini. Dia begitu percaya diri dengan penampilannya. Wajah tegas, tatapan mata yang tajam, rahang yang kuat, menambah kemaskulinan lelaki ini. Beberapa pasang mata melirik sosok lelaki itu. Senyum pun dilontarkan.

“Presentasi yang hebad Nara! Selamat, Direksi sepakat memilih Anda untuk posisi Regional Manager Kalimantan. Anda orang yang tepat untuk menghijaukan lagi regional itu.”

“Terima kasih pak..” Ucapnya dengan mantap sembari menjabat erat tangan Pimpinan Direksi.

Seringai puas, penuh kemenangan menghiasi wajah Ovalnya. Disingkapnya tirai yang menutupi jendela, dihempaskan badannya di kursi empuk itu, tatapan matanya yang tajam seakan menembus kaca jendela. Berkelebat kejadian masa lalu terlintas di pikirannya. Wajah orang-orang yang pernah mencaci maki dirinya, hinaan untuk keluarganya, kalimat mencemooh bahwa dia takkan bisa sukses silih berganti.

“Akhirnya dendamku lunas sudah. Untuk kalian yang pernah mencemooh, menghina dan mencaci maki diriku, apa lagi yang akan kalian katakan. Saya bisa berdiri dengan dua kakiku ini tanpa bantuan orang lain!! Saya bisa sukses tidak dengan uluran tangan kalian!! Dendamku lunas! Saya takkan mengotori tanganku ini dengan darah untuk sebuah dendam, tapi saya akan menunjukkan kepada kalian, inilah saya Nara Syailendra Putra, Regional Manager.. hahaha.. Orang yang dulu kalian cemooh, kini bisa sukses..” Desisnya diiringi senyum penuh dendam dan tawa kemenangan.

Malam kian menua, lelaki itu masih tetap setia duduk di balkon rumahnya. Secangkir cappucino, sebungkus rokok Malboro, sandwich tuna dan iPad menemaninya menikmati hangatnya malam. Merayakan kemenangan hari ini, ucapnya. Dikepulkan asap rokok, dering salah satu gadgetnya mengagetkan lamunannya. Senyum pun menghiasi wajahnya. Sebuah pesan singkat dari seseorang, di balas seadanya pesan itu.

“Segala dendam ku terbayar lunas sudah. Kalian boleh menertawakan saya, dan saya takkan peduli lagi. Yang ingin kulakukan sekarang ini mewujudkan mimpi kecilku, sedikit usaha lagi untuk mencapai puncak tertinggi. Dendam yang mengajarkanku arti hidup dan kerasnya perjuangan hidup. Bagi orang lain, hal ini ironis terdengar, tapi bagiku tidak. Dendam membentuk diriku menjadi pribadi yang keras hati, menjadi manusia bertangan besi, bekerja tanpa mengenal waktu. Suatu pelajaran yang tidak didapat dibangku kuliahan, tapi dari sebuah universitas kehidupan. Dendam, kepadanya harus ku berterima kasih, karena membuat diriku lebih menghargai hidup..”batinnya.

Malam pun kian larut. Bintang dan bulan begitu mesra diperaduannya. Ku rapikan meja yang penuh debu rokok dan remah sandwich. Ku matikan iPad. Ku menegakkan kepala menghadap langit. Ku pejamkan mata dan menghirup udara malam yang dingin, kehangatan memasuki rongga tubuh, menyatu dengan sel-sel. Tenang, begitu tenang jiwa ini. Semua terbayar lunas. Dendam yang bersemayam selama 20 tahun menguap dalam hitungan detik, di malam itu juga.

“Aku ingin menggalah bintang! Akan ku raih semua mimpiku!!” Janjiku kepada Sang Langit.

Malam semakin dingin.. Dan bukannya malam adalah waktu untuk istirahat..

16.45

Tags:,

11 Comments

  1. attayaya-warisan
    • ranny
  2. Mayya
    • ranny
  3. djawadreang
    • ranny
  4. ranny
  5. Lidya
    • ranny
  6. anazkia
    • ranny

Reply