Laut dan Senja

Entah untuk berapa lama lelaki bertubuh ringkih itu duduk di kursi panjang . Adakah yang ditunggunya? Tatapannya lurus searah senja yang memudar. Expresinya datar, sesekali menyingkap anak rambut yang menyapu wajahnya. Diam. Sesekali meminum air mineral yang tergeletak disampingnya. Lelaki itu tak menghiraukan bunyi handphonenya, sesekali diliriknya dan dibiarkan begitu saja. Setelah senja berganti malam, lelaki itu pun beranjak dari bangku panjang itu.

Itulah yang ku amati selama beberapa hari ini, semenjak saya berlibur di kota kecil ini. Melepaskan penat dari rutinitas kantor dan kehidupan. Membeli sebuah kenikmatan hidup. Selama beberapa hari ini, setiap sore menjelang, saya selalu ke pantai, menyusuri pasir putih, menghirup udara pantai sore yang panas. Tak ku hiraukan panas yang menerpa, ku biarkan kulitku yang kuning langsat ini terbakar matahari sore. Dan setiap ke pantai, selalu bertemu dengan lelaki ringkih itu, yang dengan setianya menikmati senja di bangku panjang .

Saya bertanya kepada penduduk sekitar, siapakah lelaki itu? Dari jawaban yang kudapati, lelaki itu juga seorang pendatang, menginap di salah satu hotel dekat pantai. Kupikir lelaki itu adalah penduduk asli kota ini, ternyata sama seperti aku juga.

Senja kali ini, ku coba duduk di bangku panjang yang sama. Lelaki itu tak terusik dengan kehadiranku. Tatapan matanya masih mengamati laut dan senja, expresi masih tetap sama : datar. Ku coba mengamati laut dan senja, apa yang menarik dari laut dan senja. Hmm sama aja, setiap harinya tidak ada bedanya.
“Hai..” coba ku menyapa.
Lelaki itu menoleh dan menganggukkan kepala.
“Aku tidak mengganggu bukan, boleh kah aku duduk disini?”
“Silahkan.” Katanya tanpa menoleh.
“Laut…Senja…. Sama aja kan tiap harinya, apa menariknya dari dua hal itu? Setiap hari anda memandangi hal yang sama.” Selorohku.
“Laut dan senja sama halnya dengan kehidupan. Laut terkadang tenang, ada kalanya buih kecil yang muncul ke permukaan dan terkadang ada ombak besar yang menerpa. Sama halnya dengan kehidupan bukan, terkadang tenang dan damai disertai kebahagiaan, terkadang juga ada ombak besar yang menghampiri hidup kita. Senja bagaikan perhiasan yang menawan bagi laut. Warna jingga kemerahan, merahnya sang mentari, burung-burung yang bermigrasi, awan-awan yang menggulung. Kita terlalu terlena dengan pagi yang adalah sebuah pengharapan, tapi terkadang kita tak sadari bahwa senja adalah sebuah perenungan atas hari yang kita lalui. Perpaduan yang cantik bukan, laut dan senja.. Jiwaku selalu tenang dan damai saat memandang laut dan senja. Ketenangan yang menyejukan.” Jawabnya panjang lebar kemudian menolehku dan tersenyum.

Aku terdiam, mencoba mencerna untaian kalimat yang keluar dari bibir tipis lelaki itu. Ku hela napas panjang, beragam peristiwa melintas begitu cepat di benak.

Ku anggukan kepala, entah untuk apa. Mataku pun tak berkedip mengamati laut dan senja didepanku. Sebuah analogi akan hidup yang sederhana.

“Makasih mas atas jawabannya, kenalkan namaku Dewi Amba Ardhiona Putri.” senyumku sambil ulurkan tangan.

“Bisma Javas Narayana.” Ucapnya seraya berdiri dan meninggalkan bangku itu dan diriku, seiring senja yang mulai jatuh dipelukan malam.

21.50 pm

Tags:,

14 Comments

  1. tank top
  2. ranny
  3. ranny
  4. ranny
  5. baju muslim
    • ranny
    • ranny
  6. JengSri
    • ranny
  7. Lidya
    • ranny
  8. iksan
    • ranny

Reply