Liburan Lebaran : Jogja, Oh No!

Masyarakat Indonesia butuh piknik! Termasuk emak Athar!

Selama bulan Ramadhan, kita semua disuguhkan sinetron berjudul ‘Before Pilpres’ dan ‘After Pilpres’. Nah, emak Athar mau kelelep sama sinetron itu. Makanya, pas tahu libur Lebaran papa Athar yang lumayan lama, kami pun berencana libur keluarga (lagi). Kota yang akan kami kunjungi kali ini, Jogja. Ih, kok Jogja? Mau ke Bali, tiket mahal kakaa >.<. Jogja karena kami bisa pake mobil sendiri dan tentunya bisa jalan sepuasnya.

Kamis, 29 Juli 2014

IMG_0052Sebelum jalan, pose dulu dong 😀

Pukul sepuluh tepat, kami sudah siap dan mulai jalan. Ternyata, bayangan liburan yang menyenangkan seketika lenyap ketika melihat mobil yang mengular saat mau masuk Klaten. Omigosh! Emak Athar mengalami yang namanya macet Lebaran *elap keringat*. Kami pikir mengambil jadwal start liburan H+2, harapannya agar macet sudah berkurang. Tapi, harapan tinggal harapan. Kami harus mencicipi yang namanya libur Lebaran di Jawa (baca : macet).

IMG_0050Nah kayak gini nih macetnya mau masuk Klaten >.<

Biasanya kami menuju Jogja melewati jalan tikus dari rumah yang tembus Delanggu. Nah, jarak tempuh itu memakan waktu satu setengah jam. Tapi kali ini, dua jam lebih baru kami tiba di Jogja.

Tujuan pertama kami adalah Pantai Indrayanti. Koq pantai, sih? Karena di Solo gak ada pantai! Emak Athar pun mulai merajut mimpi, bakal bisa bermain ombak bersama Athar dan bisa foto sesuka hati.

Tapi…

Sekali lagi, Dia Sang Pemilik Doa menghempaskan mimpi emak Athar. :’(

Macetnya? Masya Allah!! Dan, bisa ditebak plat nomor yang menyebabkan kemacetan bertambah parah itu dari mana. Sorry to say, plat B. Fiuuhhh… Kurang lebih hampir empat jam kami di perjalanan menuju pantai. (((BARU MENUJU)))

Lapar menyerang, Athar mulai bosan karena di mobil terus. Di pikirannya, kenapa gak ada turun, ya, sedari tadi. >.<

Satu hal yang saya salut, pelayanan polisi sungguh mantap! Mereka berjaga di beberapa titik menuju pantai-pantai. Dan dengan sigap mereka memberi informasi, harus lewat mana dan tak lupa mengingatkan untuk hati-hati berkendara.

FYI, di daerah Gunung Kidul ini terdapat banyak wisata. Ada Goa Pindul dan beberapa pantai yang terkenal. Akses jalan menuju tempat wisata sudah bagus dan ada penerangan juga walau belum sepenuhnya.

Memasuki gerbang menuju wisata pantai, kami diharuskan membayar retribusi. Satu orang dikenakan biaya Rp. 9.500,- . Lalu lintas mulai padat merayap memasuki gerbang.

IMG_0238Nah, sewaktu masuk gerbang dikasih peta

IMG_0239Tiket masuk ke wisata pantai Gunung Kidul

Sebelum tiba di pantai Indrayanti, terlebih dahulu akan ketemu dengan pantai Baron dan Krakal. Untuk pantai Baron saat kami tiba sudah tutup, tidak bisa dimasuki. Kami mulai putus asa dengan macet. Kami pun memilih ke Krakal saja. Tapi, sayangnya kami gak sreg dengan pantai ini. Akhirnya, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi ke Indrayanti yang tersisa beberapa meter saja.

Dan, voila.. Macetnya ampuun jugaa.. Pantai Indrayanti ini terletak di pinggir jalan, jadi maklum lah jika macet mengular. Di pantai ini, lalu lintas hanya satu arah saja. Alhamdulilah masih bisa dapat parkiran.

Di sepanjang jalan pantai Indrayanti ini berjejer penjual makanan dan souvenir. Kami bergegas untuk pesan makanan. Harganya sih agak mahal dari biasanya dan rasanya pun standar. Kami memutuskan untuk tidak berlama karena takut kemalaman tiba di Jogja ditambah belum dapat hotel yang fix. Keinginan untuk bermain air pun surut seiring air laut yang sudah surut.

IMG_0055Tempat makannya saung gini di sepanjang jalan. Bisa juga mau duduk alas tikar.

IMG_0057Teteup lah, ya, harus eksis! hehehe

Hanya sejam saja kami di pantai. Lalu, kami balik menuju Jogja. Alhamdulilah lalu lintas tidak macet, tiba di Jogja sudah pukul tujuh malam. Dan di sini kami mulai bingung akan hotel. Selama perjalanan, abang minta temen kantor untuk cariin hotel. Tapi, kami sungguh kaget dengan harganya. Dua kali lipat dinaikkan!! Sebenarnya saya cenderung ke Hotel Victoria tapi sayang penuh. Abang pun membelokkan mobil ke hotel Sriwedari di Jl. Laksda Adisucipto, dekat banget dengan Victoria. Untunglah masih ada kamar dan alhamdulilah abang dikasih diskon karena beberapa kali kantor lama nginap di sini pakai nama abang.

Tak langsung masuk kamar, kami cari makan malam dulu. Sungguh kami terkejut, menyaksikan deretan restoran yang dijejelali manusia entah dari mana. Dari pinggir jalan hingga yang mahal pun, PENUH!!!! Tujuan pertama ke nasi goreng langganan, tapi tutup. Lalu mau ke Raminten, tapi masya Allah yang antrinya aja buanyaaaaaakkk!! Akhirnya, kami berlabuh ke Iga Bakar Jakal.

IGA BAKAR JAKAL

Terletak di Jalan Kaliurang. Konsepnya minimalis resto. Pelayanan cepat. Rasa? Menurut saya untuk selevel Iga, dagingnya lembut tapi saya sedikit tidak sreg dengan saos BBQ. Melihat abang dan ade yang makan lahap, saya menyimpulkan kalau salah mesan saos saja. Overall, saya suka resto ini. Dan saya rekom untuk temans penyuka Iga dan ingin makan dengan layanan cepat. Harga pun nyaman di kantong. Tak heran sih, kalau tempat ini ramai. Minusnya, hanya di tempat parkir saja yang secuil.

Sayang, tidak ada foto pendukung. Karena saat makan saya dalam kondisi lapar tingkat dewa dan gendong Athar yang tidur.

~bersambung~

 

8 Comments

  1. ndop
  2. Iga Bakar Jakal
  3. Ety Abdoel
  4. rahmi
  5. rita asmaraningsih
  6. fitri3boys

Reply