Lelaki Hujan

Entah kenapa, hujan sore ini membawa satu rasa yang menelusup hangat didadaku, rindu dan kenangan.

Ingatanku melayang ke sosok Lelaki yang tidak begitu menyukai hujan. Setiap kali berjalan dengannya, dan tiba-tiba hujan, Lelaki itu selalu menolak untuk sepayung denganku, dia lebih memilih berjalan didepanku dan membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Sering kali saya merajuk dengan sikapnya itu, tapi dia hanya tersenyum dan berkata "tidak apa-apa, tidak akan sakit". Karena sikapnya itu, saya menamainya Lelaki Hujan.

Bertahun bersamanya, ada satu rasa yang tak pernah pudar, nyaman. Walau jarak bermil-mil memisahkan, pertemuan yang bisa dihitung dengan jari, rasa itu terus bertahan.

Orang-orang selalu skeptis dengan hubungan kami. Kata mereka, tak ada hubungan yang bisa bertahan dengan jarak. Tapi saya tak mempedulikan, toh yang menjalani kami berdua.

Ternyata kenyataan berkata lain, saya patah, tidak kami berdua patah. Hubungan selama bertahun, harus usai di pertigaan jalan. Benarlah kata mereka. Saya marah, kecewa, membencinya. Saya benar-benar jatuh. Hari-hari dihiasi tangis dan penyesalan. Saya mempertanyakan konsep menyatu dalam hubungan?! Kenapa dua insan yang mencinta tidak bisa menyatu?! Mencintai tak harus memiliki, jawab mereka, ahh omong kosong!! Saya mencoba bangkit dari keterpurukan. Saya memulai hubungan dengan Lelaki lain. Tapi ternyata saya belum mampu menyingkirkan dia dari pikiran dan hatiku. Di saat saya tertatih untuk bangkit, saya mendengar kabar dia berhubungan serius dengan seorang wanita yang sekota dengannya. Dan sekali lagi, saya pun terjatuh dalam kubangan kesedihan. Saya mencoba mencari tahu tentang wanita itu, bagaimana rupanya, apa kerjaannya, yang beraninya merebut hati Lelaki Hujanku. Tapi nihil hasilnya. Saya berduka.

Pada suatu ketika, Lelaki Hujan tiba-tiba menghubungiku, menanyakan kabar. Saya sungguh girang tak kepalang, tapi saya sudah berdua dengan yang lain, begitu pun dia. Euforia sesaat ternyata. Sejak itu, komunikasi pun mulai dibangun kembali. Ternyata kami tak bisa mengingkari, cinta dan rindu masih saling memiliki.

Dan takdir pun menjawab semuanya.

Ahh, bulir air mata merembes dengan sendirinya di pipiku. Kenangan yang selama ini kukunci rapat, akhirnya terbuka juga. Hujan di luar sana sudah berhenti menyisakan butir-butir hujan yang menempel di jendela kamar. Saya masih berdiri di sudut jendela, memandangi jalanan yang basah sehabis hujan.

Lamunanku terhentak seiring bunyi ponsel.

SuamiGanteng calling..

Senyum pun menghiasi wajahku. Ya, rindu ini akan selalu milik Lelaki Hujan. Takdir pun menjawab, kami menyatu. Segala kenangan, cinta dan rindu membuat kami sadar, bahwa kami memang ditakdirkan menyatu setelah melalui jalan penuh kerikil, terjal dan persimpangan.

**

Untuk 10 tahun yang dilalui dengan keringat, tangis dan tawa. Terima kasih sayang. Semoga tidak hanya 10 tahun tapi seribu tahun kita bisa bersama. Semoga bisa melalui jalanan yang penuh kerikil, terjal, persimpangan. Walaupun harus berhenti sejenak,sambil beristirahat, mempersiapkan bekal untuk melanjutkan perjalanan, semoga kita bisa berjalan kembali berdua sambil bergandengan dan tertawa.

Always have, always will.. :*

Posted with WordPress for My Blog

2 Comments

  1. Lidya

Reply