Dandelion Untuk Andrea

Sejak percakapan dengannya seminggu lalu, hubungan kami bisa dikatakan lebih intens. Kami bertukar nomor ponsel dan akun media sosial. Membuka hari dengan membaca sapaan ringan darinya di layar ponsel, cukup membuatku lebih bersemangat menjalani hari, menghadapi judesnya kalimat pimpinan redaksi, mengejar liputan maupun wawancara dengan sumber yang sesuka hati mengubah waktu dan tempat. Hanya satu kata mampu membuatku tersenyum dan selalu bersemangat untuk mengecek ponsel setiap pagi.

Shayan : Morning!

Aku mengulum senyum sambil bergelung di balik selimut. Kuketik pesan balasan dengan cepat.

An_drea : Hi, morning too!

Tak lama berselang..

Shayan : Sudah bangun? Liputan ke mana hari ini?

An_drea : Belum tau, nunggu perintah komandan.

Shayan : Today i will busy, ketemu dengan klien di Kemang terus mau lihat lokasi.

An_drea : Oh, ok. Take care ya!

Shayan : I will and you too! Jangan telat makan!

An_drea : Siap, ndan!

Shayan : Hehehe okay, see u.

An_drea : See you.

Seperti itulah pagi kami. Lima belas menit kami habiskan untuk saling bertukar sapa dan kegiatan harian. Terkadang kami janjian untuk makan siang bareng atau dia menjemputku seusai jam kantor. Lalu, menikmati makan malam di nasi goreng Bang Malih, tempat favoritku, sambil bercerita tentang keseharian. Menyenangkan dan kami menikmatinya! Apa terlalu cepat jika ini dikatakan, aku telah jatuh cinta? Ah, entahlah. Sensasi tiba-tiba-menjadi-pusing masih saja kurasa ketika Shayan menatap mataku lalu tersenyum, atau hanya sekedar menyingkap rambut anak yang jatuh di dahiku. For God Sake’s! Dunia seakan beku sedetik!

Sepertinya sudah cukup adegan demi adegan dengan Shayan berputar di benak. Gedoran pintu membuatku kembali ke masa kini. Dan, astagaa!! Aku sudah telat! Semoga Didi belum ke kampus, bisa nge-drop aku ke kantor dengan motornya.

**

Setengah berlari aku mengejar lift sebelum tertutup. Fiuuh! Peluh mulai membasahi jidatku. Semoga saja rapat redaksi belum mulai. Ada satu peraturan di redaksi, bagi yang terlambat datang rapat akan didenda dua puluh ribu rupiah! Ya ampun, dua puluh ribu sudah cukup untuk nasi bungkus, es teh, kerupuk sama gorengan di warung Bu Lik. Dan ini adalah kali kedua aku terlambat. Apes banget! Kulirik jam di pergelangan tangan, sudah telat lima belas menit. Ketika pintu lift terbuka di lantai lima, aku berjalan lesu sambil merogoh kantong celana mencari lembar dua puluh ribu.

BRAAKK!

“Ya ampun Andrea, jalan pake mata dong! Sakit tau!” umpat Angel sambil memijit pingganggnya yang terkantuk kursi.

“Aduh, maaf Gel, aku kok gak nampak kamu lewat di depanku,” ucapku sambil meringis dan refleks memegang tangan Angel.

“Jelas saja kamu gak nampak! Jalannya merunduk gitu,” balas Angel sewot.

“Iya.. Iya.. Maaf, ya. Maaf, please..” ucapku sambil pasang wajah innocent.

“Ih, lebay deh! Jijay eikeh mah lihat wajahmu kayak gitu,” seru Angel sambil meletin lidah.

“Udah kelar rapat, ya?” tanyaku sambil celingukan. Ruangan ramai sekali dengan obrolan teman-teman yang beradu dengan bunyi ketukan di keyboard komputer.

“Kelar ndasmu! Mulai aja belom keles!”

“Serius?? Belum mulai??”

“Iyee, lucky you! Pimred lagi di kantor Gubernur ada konfrensi pers mendadak.”

“Alhamdulilah, Tuhan selalu bersama orang telat!” ucapku sambil meluk Angel.

“Idih! Ya ampun Andrea, kamu lebay banget pagi ini bikin aku mual!” Angel berusaha melepaskan diri sambil lari kecil ke arah kubikelnya.

“Gel, abis rapat ke bubur ayam samping kantor, yuk!” ajakku sambil menarik kursi kubikelku.

“Tapi, kamu yang traktir, ya!”

“Beres!”

“Anyway, mana tuh cowok blasteran timteng itu?” Angel menatapku sambil mengedipkan mata.

“Kerja lah,” jawabku acuh.

“Ciee… yang lagi jatuh cinta.. Suit… Suit..”

“Pret lo ah!”

Obrolan kami pun berlanjut tentang berita, liputan hari ini, gosip artis, rencana nyalon hingga gangguin Kak Idham, koordinator liputan kami. Rapat pun dimulai setelah menunggu kurang lebih empat puluh menit. Kali ini rapat dipimpin wakil pimred karena pimred masih di kantor Gubernur.

**

Beranjak petang, aku kembali ke kantor. Hari ini aku bertugas meliput event otomotif di salah satu mal di bilangan Kuningan. Panitianya sangat kooperatif memberikan informasi yang kuperlukan. Sedikit foto dan jamuan makan siang oleh panitia di salah satu restoran membuatku betah berlama di mal.

Kunyalakan PC dan mulai konsentrasi menulis hasil liputan. Tak butuh waktu lama untuk mengerjakannya. Selesai itu, aku mengedit berita yang masuk untuk dua halaman yang aku pegang. Sambil sesekali ke meja layouter untuk mengecek layout halamanku.

TRIIING..

Gegas aku menghampiri meja dan mengambil ponsel yang tergeletak di samping monitor. Aku terdiam. Sebuah surel dari Shayan membuatku terperangah sejenak. Surel yang berisi foto bunga dandelion berlatar tower dan matahari senja. Perfect! Shayan memang pintar dalam hal fotografi. Tak ada isi dalam surelnya, hanya foto saja. Tak lama berselang, Whatsappku berdering.

Shayan : Hi, lagi apa?

An_drea : mandangin foto yang barusan km kirim

Shayan : J fotonya aku ambil di tempat klien. Kapan-kapan nanti aku ajak kamu deh.

An_drea : Bener, janji?

Shayan : Yes!

Shayan : Mau dijemput?

An_drea : Boleh. Tapi, sejam lagi, bisa? Aku kelarin edit beberapa berita dan layout halaman.

Shayan : Ok.

Shayan : U know Andrea.

An_drea : No, i don’t, tell me! Hehehe

Shayan : Lol.. When i captured it, i was thinking of you. When first time i saw you, you hold an orchid and always came at sunset.

Aku terdiam menanti apa yang akan ditulis Shayan berikutnya.

Shayan : Dandelion ini sangat cantik sewaktu terkena sinar matahari senja. Senja selalu membuatku ingat akan kamu.

Shayan : And..

An_drea : And what?

Shayan : Nothing 😉

An_drea : Cruel!

Shayan : Im driving now, see you!

An_drea : Ok.

Ughh! Shayan menyebalkan! Apa sih yang ingin dia bilang? Bikin penasaran saja. Kualihkan perhatianku ke layar monitor dan mulai mengedit lagi.

TRIING..

Kutengok notifikasi whatsaap di layar. Dan aku tak bisa menahan senyum lebar di wajah.

Shayan : I want u be my dandelion. If u don’t mid.

Secepat kilat aku menggeser kunci layar dan membalas pesan. Sebuah ide terlintas.

An_drea : Hmm let me think.

Shayan : How long?

An_drea : A thousand years!!

Aku pun tergelak sendiri dengan apa yang barusan kutulis.

Shayan : I kill my self!

An_drea : Hahahahaha

An_drea : See u later.

Shayan : U got me! Awas ya!

Mungkin inilah saatnya bagiku untuk membuka hati lagi.

**

Part 6

Credit Photo : Zoran Stojanovic

Edited by me

3 Comments

  1. ranny

Reply