Otak dan Otot (Sebuah realita ketidak adilan)

Perhelatan Sea Games di Thailand usai sudah. Hasilnya pun cukup memuaskan bagi kontingen Indonesia, dimana kontingen Indonesia menduduki peringkat ke 5. Berbagai janji dilontarkan untuk memotivasi para atlet-atlet. Bagi atlet yang bisa meraih emas hadiahnya berupa uang sebesar Rp. 200.000.000 . Angka yang cukup fantastis (bagi gw :D).
Beberapa waktu lalu oleh Menpora Adhyaksa Dault, diserahkan uang bagi altlet-atlet yang telah meraih emas, perak maupun perunggu. Hadiahnya ya tetep sama uang sebesar dua ratus juta rupiah bagi pemegang emas (bayangkan jika ada atlet yang mendapatkan 2 medali emas atau lebih!! angkanya digandakan..Wow) dan bagi para pelatih (hanya) mendapatkan Rp. 25.000.000 (saja) dan dijanjikan akan mendapatkan sebuah rumah tapi sampai sekarang belum ada kepastian yang jelas mengenai pemberian rumah itu. Beberapa pelatih terlihat tidak mau menerima uang tersebut hmm (kurang yah pak :D).

Hari minggu nan damai dan hujan pun menghiasi langit malam kota manado disertai angin kencang, gw ma cici (kk ce) serta temen cici lagi asyik duduk di sofa popeyes. Sambil menikmati kentang goreng pluz teh botol yang dipesen, gw membuka koran kompas yang gw beli tadi di gramedia. Di halaman 16 di rubrik SOSOK, gw melihat seorang gadis kecil mungil berkalung kan medali emas dan memegang piala. Judulnya “Winnie, Raih Emas Olimpiade Bermodal Ketekunan”. Gw tersenyum bangga atas prestasi gadis mungil ini yang ternyata masih duduk di bangku kelas 6 SD di Sutomo 1 Medan . Di tengah hiruk pikuk modernisasi dimana-mana, ternyata masih ada yang mau belajar dan meneliti mengenai sesuatu hal yang kadang kala dianggap membosankan bagi sebagian pihak.
Winnie kecil ini berhasil menyisihkan saingan terkuatnya dari kontingen Singapore.
Ujian pertama adalah ujian eksperimen dimana para juri meminta Winnie merangkai beberapa sirkuit elektronik. Dia diharuskan menyusun rangkaian sirkuit dengan papan dilengkapi sakelar serta idikator led dan baterai dan harus diberi penjelasan tentang reaksi elektronik setiap rangkaian. (gw jadi mumet mikirnya).
Ujian kedua yang mengantarkan Winnie menjadi terbaik. Ia diminta melakukan uji coba terhadap beberapa zat kimia dengan peralatan ( termos air panas, selang, termometer, tempat air yang mirip rol gulungan film dan gelas kosong. Bahan yang disediakan ragi, dua jenis tepung halus bentuknya seperti gula dan garam , serta zat pewarna). Asli gw melongo waktu membaca ini coz kalo gw yang dihadapkan dengan hal tersebut yang ada gw hanya akan melongo dengan sempurna :D, gw ampe geleng-geleng kepala karena kagum sama kepinteran gadis mungil ini.
Dan yang membuat gw trenyuh dan ingin memaki adalah pada paragraf terakhir dari ulasan sosok ini. Kutipannya :
” Hadiah uang tunai sebesar Rp 5 juta yang diraih karena prestasinya di IMSO ( International Mathematics and Science) ini akan dia serahkan ke panti asuhan. Alesannya sederhana, “Winnie mimpi, kalau bisa dapat juara, hadiahnya harus diberikan ke panti asuhan”.”
gw meringis, gw pengen nangis, gw pengen maki. Betapa mulianya hati gadis kecil mungil ini, sudah pintar hatinya pun sungguh mulia. Sungguh kombinasi yang sudah sangat langka di zaman sekarang ini. Gw sangat trenyuh dengan kemuliaan hatinya. Gw pengen maki karena mengapa di ajang seperti ini hadiahnya HANYA 5juta sajaaa???!!!! Inikah sebuah penghargaan terhadap sebuah “kepinteran”?

Dari Pemerintah pun tak ada penghargaan terhadap prestasi gadis mungil ini. Tidak ada sama sekali. Sungguh ironis dan sangat tidak adil, atlet dan gadis ini sama-sama mengharumkan nama bangsa tapi mengapa diperlakukan dengan tidak adil seperti ini. Gw sangat kecewa, ternyata otot lebih hebat dari otak. Sebuah fakta yang tidak menyenangkan dan harus kita terima. Dimana penghargaan Bangsa terhadap anak muda yang telah mengharumkan nama bangsa di ajang international dengan mengerahkan segala daya upaya untuk bisa menang. Di semua stasiun televisi berlomba-lomba untuk menanyangkan berbagai even-even olahraga baik nasional maupun internasional tapi mengapa di ajang olimpiade sains tidak ada yang berlomba-lomba untuk menayangkan secara live???
Padahal para bibit bangsa yang “berperang” di Olimpiade Sains, mereka adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya karena mereka yang akan membuat negara kita ini maju dengan kepinteran mereka, tapi sekali lagi sangat disayangkan Pemerintah menyia-nyiakan mereka.
Adakah yang bisa menjelaskan kepada gw mengapa slalu dan slalu ada pengkotakkan??
Ini adalah sebuah realita ketidakadilan…

Reply