Rumah

ya…., pulang. pada satu kota tempat saya dilahirkan.

mungkin tak bisa disangkal, bagian ini sudah menjadi suatu rutinitas, dan segala sesuatu yang merupakan rutinitas tidak lagi menyenangkan. tapi tidak dengan kata pulang. pulang tak pernah tidak menyenangkan. saya selalu merasa excited, berdebar – debar, meski perjalanan ini sudah saya lakukan berulang ulang. banyak hal terjadi dalam beberapa tahun kepergian saya dari kota kelahiran. dan selalu saja, saya menemukan banyak kejutan.

setiap saya memulai perjalanan pulang, saat itu ingatan saya akan terpelanting ke momen pertama kali saya pergi. lalu pada cerita cerita setelahnya. pada perkenalan dengan seorang teman di bangku bis kota, pada bapak bapak tua yang menemani saya berkata kata, pada pengamen bersuara iwan fals, dan kaka slank yang dengan muka riang menyanyikan lagulagu permintaan saya, pada banyak hal kecil laennya yang mengukir ingatan saya. mungkin karena itulah, saya lebih menyukai perjalanan sendirian, segala yang ada lebih mudah untuk diabadikan.

dan pulang seperti menampar saya. yah, saya tau, hidup adalah rangkaian pilihan dengan konsekuensi yang membuntutinya. saya tidak pernah menyesali keputusan saya untuk pergi ketika itu, tapi ketika menemukan uban dan gurat di wajah kedua orang tua saya yang makin menua, mau tak mau membuat saya merasa bersalah. bukan merasa bersalah karena mereka semakin senja, tapi merasa bersalah, atas sedikitnya waktu yang saya habiskan bersama mereka. waktu yang panjang seperti terangkum, dan saya, hanya mencicipi ujung ujungnya saja.

begitulah, kenapa kali inipun saya masih saja bersemangat untuk pulang. bukan karena saya tidak merasa tempat saya berada sekarang adalah sebuah rumah, melainkan ada rumah lain yang terus saya rindukan. rumah yang selalu saja memberikan saya nostalgia nostalgia. mungkin kali inipun saya tak akan lama, tapi waktu yang ada pastilah sangat berharga, sebelum akhirnya saya kembali mengemasi bekal perjalanan, dan mengatakan pada mereka, kalau saya akan pulang, ke tempat saya berdiam sekarang.

rumah adalah tempat dimana hati berada. dan rumah saya, adalah masa lalu. dan kekinian ketika saya ada

“Ku alunkan rinduku selepas aku kembali pulang, takkan ku lepaskan dekapku.. karena ku tau pasti aku merindukan mu seumur hidupku.. selama-lamanya” PADI – Perjalanan Ini

3 Comments

  1. Lidya

Reply