Love Is (Not) You

 

123543_ilustrasinews

Sumber : travel.detik.com

Bandara El-Prat, Barcelona, pagi ini sangat ramai. Aku tiba dua jam lebih awal dari jadwal penerbanganku. Kuseret langkahku menuju coffe shop yang berada di sudut selasar keberangkatan. Coffe shop ini penuh orang yang akan atau telah menempuh perjalanan panjang. Wajah mereka lelah, rambut mereka kusut masai. Tak ada pilihan bagiku untuk menempati kursi di tengah ruangan.

Kuedarkan pandangan sembari menyesap kopi. Dari arah konter, nampak seorang lelaki bertubuh tegap, berparas seperti Sharukh Khan, sedang mencari-cari meja kosong dengan wajah letih. Entah dari mana datangnya keberanian dalam diriku, tiba-tiba aku melambai ke arahnya. Lelaki itu menangkap lambaianku dan bergegas menuju mejaku. Aku tersenyum dan mengangkat tas.

It’s empty.” ujarku.  Wajah lelaki itu berubah ceria. Dia langsung menarik kursi dan duduk berhadapan denganku.

“Sameer.” ucapnya seraya mengulurkan tangan, mencairkan jeda di antara kami berdua. Jabatan tangan itu singkat, tapi erat. Sekilas aku melirik jari manisnya, tak ada cincin kawin. Pipiku bersemu.

“Angela.”

Menatap matanya membuat jantung berdebar tak karuan. Ada sesuatu dalam diri lelaki itu yang menawan hatiku. Aku tak tau apa itu persisnya.

Indian?”  tanyaku.

Yes, New Delhi.” ujarnya sembari tersenyum. Aku tersipu.

“Pergi atau pulang?” tanyaku lagi.

“Pulang. Kamu?”

“Pulang. Where are you heading?”

Jakarta.”

“Ohh, daritadi aku menduga kamu berasal dari Cina. Kulitmu yang sawo matang dan mata sipitmu, membuatku berpikir kamu berasal dari Cina.”

Aku tertawa. Perawakanku persis orang Cina,  tak heran, karena kedua orangtuaku keturunan Cina.

Lelaki itu menunjuk brosur di samping cangkir kopiku. Sebuah brosus dengan tulisan ‘Expocisianes de Arte 2013 – Tony Guardiola’

“Aku baru baru saja menghadiri pameran seni yang diselenggarakan oleh Tony Guardiola. Beliau adalah kurator terkenal dunia. Banyak seniman yang berlomba agar lukisan mereka bisa dilirik Tony dan dipamerkan di ajang ini. Biasanya, seniman yang berhasil masuk ke pameran ini sudah pasti akan terkenal. Tony sangat jeli melihat bakat yang terpendam dari para seniman melalui guratan kuas di kanvas.”

Dia mengangguk takjub dengan penjelasanku. “Lalu, kamu, ngapain di sini?”

“Perjalanan bisnis. “ jawabnya singkat.

“Kamu punya galeri seni?” tanyanya tiba-tiba. Aku mengangguk.

“Aku ke sini, ingin membeli salah satu lukisan dari Marko Kriv, seniman asal Rusia untuk dipajang di galeriku. Tapi sayangnya, aku telat, sudah ada yang membeli.” ujarku lemas. Dia tersenyum sembari menepuk tanganku. Aku bergeming. Jantung ini kembali berdebar.

Berbagai cerita mengalir lancar dari mulut kami berdua. Tak terasa kami harus mengakhiri perbincangan ini.

Penerbangan Sameer lima belas menit lebih awal daripada penerbanganku. Aku dan dia berdiri bersisian di depan gerbang keberangkatan. Aku merasakan sesuatu mengejang di dalam perutku. Tiba-tiba aku tak ingin kehilangan lelaki yang baru kukenal selama dua jam ini.

“Bolehkah, aku memelukmu?” tanyanya sambil mengembangkan kedua tangan. Aku mengangguk. Sameer merengkuhku dalam pelukannya.  Detik berikutnya. Bibir  kami bertemu. Ciuman yang hangat dan lama.

Sameer melepas pelukannya dengan enggan. Kami berbalik dan menuju gate masing-masing.

Ponselku bergetar, sebuah pesan singkat membuatku meringis.

“Cepat pulang sayang, kami merindukanmu di sini. Anak-anak sudah tak sabar ketemu mommynya.”

Kubiarkan pesan itu tak berbalas.

**

Diikutkan pada Giveaway ManDewi

6 Comments

  1. hanari
  2. Wulan Muhariani (@mwulan_)
  3. Lidya
  4. cadas
  5. ManDewi
  6. jampang

Leave a Reply to cadas Cancel reply