Anak Semesta

anak

Aku pikir kamu akan dibesarkan di suatu tempat yang jauh dari bising dan polusi udara, hiruk pikuk kendaraan. Pada suatu tempat yang hening.

Tidak harus di desa, hingga cukup kamu kayuh sepeda untuk menuju pematang sawah. Sebab ibumu tak jauh dari situ. Suara kodok di parit yang hampir penuh pada tiap musim hujan, atau kamu dapat berburu capung dan belalang lalu membungkusnya di dalam plastik sekiloan. Sore pulang dengan kaki berbalut lumpur yang mengering.

Aku pikir kamu akan tinggal pada suatu tempat yang lapang, hingga kamu bisa terbangkan layang-layang. Berlari-lari kecil dengan peluh yang menetes deras. Karena dulu ibumu juga ayahmu juga begitu. Bernyanyi ketika bulan purnama. Lalu berburu kunang. Sedangkan kamu, sejauh ini mengenal kunang-kunang hanya di dongeng ataupun cerita ibumu dan layar televisi.

Aku pikir kamu akan dibesarkan di pinggiran pantai. Sehingga kamu akan akrab dengan suara deburan ombak dan buih-buih yang menggelitik di kaki. Kamu akan akrab dengan batu karang, bulu babi atau ubur-ubur yang kadang membuatmu alergi. Suatu saat berperahu, lalu tangan mungilmu memberi makan ikan-ikan yang kelaparan. Kamu akan menghitung senja dan menunggu setiap kejutannya.

Kamu akan tumbuh dengan kulit yang menghitam, bau matahari. Gigi-gigi yang kuning dengan menampung senyuman. Tapi kaki-kaki kecilmu tegak berdiri menginjak bumi, karena kamu terbiasa berlari di panasnya pasir dan lembeknya lumpur. Tanganmu akan menggenggam erat atau lentur seperti kamu menerbangkan layang-layang.

Aku berpikir hanya menginginkamu tumbuh menjadi anak semesta. Belajar memahami apa yang ditandai oleh alam, lalu mengamalkannya.

**

Credit Photo : Zoran Stojanovic

 

Reply