Prompt #17 : Pak Austin

Siapa sih yang tak kenal pak Austin? Dosen cakep, pintar, modis dan berasal dari keluarga terhormat. Kedua orang tuanya adalah dokter. Kesemuanya itu, membuat ia diidolakan para kaum hawa, tak hanya di fakultasku, teknik komputer, tapi juga dari fakultas yang lain. Setiap kali ia berjalan melewati pelataran parkir ataupun selasar, mata para perempuan mengikutinya sampai ia menghilang dari pandangan.

Hari ini, aku janjian dengan pak Austin di kantin fakultas untuk mengembalikan buku mikrotik yang kupinjam seminggu lalu. Dua jam berlalu tapi pak Austin tak kunjung datang. Aku menelpon ke ponselnya, tidak aktif. Aku memutuskan untuk mengembalikan buku ini ke kosnya.

Tak sulit menemukan kos pak Austin. Kosnya terkenal elit di daerah fakultasku. Saat memarkir motor di pekarangan rumah, aku tertegun melihat sosok wanita di depan kamar pak Austin.

“Gina?”

“Eh, Vino, ngapain kamu ke sini?”

“Harusnya aku yang nanya itu. Aku ke sini mau kembaliin buku dosenku. Bukannya kamu ngekos gak di sini?”

“Eh.. Aku..”

Tiba-tiba pintu kamar pak Austin terbuka. Ia muncul dari balik pintu hanya mengenakan handuk melingkar di pinggangnya. Ia pun terkejut melihatku.

“Vino, ada apa?”

“Ini pak, aku mau kembaliin buku yang kemaren dipinjem. Aku nunggu bapak di kantin, tapi gak datang, di telpon gak aktif. Jadi, aku nyusul aja kesini.”

“Oh ya, maaf, aku lupa. Ponselku lagi di service, jadi gak aktif.”

“Ya udah, aku pamit dulu pak.”

Aku bergegas meninggalkan mereka berdua. Dari balik helm aku melihat Gina masuk ke kamar pak Austin. Tak kusangka, dosen seperti pak Austin, seleranya sama perempuan ‘tukang pijat plus-plus’. Ya, Gina bekerja di salah satu tempat pijat terkenal di kota ini dan aku adalah langganan tetapnya.

2 Comments

  1. ronal
  2. ????

Reply