Prompt #21 : Tara

hujan2Kafe d’Espana penuh sesak siang ini. Aroma paella, cargols menguar ke seluruh ruangan. Mengingatkan akan pertemuan pertama dengan sang pemilik hatiku, Tara.

Kala itu aku sedang menyantap cargols sambil menikmati bias hangatnya matahari musim panas Barcelona. Sesosok gadis tiba-tiba berdiri di depanku sambil membawa nampan berisi paella dan esspreso.

Disculpe, puedo sentarme aquí?”

Aku mendongak menatap bola matanya yang hitam dan bundar menyipit ketika tersenyum padaku.  Sekilas, paras perempuan di depanku ini tak seperti perempuan Barcelona pada umumnya. Aku melirik ke kiri kanan, kursi-kursi kafe penuh terisi, tersisa satu kursi di depanku. “Si, senorita.”

Gracias.”

“Anda datang tidak tepat waktunya. Jam 2 siang seperti ini waktunya makan siang bagi warga Barcelona, jadi tak heran jika kafe ini ramai pengunjung.”

 Ia menganggukkan kepala sambil menyuapi paella ke dalam mulutnya. “Anyway, kita belum kenalan. Namaku, Tara.”

“Alex.”

 Cerita demi cerita mengalir dari bibir tipisnya. Tara berasal dari Indonesia. Ia baru seminggu berada di Barcelona, bukan sebagai turis tapi kurator di salah satu galeri seni yang berada di Carrer del Pi.

Sejak makan siang di kafe d’Espana itu, kemana pun kami selalu berdua. Benih cinta pun mulai tumbuh. Aku seperti pecandu yang sakau karena cintanya. Aku rela melakukan apa saja demi dirinya. Kami tak bisa dipisahkan. Gairah cinta kami begitu menggelora. Tiap malam kami bercumbu sampai pagi menjelang. Dan setiap musim panas kami selalu merayakan pertemuan kami di kafe d’Espana.

Hingga satu malam di musim panas tahun keempat hubungan kami. Ia memelukku begitu erat. Aku mengecup lembut rambutnya, membelai punggungnya yang telanjang.

Querido,  jiwa dan raga ini seutuhnya milikmu.”

“Kamu pusat semestaku. Kamu canduku. Jantung ini berdetak untukmu, jantung ini milikmu.”

Ia tersenyum dan kami pun terlelap sambil pelukan. Keesokan harinya, aku bangun, Tara sudah tak ada disampingku. Aku menghubungi ponselnya, tidak aktif. Aku ke galeri tempat ia bekerja, di sana aku mendapat kabar Tara pulang ke Indonesia pagi tadi. Ia menitipkan sebuah surat untukku. Sederet kalimat dari Tara yang isinya membuat jantungku nyaris berhenti berdetak.

Aku harus mencegahnya, ini tak boleh terjadi.

Berbekal alamat dari Maria, aku menyusulnya ke Indonesia. Sedikit sulit menemukan rumah Tara. Aku tak boleh telat. Hari ini pernikahan Tara. Aku memandangnya dari kejauhan, ia terlihat begitu cantik. Aku menghampirinya kala ia sedang duduk sendirian tanpa pengantin laki-laki di sampingnya. Wajahnya nampak pias melihatku.

“Alex, maafkan aku. Aku tak menginginkan ini terjadi. Orang tuaku tak menyetujui hubungan kita.”

“Ikutlah denganku, Tara. Kita  menikah di Barcelona.”

“Aku tak bisa, Lex. Maaf. Pergilah. Bawa cintaku.”

Aku berbalik meninggalkan Tara dengan menahan perih. Kulirik mobil pengantin yang diparkir agak jauh dari rumah. Aku menyeringai penuh kemenangan. Kalau aku tak bisa memilikimu, begitupun dia!

**

Hari ini musim panas ke lima yang kulalui tanpamu sejak kejadian itu.

Kuketik sebuah surel dari iPhoneku.

To : taragita@gmail.com

From : alexavera@gmail.com

Aku adalah kamu. Kamu adalah aku. Semestaku. Hidupku hampa tanpamu disampingku.

Aku mencintaimu. Sampai mati.

Kiss,

-Alexandra Xavera Gutterez-

Kutekan tombol send. Surel itu pasti akan bernasib sama seperti surel-surel sebelumnya. Tara tak akan pernah membaca surel itu karena ia telah abadi dalam tidurnya membawa cintaku.

**

Disculpe, puedo sentarme aquí? : Maaf, bisakah aku duduk di sini?

Si, Senorita : Iyah, nona.

Gracias : Terima kasih.

Paella : nasi kuning ala Spanyol

Cargols : siput kecil yang dimasak dengan cara Catalan khusus.

Querido : sayang (untuk laki-laki)

Jumlah kata 500, tidak termasuk keterangan.

14 Comments

  1. keke naima
  2. Lidya
  3. miss rochma
  4. RedCarra
  5. Evi Sri Rezeki (@EviSriRezeki)
  6. Wisata Lombok
  7. riga
    • ranny
    • ranny
  8. ronal
    • ranny

Leave a Reply to Orin Cancel reply