Menjadi Ibu Bahagia, Bisakah?

Menjadi ibu bahagia …

Kalimat sederhana tapi ternyata tidak semudah menuliskannya, ya. Bener nggak, bund?

Beberapa tahun belakangan ini topik kesehatan mental gencar dibahas di berbagai kanal media sosial. Bahkan untuk event offline (walau masih sedikit) pun kerap membahas akan hal ini.

Sungguh ini merupakan hal positif yang patut diapresiasi. Dulu nggak ada kan ya mau bahas ginian, tapi kalau dari sudut pandang saya, seiring berjalannya waktu, teknologi semakin maju, lalu ada tuntutan ini itu, rasanya kesehatan mental itu sudah wajib untuk dibahas.

Lalu ada perbandingan, lah dulu ibu-ibu mengurus anak banyak nggak ada ngeluh. Well, yakin? Hehe … Udahlah, tidak perlu membandingkan.

Balik lagi ke ibu bahagia.

Menjadi seorang ibu bagi berarti siap menghadapi rutinitas yang sama setiap harinya. Mulai dari pagi menjelang, petang tiba hingga menjemput malam. 24/7, 24/30, 24/365. Berputar begitu terus, barangkali ada diselingi dengan traveling keluarga, acara keluarga, reuni dan lain-lain.

Lelah nggak sih? Saya iyes.

Tapi, bagi seorang ibu seringkali menyampingkan lelah itu karena menganggap itu sudah bagian dari kerjaan mereka. Lalu, ada sekuel memahami dan membiarkan untuk hal-hal tertentu yang ternyata bisa seperti bom waktu.

Sekuel memahami dan membiarkan ini dari pandangan saya itu dalam hal problematika rumah tangga. Tidak mudah memang. Butuh komunikasi berulang, kelapangan hati, mau berubah bersama menuju ke arah lebih baik. *kok berat ya bund bahasannya 😀

Menjadi ibu bahagia, itu wajib bagi saya. Tapi, seringkali kita suka lupa ya cara untuk bahagia. Lalu, datanglah omongan, “ Ah, nggak tau bersyukur.”

Heyyyy, jitak nih.

Well, memang saya masih dalam tahap belajar menjadi ibu bahagia. Bagaimana saya menjalaninya, ini saya rangkumkan.

Menjadi Ibu Bahagia Versi Saya

Tidak semua yang dibaca dan didengar harus dilakukan

Ada yang suka baca artikel? *ngacung

Ada yang suka curhat ke bestie? *ngacung juga. Hehe …

Well, kadang saya itu suka ke-trigger ya membaca sebuah artikel atau status di media sosial. Eh kok gitu ya? Aih mestinya seperti itu. So on and on.

Bestie ngasih saran? Itu alhamdulilah sekali.

Nah, agar tidak penuh ya ini otak dan ujungnya overthinking sebaiknya memilah mana nih yang bisa diambil lalu dilakukan, mana yang diskip saja dulu.

Membuat aturan

Mama saya selalu mengingatkan, “Anak-anak itu dibikin jam-jam nya. Jam bagun, tidur siang, bermain, tidur malam, belajar. Percaya deh, kamu nggak akan sulit.”

Dan itu saya AMIN-kan.

Membiasakan mereka bermain ponsel seminggu sekali udah terasa manfaatnya. Lalu, tidur di pukul 9 malam. Bagun pagi pun udah mulai teratur.

Yang masih agak belum disiplin jam makan, karena ada kalanya si kakak sekolah tatap muka begitu pun Kei.

Aturan ini emang seperti koridor ya yang akan mengarahkan anak-anak juga orang tua agar bisa sejalan dengan minim masalh.

Meminta bantuan

Kita hidup di budaya timur yang kental dengan budaya patriarki.

Membuat laki-laki merasa sudah menafkahi, jadi urusan rumah tangga ya istri saja. No hard feeling, ya. Dan kita sebagai perempuan pun manut dengan keadaan.

Saya membayangkan seorang ibu itu memiliki tangan yang banyak seperti Narayana. Kita melakukan semuanya. Dan bahkan sudah mati rasa dengan lelah.

Tidak ibu-ibu, hentikan itu. Ayo, speak up.

Buka jalur komunikasi dengan suami tentang urusan rumah tangga. Jangan segan meminta bantuan suami. Ingat, rumah tangga itu dibangun dua orang bukan sendiri.

Dan tidak ada salahnya juga meminta bantuan anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Seperti membantu menyapu, membereskan mainan. Karena itu bagian dari basic skill life yang harus dipunya anak-anak.

Percayalah, mengajarkan itu ke anak-anak akan membuat mereka tangguh dalam menghadapi hidup.

Tetap waras itu penting, lakuin apa yang ingin dilakukan!

you are my spring

Waras – sehat jasmani, sehat rohani.

Of kors, itu penting, ya. Kalau saya sendiri, ngobrol dengan Pemilik Semesta dalam tiap sujud itu sangat membantu. Namun ada faktor lain juga yang turut menyumbang kewarasan saya yaitu melakukan apa yang ingin dilakukan.

Contoh, nonton Netflix drama Korea You Are My Spring. Bagi saya itu menonton drakor bikin hepi. Kayak kebosanan itu lesap. Menonton alur cerita yang gemesin, para pemain sangat bikin pikiran ini tenang.

Pun dengan menulis, saya memiliki kategori khusus #RandomStory untuk bisa saya tulis apa saja. Semacam pensieve bagi saya. Hehe …

So, sempatkan diri kalian untuk melakukan me time atau apapun deh sebutannya.

Sehat

Sekali lagi pesan Mama, “Ranny, kamu harus sehat. Kamu tinggal jauh dari keluarga, kalau kamu sakit akan susah.”

Kayaknya itu pesan otomatis tiap Mama, ya. Dan dalam pikiran seorang ibu, emang harus sehat.

Gimana mau bahagia kalau tubuh dan pikiran tidak sehat? Gimana mau menikmati kebahagiaan?

Itulah mengapa, secara tersirat, ibu-ibu mesti sehat selalu.

Pertengahan Februari kemarin, saya sempat sakit. Deman, badan gak enak terus muncul batuk. Parno akan terjangkit omicron? Oh tentu jelas.

Saya langsung hubungi Cici (she’s a doctor) untuk tanya mau minum obat apa, seperti biasa untuk demam disuruh paracetamol dan tambahan vitamin B Complex , vitamin C, terus mesti istirahat teratur, berjemur pagi hari.

Nah, yang saya perhatikan Cici tiap keluargaku sakit kayak daya tahan tubuh menurun, selalu merekomendasikan vitamin B Complex. Saya penasaran, emang vitamin B com ini apa sih?

Ternyata vitamin B complex ini memiliki beberapa turunan vitamin B antara lain :

  • B1 (tiamin),
  • B2 (riboflavin),
  • B3 (niasin),
  • B5 (asam pantotenat)
  • B6 (piridoksin),
  • B7 (biotin)
  • B9 (asam folat)
  • B12 (cobalamin)

Pantas saja Cici selalu rekomendasikan vitamin ini, kandungannya lengkap. Manfaatnya pun sangat baik untuk kesehatan karena vitamin B bisa mengubah makanan menjadi energi jadi organ dalam tubuh pun bisa bekerja lebih baik lagi.

Selain mengonsumsi vitamin, saya juga sekarang alhamdulilah udah rutin olahraga. Terasa banget efeknya! Lebih niat lagi, saya dong beli pakaian olahraga muslimah agar makin semangat olahraganya.

Hingga saat ini, saya masih berusaha menjadi ibu bahagia versi saya sendiri. Karena saya yakin tiap orang memiliki masalah berbeda dan cara yang tidak sama dalam meraihnya.

Pokoknya jadi ibu itu mesti setrong, ya. Dan ingat sehat itu koentji!

Virtual hug untuk seluruh ibu di mana pun kalian berada. Percayalah, menjadi ibu bahagia itu bisa kita lakukan! *senderan di bahu bang Song Jong-ki #eh

One Response

Reply