Body Massage, Body Scrub dan Plusplus

Sabtu kemaren karena udah kehilangan arah, entah mo kemana sehabis pulang kantor, yang biasanya jalan bareng ma shinta berhubung dia lagi pulang kampung, jadi diriku bingung mo kemana. Saya putuskan mau nyalon aja, sesampai di salon langganan jadi bingung sendiri mau creambath,refleksi atau hair mask. Saat liat katalognya ahaa ternyata ada body massage (haduhh udah lama nyalon disini kok baru tau yah). So, saya putuskan untuk body massage aja, karena dari kemaren tukang pijat yang biasa dateng ke rumah gag bisa. Udah lama saya tidak body massage jadi dikit agak “roaming”.

Body massage dilakukan diruangan tertutup dan dikunci. Tak perlu saya ceritakan apa yang dikenakan jika body massage. Selama di massage, pikiran saya melayang ke teman-teman kantor (cowok,red) yang suka body massage. Dan saya langsung ngeri sendiri. Karena massage nya satu badan, pastinya pijatan sampe (maaf) selangkangan, yang ada di pikiranku apa para lelaki itu tidak naik libidonya kah? ughhh tak ayal jika sering terjadi body massage plusplus karena pijatan ini. Sewaktu body scrub juga, hal yang sama terlintas dipikiranku. Dan efeknya saya jadi kok tidak nyaman.

Bicara soal body massage, sudah menjadi hal yang lumrah jika seluruh tempat seperti itu ada unsur “plusplus” nya. Entah itu dari yang “murahan” sampe yang “high class”. Teman saya rata-rata laki-laki, jadi cukup tau saya dengan “dunia” itu.
Bahkan di kota besar kek Jakarta, ada satu tempat yang khusus untuk pijat yang unik, yaitu pijat dengan (maaf) buah dada perempuan!! arrrghhh what the h*** >.< udah edaaan!!!!
Seperti kata sahabat saya, dulu sewaktu dia kuliah di Jogja, dia tertarik dengan family massage. Yang dipikirannya bahwa tempat itu jauh dari “plusplus”. Saat masuk ke tempat itu, dia kaget karena semua cowok yang di ruang tunggu dan sewaktu melihat list di receptionist, dia kaget karena kok ada nama perempuan beserta umur. Gag hitung 3 dia langsung balik kanan grak dari tempat itu. Hal yang sama juga ada di kotaku, salah satu spa “menyajikan” hal serupa. Jadi pas masuk tempat itu, receptionist udah sambut dengan kalimat : “mau yang lokal atau luar?”. Dari harga “normal” akan ditambahkan sesuai service yang diminta. For God’s Sake >.<

Benar-benar saya ngeri sendiri dengan tempat begituan dan saya udah GARIS MERAH untuk tempat seperti itu. Bagi saya tempat begitu tidak ada yang benar satupun! Terkecuali tempat pijat refleksi yang ruangannya tidak ada sekat dan pada saat dipijit masih mengenakan pakaian yang lengkap.

Dan diriku me-“note”, saya gag ingin kekasih dan suami saya kelak pergi ke tempat gituan. Biarlah saya udah capek trus suami ingin dipijat, saya rela melakukannya. Saya gag ingin suami saya itu menjadi “kecanduan” dengan hal itu.

Menjadi pertanyaan, bagi para lelaki apa sebab mau ke tempat pijat? Untuk kesehatan? hmm bisa gag yah kalo yang mijat itu laki-laki saja, tidak harus perempuan.
Dari pengalaman temen-temen, saya pun membuat beberapa point mengapa para lelaki suka ke tempat itu.
1.Karena diajak teman sekantor dan tidak bisa menolak.
2.Badan pegel-pegel , ingin refreshing dari kesibukan sehari-hari.
3.Memang suka pijat dan kecanduan.
4.Suka karena ditempat itu bisa plusplus dan suka mencoba beberapa tempat untuk membandingkan servicenya.
5.Kondisi rumah tangga yang sudah tidak kondusif lagi. Saking sibuk suami istri, ranjang pun terasa hambar. Istri yang sudah tidak melayani suami, sibuk dengan pekerjaan, sudah tidak bersolek lagi. Sehingga para lelaki mencari kehangatan di tempat lain.

Bagi perempuan yang kekasih atau suami sering ke tempat seperti itu berhati-hatilah. Karena sekali kena “pijatan” pasti akan ada kelanjutannya.
Sungguh ironis yah, zaman sekarang, gag mau munafik tapi inilah realita hidup zaman sekarang ini.

ATTENTION :
Ini hanya sekedar tulisan pribadi, tidak bermaksud menyinggung pekerjaan seseorang dan tempat-tempat yang saya sebutkan di tulisan ini.

Tags:, ,

7 Comments

  1. dh
  2. Pijat Jakarta
  3. rannyrainy
  4. jhoni
    • rannyrainy
  5. rannyrainy
  6. Suke

Reply