#Prompt 3 : Demi…

uangKulirik kaca besar yang terpajang  di mall itu. Pantulan bayangannya membuatku puas.  Balutan dress berwarna pink, pump shoes berwarna mocha  dan hand bag warna ungu muda bikin rasa percaya diriku melompat ke level paling tinggi.

Kuedarkan pandangan  menyapu cafe d’Chocolate, hmm  tidak ada. Kutekan beberapa angka di layar ponsel.

“Udah dimana sih? Aku di depan cafe nih.” Kataku tanpa basa basi.

“Aku lagi di toilet. Kamu duluan aja ke d’Chocolate.”

Kumatikan percakapan di ponsel dan mendengus kesal. Akuu melangkah masuk ke cafe. Cafe ini terletak di lantai 3, design retro menghiasi seluruh ruangan ini, sofa yang cozy dan fasilitas wi-fi yang kenceng bikin cafe ini banyak pengunjungnya. Tempat duduk sudut itu adalah favoritku. Dari sudut itu aku bisa melihat pemandangan gedung pencakar langit dan padatnya arus lalu lintas.

Kulirik jam ku, sudah 15 menit, kemana sih Raffa?! Kusesap cappucino sambil mataku  menyapu seluruh ruangan , tiba-tiba pandanganku tertumbuk pada satu sosok yang baru masuk. Seorang pria, berusia 30-an, mengenakan kemeja Abu-abu muda dipadu balutan celana kain berwarna satu tone dibawahnya, sepatu pantofel yang mengkilap ditambah potongan rambut yang rapi. Tak salah jika beberapa  pasang mata mengikuti gerak lelaki ini.

“Hai sayang, maaf yah telat, tadi aku ketemu Pak Nugroho dilantai 2, biasa ngobrol bentar tentang anggaran budget untuk tahun ini. Mumet sayang, hari sabtu ini aku harus ke Bali untuk meeting dengan para direksi bahas soal budget ini.” Kata lelaki itu panjang lebar.

Aku hanya terdiam mendengar penjelasannya, tak mengerti tepatnya.

Lelaki itu tiba-tiba menatapku lama. “Cantik sekali kamu hari ini.” Katanya seraya mencium pipiku.

Aku hanya tersenyum simpul dan membalas ciumannya di pipi.

“Sayang, gak lupa kan janji hari ini.” Kataku dengan nada manja sambil bergelayut dilengannya.

“Gak donk sayang, kan aku udah janji.” Jawabnya sambil  mengeluarkan amplop coklat kecil dan diletakkan di hadapanku.

Wajahku langsung berbinar cerah. “Ahhh sayaang makasih, kamu memang paling oke.” Kataku sambil mengecup pipinya lagi.

“Pulang dari Bali, kita ke puncak yah, udah lama kita gak bermalam di villa mu itu. Dan jangan lupa oleh-oleh yah.”

“Kalo soal oleh-oleh, okelah. Tapi ke villa, nanti dulu yah sayang. Pulang dari Bali aku udah janji sama anak-anak mau ajak mereka main ke Trans Studio Bandung.”

“Hmmm.. Ya udah deh, terserah kamu aja kapan bisa. Hmm sayang, aku balik duluan yah, aku harus ketemu klien.” Ucapku sambil melirik jam yang melingkar di tangan.

“Oke, hati-hati dijalan.”

Ku percepat langkahku. Napasku memburu. Keringat mulai bercucuran. Kucegat taksi dan meminta untuk mengantarku pulang dengan kecepatan tinggi.

“Gawat!”

Aku melirik jam di tangan, sudah lewat 3 menit! Ku percepat lariku, walaupun tahu bahwa itu hanyalah sia-sia.

Aku sudah telat!

“Tidak apa-apa.” Kataku menenangkan hati.

Aku mulai memasuki ruangan dan mengetuk pintu. Seketika semua mata di dalam ruangan ini melihat ke arahku.

“Kemana aja kamu?! Pak Benny udah menunggumu sejak 15 menit lalu!!  “ Ucap Mami Erna sambil mencengkram lenganku.

“Tapi aku kan baru telat 3 menit Mi dari perjanjian, salah dia donk yang datengnya kecepetan.”

“Gak usah banyak alasan, biar 3 menit itu udah telat Nina!! Jangan pernah telat lagi. Ingat klien adalah raja, mereka sumber uang kita!! Camkan itu Nina!!”

Aku meringis kesakitan, ku usap lenganku. Tatapanku beralih ke Pak Benny, yang sudah tak sabar menunggu untuk menjamah tubuhku.

Ku dekap erat-erat tasku, didalamnya ada setumpuk uang dan dihadapanku ada tambang uang. Cukuplah untuk biaya berobat Emak.

 

*source : ngumpulinartikel[dot]blogspot[dot]com

16 Comments

  1. Lidya
    • ranny
  2. Helda
  3. Helda
    • ranny
    • ranny
    • ranny
  4. RedCarra
    • ranny
    • ranny
  5. RedCarra
  6. Nunung Nurlaela
    • ranny

Reply