Sepucuk Cerita Tentang Perjalanan Enam Dekade

Suara petir di luar sana membuat jemariku menghentikan ketukan di atas keyboard. Saya menoleh ke arah luar jendela. Langit kelam dan sepertinya beberapa menit lagi akan turun hujan. Lamunanku terganggu dengan hentakan lagu rap Iggy Azalea yang berasal dari ponselku. Sebuah nama muncul di layar ponsel, tanpa ragu kugeser tombol berwarna putih hijau ke arah kanan.

“Assalamualaikum, lagi apa?” tanya suara di seberang.

“Waalaikumsalam. Biasa, Ma, ngetik,” ujarku sambil menggeser laptop ke samping bantal.

“Mana Athar dan Kei?” lanjutnya.

Lalu sederet pertanyaan mengalir dari suara yang akrab di telingaku selama berpuluh tahun. Ringan, tegas dan kental dengan medok Manado. Biasanya saya akan menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk bercerita tentang apapun dengan Mama. Apapun mulai dari keseharian anak-anak, masakan, apa yang lagi ditulis hingga topik Mamah Dede pagi tadi. Ah, ya, Mama memang jemaah tetap Mamah Dede.

Selesai menutup telepon, ada sedikit rindu yang membuncah akan sosok Mama. Bulan ini adalah bulan kelahirannya. Biasanya saya dan Cici akan mengajak Mama jalan keliling mal dan makan. Sejak menikah hal ini sulit untuk dilakukan karena jarak yang membentang ribuan kilometer.

Akan kuceritakan satu kisah. Namun, ini bukan kisah saya. Sama sekali bukan. Ini adalah kisah seorang wanita Tionghoa yang besar di Indonesia Timur, yang telah melalui serangkaian manis-getir kehidupan selama enam dekade.

Tentang dia, seorang wanita Tionghoa dari Indonesia Timur

Mama lahir dan besar di Manado. Tapi, darah Tionghoa mengalir kental di dalam tubuhnya. Ya, orangtua Mama adalah warga asli Tionghoa khususnya Kungkung berasal dari Kanton. Lahir dari golongan minoritas dengan ekonomi pas-pasan di kala itu, membuat Mama di masa muda ikut membanting tulang membantu Apo dan Kungkung.

usia-cantik2

Sejak muda Mama sering melakukan perawatan kecantikan di rumah. Penampilannya pun fashionable untuk ukuran zaman itu. Dan hal tersebut masih terbawa hingga kini. Iya, kini ketika usianya sudah senja. Selain membantu kedua orangtuanya, Mama pun mengasuh anak-anak kakaknya. Di usianya yang masih muda, Mama telah belajar menjadi seorang ibu rumah tangga.

Kepingan kenangan yang begitu melekat dalam ingatan adalah bagaimana Mama melayani Papa dan memenuhi segala kebutuhan ketiga anaknya. Setiap pagi, teh hangat dan roti sudah tersaji di meja makan. Pakaian seragam kami sudah rapi disetrika siap untuk dipakai, pakaian kantor Papa hingga kaos kaki pun tak luput dari perhatian Mama. Ahh, ada satu pemandangan romantis yang sering saya saksikan dan sukses mengukir segaris senyum di wajahku. Ciuman romantis di jidat Mama sebelum Papa keluar rumah untuk bekerja. Iya, Papa dan Mama adalah pasangan romantis favorit saya.

Kalian tahu, kepingan kenangan itulah yang sukses membuat saya memiliki impian untuk menjadi ibu rumah tangga setelah menikah dan kini berhasil kuwujudkan.

Kecantikan khas wanita Asia Timur

Tak bisa dipungkiri kecantikan wanita Asia Timur memiliki ciri khas tersendiri. Kulit kuning langsat, tinggi tubuh kurang lebih 160 cm, bermata sipit adalah gambaran umumnya. Dan Mama memiliki kesemuanya.

Berbicara tentang kecantikan wanita Tionghoa, saya teringat salah satu aktris yang menjadi icon negeri Tirai Bambu tersebut, Gong Li. Memang sih, kecantikan Mama tidaklah sebening Gong Li, tapi mereka sama-sama telah melewati usia cantik dan masih rutin melakukan serangkaian perawatan untuk menjaganya.

gong-li

Saya masih ingat dengan jelas, para tetanggaku sering kali bertanya, “Ci Hui, pakai produk apa sih kok awet banget?” dan di lain hari, “Ci Hui masih rajin aerobik, ya? Tubuhnya begitu terus nggak gemuk dan kurus, mau dong ikutan aerobik.”

Kalimat-kalimat tersebut bukan sekali dua kali saya dengar tapi berkali-kali! Entah itu tetangga datang ke rumah ketika berbelanja di warung maupun yang ketemu di jalan.

Apa yang telah Mama lakukan sejak memulai usia cantik ternyata sukses membuatnya menjadi inspirasi dan motivasi bagi orang lain.  Jadi, wajar bukan jika saya mengatakan bahwa Mama dan Gong Li memiliki kesamaan yaitu memiliki inner beauty dan mampu memotivasi orang lain untuk terus tampil cantik.

Kalian tahu, ada sebuah kalimat yang sering Mama ucapkan berkali-kali pada saya.

“Ranny, jadi perempuan itu harus senantiasa menjaga kecantikan. Bukan untuk orang lain tapi untuk diri sendiri. Apalagi kamu sudah menikah, penting banget untuk selalu tampil cantik. Jangan sampai alasan ngurus rumah bikin kamu nggak bisa menjaga kecantikan!”

Nasihat singkat dari Mama itu begitu menohok. Kalimat tersebut selalu terngiang kala tubuh ini mulai letih dan malas beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan wajah. Barangkali ada mantra magis yang Mama selipkan di kalimat tersebut, membuat saya sukses untuk mengangkat pantat dan melangkahkan kaki ke kamar mandi!

Sebentar, kalian mau tahu nggak apa yang Mama lakukan dengan perkara kecantikan ini?

Mama rutin melakukan perawatan di rumah seperti memakai masker alami dari kulit jeruk dan tomat. Melakukan serangkaian perawatan dari produk dengan menggunakan cleansing milk, toner, sunblock, alas bedak, serum dan krim malam. Bisa diakui, hal tersebut membuat kulit wajah Mama masih kencang dan terjaga. Di rumah, Mama selalu tampil cantik natural. Sehabis mandi sebelum Papa pulang kantor, Mama bersolek dengan memakai krim wajah, menggaris alis, mengoles tipis lipstik dan menggaris mata dengan eyeliner.

Ah, Mama, selalu saja memukau dengan penampilan sederhananya.

Mama – Wanita yang telah menggenapi usia cantik

Perawakannya masih tegap walau usianya sudah senja. Rambutnya sengaja dicat bright brown untuk menutupi uban yang tumbuh hampir di seluruh kepala. Kulit kuning langsat khas wanita Asia Timur masih terlihat kencang untuk ukuran wanita di usianya. Keriput? Ahh, hanya sedikit saja terlihat di area mata. Selebihnya? Tidak ada! Alis mata selalu terukir sempurna setiap dia keluar rumah. Cara berpakaiannya pun tidak terlihat bahwa dia sudah memiliki tiga cucu.

Tetap fashionable di usia senja

Tetap fashionable di usia senja

Saya bertaruh penuh, kalian akan mengatakan saya berhalusinasi dengan deskripsi di atas. Saya tidak sedang mengiggau ataupun ber-delusional ria. Hal itu nyata. Itulah sosok Mama.

Mama telah melewati serangkaian perjalanan usia yang panjang dan pastinya melelahkan. Kini, Mama berada di perjalanan usia enam dekade, tiga tahun lagi dia akan menggenapi ke tujuh dekade. Suatu prestasi bukan, jika seorang wanita mampu menjaga kecantikan fisik dan inner beauty-nya?

Teman, di bagian ini saya akan berbagi lagi tentang potongan-potongan kenangan. Tentang Mama dan cerita usia cantiknya.

Konon, usia cantik itu dimulai dari 35 tahun hingga 45 tahun. Kalau begitu, Mama sudah menggenapinya.

Menginjak usia 30-an, Mama memutuskan untuk mengembalikan bentuk tubuh setelah bertahun-tahun mengurus Cici dan Koko. Aerobik, menjadi pilihan utama Mama. Hampir kurang lebih lima tahun Mama rutin melakukannya, hingga dua tahun sebelum memasuki usia empat puluh Mama hamil lagi dan lahirlah saya.

Rupanya, aktivitas aerobik ini telah mencuri hati Mama.

“Aerobik ini salah satu bentuk kesenangan Mama. Mama merasa lepas dan senang saat melakukannya,” ujar Mama di suatu ketika.

Saya masih ingat dengan jelas, Mama rutin melakukan aerobik tiga kali seminggu. Pakaian olahraga berwarna-warni dan ketat itu mulai menggunung memenuhi salah satu sudut lemari pakaian. Kecintaannya pada aerobik akhirnya surut sejak tiga tahun lalu. Saat Mama harus rela menebas ribuan kilometer demi menengok cucunya di Solo.

Selain aerobik, Mama tak pernah absen untuk menabung kalsium. Ya, Mama rutin minum susu sehari sekali setiap hari. Dan ini menjadi satu ritual paten yang dilakukan Mama hingga kini.

“Kenapa sih kamu nggak mau minum susu? Ini bagus loh untuk tulang kamu biar nggak cepat keropos biar kuat juga saat jalan.”

Kalimat ini selalu menjadi pamungkas ketika Mama meminta saya untuk rutin minum susu. Sayangnya, saya seringnya malas untuk melakukannya.

Ternyata, manfaat menabung kalsium ini sukses membuat tulang-tulang Mama tidak keropos, mampu menapaki tangga-tangga terjal Candi Borobudur hingga masih setia dengan sandal wedgesnya ke manapun Mama pergi.

Masih tetap setia dengan sandal wedges saat melakukan traveling

Masih tetap setia dengan sandal wedges saat melakukan traveling

Mama adalah sosok panutan dalam hal mengatur keuangan keluarga.

Disiplin yang Mama tanamkan untuk setiap sen uang keluar dan masuk, sukses membuat Mama dan Papa menyekolahkan kami bertiga hingga perguruan tinggi. Barangkali sudah bawaan gen bahwa orang Tionghoa itu pintar berdagang. Mama pun begitu. Walaupun gaji Papa sebagai karyawan swasta sanggup untuk memenuhi kebutuhan dan uang sekolah, tapi Mama menyokong keuangan keluarga dengan berjualan. Mulai dari perlengkapan rumah tangga, pakaian, kue hingga masakan.

Mama adalah sosok piawai melihat peluang dari hobi.

Baking dan mencoba resep baru adalah hobi menghasilkan uang yang Mama lakukan disela rutinitas ibu rumah tangga. Setiap Lebaran maupun Natal, kami banjir orderan kue kering dari teman-teman dan keluarga. Salah satu masakan yang menjadi favorit dan sering dipesan adalah gulai kambing. Mama pintar meramu bumbu-bumbu seperti jintan, ketumbar, bawang merah, bawang putih, pala, cengkih yang menghasilkan seporsi gulai kambing di mana sekali menyantapnya dijamin akan ketagihan! Gulai kambing resep Mama berbeda, citarasa bumbunya menancap kuat sejak sendokan pertama. Inilah yang membuat menu satu ini sering dipesan dan menjadi primadona ketika open house Lebaran di hari pertama.

Mama sering mengajari saya bagaimana menghitung laba dan rugi akan satu penjualan barang, bagaimana membuat pembukuan sederhana. Kalian tahu, Mama bukanlah lulusan akuntasi terbaik, dia hanyalah tamatan SMU tapi jangan coba diadu perihal berdagang dengannya! Mama memang tidak mengenal teori marketing dari Philip Kotler tapi dia sukses menjual barang-barang dengan ‘teori sederhananya’. She’s a trully mompreneur.

Saya menyukai potongan kenangan kala Mama berusia 40-an.

Saat itu, Mama dan Papa sering mengunjungi kafe, berkumpul dengan teman-teman dan berdansa! Iya, berdansa. Tubuh Mama-Papa lentur bergerak mengiringi irama musik. Sebut saja tango, waltz, cha-cha dikuasai dengan mahir oleh mereka berdua. Kadang kala, di sore hari, Papa sering memutar lagu Latin dan tanpa dikomando mereka berdua mulai menggerakkan tubuh mengikuti alunan musik. Saya berdiri menyaksikan mereka berdua berdansa dengan senyum lebar terukir di wajah. Saya mau pintar berdansa seperti Mama!

“Mama, ajarin saya berdansa,” ujarku.

“Sini sama Papa,” seru Papa sambil mengambil tanganku dan mengajariku langkah dasar waltz.

He’s my first waltz. Papa. Sayangnya, saya tidak juga pintar berdansa tango maupun waltz seperti Mama, hanya cha-cha saja itupun sudah lupa gerakannya.

Sebentar, kalian percaya bukan bahwa seorang Mama adalah ‘dokter’ untuk keluarganya?

Cici adalah seorang dokter tapi bagi kami yang dokter adalah Mama. Bagaimana tidak, Mama lebih cerewet perihal kesehatan dibanding dokter asli. Mama juga hobi membaca buku kesehatan khususnya gizi. Jadi, jangan heran jika Mama memilih untuk mengonsumsi sayur dan buahan dibanding pizza maupun cairan kafein. Mama adalah bukti nyata, seseorang yang sangat peduli dengan kesehatan. Dia rajin cek up kesehatan sejak di penghujung usia cantik terkena asam urat dan kolesterol. Barangkali satu anugerah bahwa Cici adalah dokter yang memudahkan Mama untuk rutin cek up secara gratis.

I love her style!

I love her style!

Selera fashion Mama yang kasual dan long lasting bikin saya menjadi seorang plagiator fashion! Huh! Saya meniru bagaimana Mama berpakaian. Bagaimana Mama menjadikan heels sebagai teman setia setiap langkah. Bagaimana kecintaan akan tote bag membuat saya mencintai hal yang sama.

Sebagaimana ada kenangan baik, di sana pun sebuah cerita akan kenangan yang tak menyenangkan selama perjalanan usia cantik.

Mama bukanlah malaikat yang perjalanan hidupnya tak ada kerikil maupun kelokan. Menginjak usia cantik, Mama harus merelakan kepergian berturut Apo dan Kungkung. Belum lagi perkara ipar-ipar membuat Papa dan Mama memutuskan untuk hengkang dari rumah Nenek. Saya tahu pergulatan batin Mama menghadapi mereka. It’s not an easy one. Tapi, Mama tegar melewatinya.

Melewati usia cantik, kembali Papa dan Mama dihadapkan dengan kenyataan bahwa sumber keuangan itu terhenti. Iya, Papa memutuskan untuk pensiun dini. Setelah berembuk, uang pensiun Papa digunakan untuk membangun usaha kecil di rumah, warung. Dari situlah, Papa dan Mama mampu menyambung lagi uang sekolah kami bertiga.

Tanggal 16 bulan April, tujuh tahun lalu…

Badai kehidupan berhasil menghempas kami ke titik nadir. Separuh jiwa Mama berpulang menghadap Ilahi. Mama terluka pun dengan kami. Papa pergi tanpa meninggalkan pesan. Butuh bertahun bagi Mama untuk bisa kembali tersenyum dan tertawa lepas.

usia-cantik6

Percayalah, sepucuk cerita tentang perjalanan enam dekade ini membuat saya bersyukur terlahir dari rahimnya. Mama adalah sosok inspirasi kehidupan yang saya punya.

Sebentar lagi usianya akan menginjak enam puluh tujuh tahun, tapi sisa kecantikan fisik dari usia cantik masih nampak. Inner beauty yang dimilikinya selalu membuat saya kagum.

Barangkali sudah saatnya saya pun mempersiapkan diri untuk memasuki usia cantik. Saya ingin bisa tegar seperti Mama yang bisa melaluinya dengan mulus.

Usia cantik bukanlah perkara kecantikan fisik tapi bagaimana kita merayakan kecantikan yang dimiliki, menjadi diri sendiri dan bisa memotivasi sekeliling kita. Apalah artinya kecantikan fisik tapi inner beauty tidak kita punyai. Dan jadilah wanita mandiri dengan mengembangkan passion yang dimiliki. Niscaya, hidupmu akan lebih bernilai dan bermafaat.

Semoga sehat selalu, ya, Ma dan selamat menyongsong hari lahir.

“Ma…” Suara lembut dan sentuhan lembut dari tangan mungil membawaku kembali dari pusaran kenangan.

Kisah ini berakhir di sini. Sudah terlalu panjang dan saya harus melanjutkan kembali rutinitas ibu rumah tangga.

Apakah kalian percaya akan daya magis kecantikan di usia cantik? Jawaban pertanyaan ini ada di dalam diri kalian. Dan kalian yang memutuskannya.

**

“Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.”

36 Comments

    • ranny
    • ranny
    • ranny
    • ranny
    • ranny
    • ranny
    • ranny
    • ranny
    • ranny
    • ranny
    • ranny
    • ranny
    • ranny
  1. Ety Abdoel
    • ranny
    • ranny
    • ranny
  2. Ana Ike
    • ranny
  3. Liza
    • ranny

Reply