Dunia Takkan Berakhir Jika Tak Ada Gadget

Di zaman yang serba praktis ini, kehadiran gadget bak belahan jiwa, tak bisa dipisahkan. Coba kita hitung, dalam sehari berapa menit atau jam, sih, kita tidak memegang gadget?

Akhir-akhir ini saya agak mengurangi aktivitas di dunia maya. Biasanya rajin ngetuit, kini sangat jarang menjumpai tweet saya. Mungkin hanya ada upload foto dari instagram yang kemudian saya share ke akun facebook dan twitter. Begitu juga di facebook, mungkin yang berteman dengan saya jarang melihat saya update status. Sekedar komen itu yang saya lakukan. Entah kenapa, semangat untuk wara-wiri itu lagi berada di titik nadir. And im glad for it! Loh, kok bisa?

Wanna hear my story? Dengerin yaa, iya, yaa 😀

gadget

Di saat saya berada di titik nadir, saya sadar bahwa saya sudah memasuki area JENUH. Hal yang wajar bagi saya. Saya sudah gak tau mau nyampah apalagi, padahal banyak yang ingin disampahin *mbulet*. Pada akhirnya, apa yang ingin saya sampahkan lesap begitu saja, atau terkadang saya curhat ke suami. Nah, selagi saya absen di dunia per-twitter-an dan per-facebook-an, saya mendapatkan sesuatu. Apa itu? Waktu yang lebih dengan Athar dan keluarga.

Berharga gak sih?

Absoluetly, yess!! Sungguh, tidak memegang gadget perhatian ke Athar tercurah 100%, bisa mengawasinya bermain dan ikut tertawa atas tingkah lucunya. Tapi, namanya manusia, ya, tak luput dari godaan. Terkadang, saya menyempatkan untuk membalas BBM, WhatsApp atau sekedar membaca notifikasi. Just it, sehabis itu saya letakkan kembali gadget agak jauh.

Mama termasuk orang yang membenci gadget garis keras. Kenapa? Kata Mama, gadget itu setan! Laaah… Ya iya, kalau sudah pegang gadget apa yang ditanyain Mama pasti gak ngeh atau lama jawabnya. Dan yang paling bikin jengkel Mama, jika di suruh dan kita lagi pelototin BBM pasti apa yang diperintahkan akan mendapat jawaban ‘iya’ tapi iyanya lama banget dibikin. Dan, saya harus akui, saya sering melakukannya. Makanya, saya bersyukur dengan keadaan jenuh ini.

Dunia dalam genggaman, tapi..

Penyakit gadget ini menurutku merusak hubungan sosial. Kenapa? Karena jika sudah asyik dengan gadget entah apa yang dibikinnya, kita akan melupakan orang di sekitar. Kita akan ketawa dengan apa yang ada di layar dan orang di samping pun seperti kambing congek. Pernah merasa seperti itu? *ngacung paling tinggi* .

Saya tak bisa memungkiri, saya dan suami kadang tenggelam dengan gadget masing-masih di ruang publik. Dan saya sadar itu tidak baik. Saya pun mulai menguranginya, kalau lagi jalan sama suami, dia sudah tahu kalau saya tidak suka dia main-main gadget, apapun itu. Kecuali ada urusan kantor, tapi seminimal mungkin gadget itu disingkirkan. Apalagi sekarang ada Athar, rasanya terlalu egois membiarkan Athar dan kita larut dengan gadget

Bahkan sekarang ada pepatah baru : Yang jauh terasa dekat, yang dekat terasa jauh. Miris tapi begitulah kenyataan sekarang ini.

Satu yang saya sadari, quality time itu perlu.  Pasti dong. Coba kita sehari tanpa gadget atau jika itu terlalu ekstrim, beberapa jam saja tanpa gadget, apa yang akan terjadi? Many things will be happen! Im sure it! Segala bentuk kemalasan pastinya akan berkurang, apa yang belum diselesaikan akan bisa terselesaikan. Apalagi weekend seperti ini, alangkah baiknya konsentrasi kita pada keluarga setelah selama enam hari suami dan kita berkutat dengan pekerjaan. Anak-anak tidak butuh materi berlimpah, sebuah perhatian kecil akan apa yang sedang dilakukannya dan kita turut serta di dalamnya sudah lebih dari cukup bagi dia.  🙂

Postingan ini hanyalah sekedar unek-unek saya. Tidak semua temans, merasakan hal yang sama. Dan saya juga tidak memaksakan untuk seperti saya. Gadget juga mempunyai manfaat besar dalam hidup, tapi kita harus pintar-pintar memanfaatkannya.

So, sehari tanpa gadget? Gak Masalah dong! ^.^

Selamat berakhir pekan. Selamat bulan Maret.

11 Comments

  1. ranny
  2. Idah Ceris
    • ranny
  3. TONGKONANKU
    • ranny
  4. Blogs Of Hariyanto
  5. ndop
  6. Tanti Amelia
  7. Arifah Abdul Majid (@arifah_feibiii)
  8. belalang cerewet
  9. Liza

Reply