Mudik Terseru Bersama Athar

Tahun ini adalah kali pertama bagiku untuk mudik. Ya, mudik. Hal yang belum pernah kulakukan sepanjang dua puluh delapan tahun usiaku. Karena menikah dengan lelaki berbeda pulau, maka harus dong, ya, mudik. Akhirnya, untuk pertama kali saya bisa update status : Mudik.. Horeee . Norak, ya? Kagaaak 😀 saya sangat menanti moment mudik ini, deg-deg serrr malah. Lah, kok bisa? Karena mudik kali ini perjalanannya bakal panjang dan saya selalu menanti saat-saat melakukan perjalanan. Ada rasa yang entah kuungkapkan tiap kali melakukannya.

Hari yang saya tunggu tiba juga! Sebuah kejadian tak terduga pun saya alami di penerbangan pertama.

20130803_101317_4_bestshot

Capek Nangis

Destinasi mudik kali ini adalah Pekanbaru tepatnya Perawang, rumah mertua. Saya bertolak dari Manado berdua bareng Athar (5 bulan) menggunakan maskapai Garuda Airlines, pukul 6 pagi. Jarak tempuh Manado-Jakarta, tiga jam. Suami? Nanti ketemu di Jakarta, karena abang dari Solo. Sejak menjejakkan kaki di kabin pesawat, saya berdoa semoga Athar tidak rewel. Ketika itu, Athar lagi tidur pulas. Selagi duduk menunggu pesawat take off, tiba-tiba seorang pramugara datang membawa seat belt untuk Athar. Direcokinnya babyku, walhasil Athar bangun sambil nangis. Dan nangisnya gak sampai disitu, dari tinggal landas sampai di udara, Athar menangis terus. Aduhhhh, maak, tolonggg L sumpah, mata ini udah nahan airmata yang mau jatuh. Bingung gak tau harus gimana, mana cuma berdua pula. Beruntung, tetangga bangku, sepasang suami istri sangat baik. Sang suami dengan baiknya, menawarkan untuk menggendong Athar. Dia berjalan di selasar kabin sambil gendong dan bikin Athar ketawa, tangisnya pun reda. Sampai disitu kah? Ternyata tidak! Athar nangis lagi! Saya pun dengan berbagai cara membujuk Athar. Mulai dari jalan di selasar tanpa alas kaki, duduk di bangku kosong sambil tunjukkin awan, sampai putar tivi liatin film anak-anak. Nangisnya agak reda, pelan-pelan Athar minum susu. Kejadian ini berlangsung kurang lebih dua jam! Saya berdoa semoga pesawat ini cepat sampai di Jakarta. Alhamdulilah, sejam terakhir, Athar udah anteng.

20130811_175051

Tiba di bandara Soekarno-Hatta, saya lapor dulu ke konter transit, lalu naik tangga eskalator menuju gate. Saya menunggu abang dan adik ipar di depan toko buku. Sekitar lima belas menit menunggu, yang ditunggu muncul juga. Kami pun langsung beranjak ke gate, karena kami akan boarding sejam lagi. Tiba di gate, ruangan udah sesak dengan orang yang akan mudik. Mungkin kaget liat banyak orang, kembali lagi Athar menangis. Sudah dibujuk, nangisnya berhenti sebentar, lalu kembali nangis. Haduuhh… Kami jadi ikutan pening. Saya pun menggendong Athar menuju ruangan menyusui, yang jauhnya boleh lah bikin orang-orang menoleh mendengar tangisan Athar.  Sampai di ruang menyusui, tangisnya reda sebentar saja. Saya pun makin bingung, kenapa Athar nangis terus? Disusuin gak mau, pampers baik-baik aja. Rasanya saya ikutan mau nangis juga, abang pun menemani sambil gantian gendong.  Panggilan boarding memaksa kami untuk kembali ke gate. Sepanjang jalan, mungkin karena udah capek, Athar berhenti nangis, lalu tertidur saat pesawat tinggal landas.

Udah selesai? Belummmm! Menjelang tiga puluh menit landing, Athar kumat lagi, mungkin udah bosan, ya. Daan, ternyata Athar boker. Hikz rasanya pengen nyungsep ke bawah bangku dah. Untung nomor bangku kami paling depan di ekonomi, jadi baunya gak menyebar dan akhirnya pesawat mendarat juga. Saya dan adik ipar, langsung buru-buru keluar kabin menuju ruang menyusui untuk mengganti pampersnya, sedangkan abang ngambil barang-barang. Kami, bisa bernapas lega, Athar udah anteng. *elap keringat seember* *pfuuuhh*

Perjalanan sudah usai? Sayangnya, belum. Kami harus menempuh dua jam perjalanan untuk tiba di rumah mertua yang letaknya di Perawang. Untungnya setengah perjalanan Athar tidur, mau dekat rumah, dia udah bangun dan diam-diam saja. Alhamdulilah..

Tiba di rumah, Mertua dan adik-adik ipar menyambut kami. Lihat wajah-wajah baru, Athar kembali nangis *asli emaknya pengsan cantik* hikz.. Tapi, akhirnya dibujuk sama Mama mertua. Karena menyusui dan perjalanan panjang, saya gak puasa, masakan Mama mengobati peningku selama 8 jam perjalanan yang meneganggkan.

Perjalananku yang bikin jantung mau copot dan pingsan itu, terbayar dengan keramahan keluarga besar Abang, masakan Mama yang super lezat dan kunjungan wisata di Pekanbaru. Rasanya, worth it, lah, apa yang kualami di perjalanan pertama.

Rendang

Rendang lezat buatan Mama

Camera 360

Lebaran pertama keluarga kecilku

Gimana dengan perjalanan pulang? Tak seburuk dan creepy perjalanan pertama. Saat pulang ke Solo, Athar alhamdulilah anteeeng benerrr. Walau, nunggu pesawat ke Solo lumayan lama, sekitar tiga jam di Garuda Lounge, Athar gak rewel.

Camera 360

Lagi nunggu di Garuda Lounge

Beranjak dari pengalamanku itu, saya pun berjanji tidak akan pernah traveling bersama Athar sendirian, alias cuma berdua, minimal tiga orang, entah itu sama Mama atau Abang. Kejadian kemarin itu bikin sedikit trauma. Padahal, itu adalah kali kedua Athar naik pesawat, sebelumnya umur 2,5 bulan sewaktu pulang ke Manado, Athar anteng saja ketika harus pindah bandara dan pesawat 3x.  Jika ingin traveling bersama anak, pilihlah maskapai yang ramah dengan anak. Pengalaman menggunakan Garuda, kami para Emak memiliki anak selalu didahulukan ketika naik pesawat dan mendapat nomor bangku depan, ditambah dapat tas pocket untuk anak, yang berisi; pampers, tissue basah, bedak, mainan. Enak bukan?

Ini adalah mudik pertama, paling seru dan takkan terlpukan yang pernah saya alami. Athar memang hebat! Hebat bikin emaknya peniiinggg, bikin pengen nangis, pengen lompat dari pesawaaat *lebay*, dan hampir saja diturunin sama Pak Pilot hikz..

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway "My Itchy Feet…Perjalananku yang tak terlupakan"

23 Comments

  1. noe
  2. ranny
  3. Lidya
    • ranny
  4. Joddie
    • ranny
  5. rodamemn
    • ranny
    • ranny
  6. Liza
    • ranny
  7. Inna Riana
    • ranny
  8. Edi Padmono
    • ranny
  9. ndop
    • ranny
    • ranny
  10. indah nuria savitri
    • ranny

Reply