Bunga Kenangan

Jika ada perempuan di muka bumi ini yang tidak menyukai bunga, aku salah satunya. Bukan tidak romantis atau tidak ada sisi feminin, tapi ada satu kisah tak menyenangkan perihal bunga.

Pagi ini aku mendapati tiga tangkai bunga daisy di dalam gelas berisi air di ruang keluarga. Entah siapa yang meletakkannya mungkin dengan sengaja di tempat itu. Segera kuambil bunga itu dan menghempaskannya ke keranjang sampah. Kutarik napas panjang dan berlalu menuju dapur. Bayangan bunga itu masih menghantui pikiran ini. Siapa yang meletakkannya di rumah? Tak mungkin mama! Didi pun gak mungkin! Mana mau Didi, adikku semata wayang, ribet dengan bunga. Papa? Lebih gak mungkin lagi! Lalu siapa? Ahh!

Kuambil teh lalu menyeduhnya dengan air hangat. Kugenggam erat cangkir teh, seperti ada magnet yang menarikku ke pusaran ingatan, lalu terlempar pada satu adegan di masa silam.

“An, ini untukmu.” Lelaki di hadapanku tersenyum simpul lalu menyodorkan sebuah buket bunga daisy.

Aku terdiam. Pipiku merona. “Makasih,” ucapku tergugu.

“Kamu suka?” tanya lelaki itu, menatapku dengan tatapan hangat lalu menggenggam tangan kananku.

“Eh, uh, iya, suka.” Kubenamkan sebagian wajah ke bunga untuk menutupi pipi yang makin menyerupai warna buah apel.

Kutarik napas dan menyesap pelan teh yang masih hangat. Reno Erlangga, batinku. Lelaki yang pernah kupuja seluruh jiwa sekaligus kubenci setengah mati. Dua tahun, aku tertatih melupakanmu, menepis segala bayangmu, menutup segala kisah dalam kotak kenangan dan kubuang kunci kotak itu ke palung laut! Tapi, tetap saja, tiap kali mengingatmu hati ini seperti dicabik belati lalu ditumpahkan tetesan asam di atasnya!

Magnet ini kembali membawaku ke pusaran berwarna abu-abu. Aku berdiri di sudut ruangan yang sangat kukenal, kamarku.

Wajah itu sangat kukenal. Ya, wajahku yang penuh cinta. Sudut meja kayu selalu ada bunga daisy segar di dalam vas kaca tinggi yang berisi air. Tiap menatap bunga itu, adrenalin ini melambung tinggi. Energi seakan kembali lagi. Hanya dengan menatap bunga itu, aku merasa seakan hidup. Seakan dia selalu ada di sampingku.

Aku mendengus. Aku benci melihat wajahku dengan ekspresi seperti itu. Kupalingkan wajahku, lalu aku tersedot kembali. Kuletakkan cangkir, kedua tanganku memijit pelan dahiku. Seperti ada yang bertalu di kepala ini, ingin rasanya kubuka cangkang kepala dan mengeluarkannya! Atau jika ada obat yang bisa menghapus ingatan parsial, ingin kubeli berapapun harganya!

Sepertinya magnet ini masih ingin membuatku bernostalgia dengan kenangan! Kali ini mataku membelalak, ingin kuberlari dan teriak. Tapi, kaki ini seperti diikat oleh akar dengan kencang dan suara ini tertahan di tenggorokkan. Mataku mulai terasa panas. Demi masa, aku gak ingin berada di ingatan ini!

Sosokku kini berdiri di sebuah rumah minimalis. Di tangan kanan, sebuah buket daisy segar baru saja kubeli di Emy Florist,di tangan kiri kugenggam kantong plastik berisi brownies kesukaannya. Wajahku sumringah membayangkan reaksi lelaki itu ketika menerima kejutan kecil dariku. Dua kali kuketuk pintu tidak ada suara, bel tamu pun sepertinya tidak berfungsi. Kuputar engsel pintu. Klik. Tidak terkunci.

Aku berusaha untuk kembali teriak, tapi suara ini hilang entah ke mana. Air mata sudah membanjiri pipiku. Tolong, jangan.. Jangan masuk Andrea!! Jangan!!

Tak biasanya rumah Reno begitu lengang siang ini. Ke mana Bi Mul? Orangtua Reno pasti masih di kantor, adiknya, Zizi pun masih di kampus. Kemarin, Reno mengabariku dia sakit. Karena aku masih ada liputan dan pastinya pulang malam, kuputuskan untuk menjenguknya hari ini tanpa memberitahunya lebih dulu. Langkahku terhenti di pintu kamar berwarna abu-abu. Kuurungkan untuk mengetuk pintu. Pelan, kubuka pintunya. Kumajukan setengah tubuh.

“Renn..” sapaku pelan.

Wajahku pias. Lututku gemetar. Bunga dan brownies jatuh bersamaan. Aku terengah, seperti tak ada oksigen memenuhi paru-paruku. Bibirku bergetar menahan tangis.

“Andrea!” ujar Reno panik.

Aku mundur dua langkah, menginjak bunga daisy hingga tak berbentuk. Lalu, aku berlari secepat mungkin, pergi dari tempat yang seperti neraka bagiku.

Tiga tahun menjalin kasih, tapi ternyata cinta tak pernah cukup. Cinta hanya cukup untuk cinta. Tak ada perbuatan paling kejam dalam satu hubungan selain pengkhianatan! Mendapati pacar seranjang dengan perempuan entah, cukup membuatku seperti dihantam petir. Tak kuhiraukan teriakan Reno dan Bi Mul di depan rumah. Yang ada aku terus berlari dengan air mata yang menderas.

Sudah cukup!!! Aku tak ingin bernostalgia lagi dengan kenangan. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menyusun kembali kepingan hati ini. Sejak itu, aku sangat membenci bunga daisy. Kuhabiskan teh sekali tandas dan melangkah gegas menuju kamar.

Kubuka novel Little Woman yang setia menemaniku. Bunga anggrek di bagian tengah novel telah layu. Harusnya ada dua, ke mana satunya? Setelah dua tahun berlalu, tepat sebulan kemarin, aku mulai mencoba untuk menyukai bunga lagi. Kudapati bunga anggrek ini jatuh di dekat rumah. Rupanya pemilik rumah memiliki tanaman anggrek yang menjalar hingga ke luar pagar. Kupungut beberapa lalu kuletakkan di dalam novel.

Kenangan.. Sampai kapan harus menghantuiku? Tertatih aku melatih perasaan ini agar tak ada air mata yang tumpah saat mengingatnya. Menahan gemuruh amarah di dada kala mendengar namanya. Ah, sudahlah, kenangan tetap kenangan. Dia hanyalah masa silamku.

Aku berdiri di sudut jendela. Tatapanku ke langit jingga.

Semesta, bolehkah aku berharap lagi akan sebuah cinta? Cinta yang tak menyakitkan seperti sebelumnya?

Kuhela napas pelan dan mengusap bulir yang mulai menggenang di sudut mata.

Semesta, kuinginkan dia, bisa kah?

Credit image owned by : Zoran Stojanovic

Yeaaah, once again, hvala! Thank you so so much, were always give permission to me to use your beautiful image.

This is part 4

4 Comments

Reply