Kota Baru dan Sejumput Rindu

Saya tak pernah bermimpi untuk memulai suatu kehidupan yang baru di umur 27 tahun.

Kehidupan yang baru ditandai dengan hadirnya seorang lelaki yang menemani hari-hariku dan sebuah kota baru yang berbeda dari kota yang telah 27 tahun saya pijaki.

Baru, ya semuanya baru. Dan saya harus memulainya dari titik 0. Menjalani kehidupan baru dengan cara saya, oh no I don’t think so, tapi dengan cara kami berdua.

Sedikit me-rewind mimpi-mimpi yang tersusun rapi dalam rak ingatan, saya bermimpi akan menjelajah kota-kota di pulau Jawa,bermimpi akan kuliah di luar kota Manado, bermimpi akan menikah dengan orang luar kota Manado, bermimpi akan menjadi ibu rumah tangga.
Dan, ternyata mimpi-mimpi itu dibayar lunas dengan caraNya. Tidak sekejap mata berkedip, tapi dengan sebuah adonan harapan, usaha dan doa
.
Orang-orang selalu berkata, bahwa kehidupan sehabis nikah adalah kehidupan yang sebenarnya. Bukan berarti kehidupan sebelum nikah adalah kehidupan yang tidak sebenarnya, tapi apa yang kita hadapi, pelajari, rasakan sebelum kehidupan nikah harus bisa kita kolaborasikan kedalam kehidupan sehabis nikah.
Ribet yah? Tidak juga, karena kita pasti akan mengalaminya.
Tak perlu saya berfilosof mengenai kehidupan dan segala isi didalamnya,karena saya bukan ahli filosof.

Saya lagi menikmati, mencerna kehidupan baru saya ini. Kehidupan yang bagi saya adalah mimpi-mimpi yang terwujudkan.
Banyak yang menyayangkan saya berhenti kerja. Saya hanya bisa tersenyum, saya memilih kehidupan baru saya ini, berarti saya siap meninggalkan “kemewahan” hidup seorang wanita karir.
Ya,dan inilah saya. Disini.

Selama 27 tahun saya tidak pernah terlepas dari kota Manado. Kali ini saya harus bisa menata emosi, kerinduan akan tiap lekuk kota kelahiran saya.
Di kota baru ini, saya harus bisa menahan bulir air mata, jika kerinduan akan orang-orang tercinta menyeruak tiba-tiba. Harus bisa beradaptasi dengan makanan yang tidak ada rasa pedasnya. Terlebih suasana rumah yang berbeda 180 derajat.
Ya disini saya tidak bisa mendengar suara teriakan Ma’Lili, Kak Jia, ataupun rengekan sumaya, suhail, naya, atau anak-anak perempuan yang beranjak ABG dan suka pecicilan seperti manda, jana, puput, nazla, sarah. Terlebih dengan keributan ibu-ibu pelangi yang selalu heboh dengan model kaftan dan jilbab terbaru,akan malam-malam yang selalu ceria dengan cerita yang tak pernah usai. Ahhh, saya rindu kalian!!!
Tapi, inilah saya. Disini, di kota baru dengan setumpuk kerinduan akan kota kelahiran saya.

Saya memilih dan saya harus bisa menjalani bukan. Dan saya tidak pernah menyesal, karena mimpi-mimpi telah terwujudkan.
Untuk kalian, terima kasih.

Solo, 230512 at 11.30 am

Tags:,

4 Comments

  1. Iqlima
  2. Mayya
  3. tri

Reply