Tentang Lelaki Kopi

kopi

Saya melirik jam tua berwarna hitam di dinding yang berdentang tujuh kali. Di saat bersamaan, pintu kafe terbuka lebar. Wangi musk tiba-tiba menguar di seluruh ruangan dibawa angin pagi. Ah, kamu! Pelanggan setia yang selalu datang tepat waktu tak peduli di luar sana hujan, mendung ataupun panas. Tak perlu kutengok ke arah pintu masuk. Wangi parfummu menjadi pertanda bahwa kamu telah ada.

Seperti biasa, kamu tak segera menuju bangku di pojok ruangan tapi mampir dulu ke mejaku menuliskan pesanan. Sekali lagi, tak perlu saya membaca tulisanmu. Pesananmu sudah saya hafal sejak kedatanganmu pertama kali di kafe ini. Machiatto with milk.

Lalu, kamu beranjak menuju bangku di pojok kanan ruangan di samping jendela. Tiga buah ponsel, berlembar kertas, sebuah catatan, pulpen dan kunci mobil teronggok tak beraturan di meja. Bunyi ponsel membuat bibir kecilmu tertarik ke atas membentuk segaris senyuman. Ah, siapa sih pemilik senyum kecilmu? Semenit, dua menit.. Kamu asik tenggelam dengan layar kecil, sesekali tertawa, sesekali menyesap kopi.

Mungkin kalian menganggap saya tak jauh beda dengan pengintai. Hmm, terlalu ekstrim istilahnya. Saya suka mengamati apa yang dilakukan lelaki itu tepatnya! Bagaimana tidak, hanya dia yang selalu berada di kafe ini sejak mentari mulai naik ke peraduannya. Saya pun berasumsi bahwa lelaki itu belum menikah. Tidak ada cincin pengikat di jemari manisnya. Kalaupun sudah menikah, tentunya dia tidak akan di tempat ini.

Jika kalian melihatnya, barangkali sedetik kalian akan menahan napas. Tinggi semampai, rambut pendek nan stylish dengan gel, rahang tegas, kacamata persegi dengan merk ternama membingkai mata kecilnya, hidung mancung, bibir yang tipis. Jas kasual dipadu kemeja, celana jeans dan boots menambah nilai plus bagiku.

Tapi, ada yang berbeda sebulan belakangan ini..

Kamu masih setia datang tepat waktu, memesan kopi yang sama. Tapi, senyum kecilmu hilang ditelan pagi yang menjelang. Hangatnya mentari tak mampu membuatmu tersenyum. Tak ada lagi, binar ceria di depan layar, tawa yang lepas. Hei, apa yang terjadi?

Kamu hanya memandangi ponsel dengan tatapan entah. Bunyi notifikasi tak kamu hiraukan. Apa kalian lagi bertengkar? Ah, saya mau tahu saja. Kamu menyesap kopi pun lebih lama dari biasanya. Dan sesekali, kamu melempar pandangan ke luar jendela sambil menggenggam cangkir. Lama.

Biasanya kamu menghabiskan sejam untuk menikmati secangkir kopi, percakapan di ponsel dan sesekali mencatat mungkin kerjaan kantormu. Tapi, sebulan belakangan ini, kamu seperti meredup, tak bergairah menyesap kopi. Cukup setengah jam saja, lalu kamu beranjak gegas seperti dikejar sesuatu.

Apakah cinta yang membuatmu seperti itu lelaki kopi? Ah, saya selalu sok tahu.

Semoga kamu baik-baik saja dengan dia yang entah siapa. Dia yang saya tahu selalu memancarkan binar di matamu. Dan sekali lagi saya sok tahu, dia yang mungkin membuatmu bersemangat menjalani hari.

Barangkali memang saya sok tahu. Cinta selalu mampu membuat seseorang tertawa ceria dan di saat bersamaan ada tangis pilu karenanya. “Jangan terlalu mendewakan cinta, nikmati saja cinta itu. Dia nggak akan pergi, selalu akan ada bahkan di tiap tawa dan tangis, hingga helaan napas.” Sebuah kalimat usang yang selalu diucapkan lelaki penikmat senja padaku bertahun lalu.

Saya tersenyum getir. Lelaki penikmat senja. Di mana kamu sekarang?

Cinta memang hanya cukup untuk cinta. Nikmati saja.

“Kopinya mbak?” Sebuah suara menarikku dari pusaran ingatan.

Saya mendongak. Lelaki kopi berdiri di depan mejaku sambil menggeser selembar uang.

“Terima kasih,” ucapku dengan senyum kaku.

“Anda nggak seperti biasanya,” ucapku tiba-tiba sambil menyerahkan dua lembar uang kembalian.

“Maksudmu?” tanya lelaki itu bingung.

Ah, memang saya ini sok tahu! Saya pun menjadi bingung menjawabnya.

“Uhm, nggak apa-apa,” jawabku terbata.

Lelaki itu tersenyum tipis, lalu berbalik menuju pintu meninggalkanku yang tengah merutuki kebodohan kali ini.

Semoga kamu baik-baik saja lelaki kopi. Nikmati cinta itu.

5 Comments

  1. ummi Amizah
  2. ndop
    • ranny
  3. @danirachmat
    • ranny

Reply