Wisata Candi Ceto Pas Untuk Petualang Adrenalin

Jawa Tengah dikenal dengan wisata Candi. Sebut saja Candi Prambanan, Candi Borobudur, Candi Sukuh, Candi Ceto, Candi Ratu Boko, belum lagi Dieng yang konon memiliki 1000 candi. Hampir setahun menjadi warga Solo, saya baru mengunjungi Candi Prambanan . Sabtu, 13 April 2013, saya berkesempatan untuk mengunjungi  candi tertinggi di pulau jawa, Candi Ceto.

candi cetho

Sumber : traveljogja.com

Candi Ceto terletak di Kabupaten Karanganyar. Perjalanan dari Solo ke Karanganyar ditempuh kurang lebih 2,5 jam. Untuk masuk ke Kabupaten Karanganyar, kita akan melewati sungai yang terkenal di Indonesia, Bengawan Solo. Setelah memasuki Kabupaten Karanganyar, jalan menuju wisata Candi Ceto, berkelok kelok. Candi Ceto ini terletak di leher gunung Lawu dan berada 1400 pl, jadi tak heran jika udaranya terasa sejuk. Mendekati Wisata Candi Ceto, kita akan disambut oleh hamparan luas perkebunan teh. Tiba di gerbang Wisata Candi Ceto,kita diharuskan untuk membayar retribusi sebesar Rp.5000,- .

Yang terlintas dipikiran saat tiba di gerbang Wisata Candi Ceto, ‘pasti gak akan lama lagi nyampe’. Ternyata saya salah! Jalan yang ditempuh untuk sampai di Candi Ceto itu masih panjang. Dari gerbang ini, wisata uji nyali dimulai. Untuk mencapai Candi Ceto, kita akan melalui jalan yang berkelok dengan tanjakan yang tajam. Disuguhi perkebunan teh dan karet membuat perasaan takut sedikit teduh. Tapi saat setengah perjalanan, keringat dingin mulai mengucur. Gimana tidak, tanjakannya tajam sekali, di kiri jalan pun jurang yang dipenuhi kebun teh. Saya pun menguatkan hati, untunglah  suami yang menyetir mobil terlihat tenang. Belum lagi jalan yang rusak saat tanjakan, bikin hati makin deg-degan.

IMG_0391

Hamparan perkebunan teh (dok,pribadi)

IMG_0392

Awan serasa di atas kepala (dok.pribadi)

Ada satu tanjakan yang bikin saya jantungan, jadi saya pikir mobil akan belok kanan tapi ternyata tidak. Mobil memang belok kanan tapi langsung nanjak naik. Astaga, saya sampai menjerit. Benerlah kata orang,  ke Candi Ceto itu uji nyali! Jalan pun makin naik, awan pun terasa udah dekat di atas kepala. Saat menjulurkan kepala keluar jendela, saya bergidik, jurangnya menganga lebar! Mendekati tanjakan terakhir, terjadi hal yang creepy, saat tanjakan mobil tidak bisa naik. Dicoba dua kali pun tak bisa, plat kopling pun udah bau, di sebelah kiri jurang menanti, doa pun didaraskan, mau nangis tapi kuatin hati, kami putuskan untuk balik saja. Mobil perlahan turun dan putar balik. Sebenarnya mobil bisa naik kalau jalan tidak ada lubang. Mobil sehabis kami pun tak bisa naik. Tak apalah saya tak bisa ke Candi Ceto, yang penting kami selamat.

IMG_0395

Tanjakan tajam (dok.pribadi)

Untuk meneduhkan jantung yang hampir copot , kami singgah sejenak di Ndoro Donker. Kafe yang terletak di pinggir jalan menuju Candi Ceto ini sangat terkenal , parkiran pun penuh. Kami memilih area belakang untuk leyeh sejenak. Pemandangan kebun teh yang luas pun menyambut kami. Udara sangat sejuk saat itu, meneduhkan. Menikmati udara dan pemandangan, kami memilih untuk minum teh Raja, pisang goreng dan kare Donker.

ndoro donker

Nampak depan Ndoro Donker (dok.pribadi)

Teh Raja ini warnanya tak sama dengan teh biasa, berawarna kuning pucat. Rasanya? Menjura! Enak banget, berkelas menurutku. Wajarlah, konon teh Raja ini merupakan teh impor. Kare yang dihidangkan pun rasanya enak, pas bumbunya. Soal harga, sangat terjangkau. 1 poci teh Raja dibandrol Rp. 25.000,- , pisang goreng Rp. 1.500,- dan kare Rp.10.000,- . Selain menu itu, ada juga beberapa menu cemilan yang pas dinikmati bersama teh, yang kelaparan ingin makan berat? ada menu ayam bakar yang menggugah selera. Teh  yang ditawarkan pun tak hanya teh Raja.

teh raja

Teh Raja (dok.pribadi)

kare donker

Kare Donker (dok.pribadi)

Hari sudah sore, kami memutuskan untuk balik sebelum jalanan macet. Wisata kali ini bener-bener uji nyali dan takkan saya lupakan seumur hidup.

Sedikit catatan kecil dari wisata Candi Ceto ini, banyaknya pengunjung yang mau berwisata ke Candi Ceto, harusnya mendapat perhatian lebih oleh Pemerintah setempat. Yang perlu diperhatikan adalah jalan yang rusak, sungguh menggangu, apalagi jalan rusak saat tanjakan, takutnya akan ada korban. Jika hal ini dibiarkan, takutnya daerah wisata ini akan mengalami penurunan pengunjung. Untuk yang mengidap penyakit jantung, saya sarankan untuk tidak ke Candi Ceto.

FYI, di dalam kawasan Wisata Candi Ceto ini terdapat juga area untuk main flying fox dan Candi Sukuh. Untuk Candi Sukuh berada 1100 pl dan jalan yang bakal ditempuh sama seperti Candi Ceto, berkelok kelok dengan tanjakan tajam.

Well, bagi Anda yang suka tantangan wisata Candi Ceto ini patut dicoba. Dan bagi Anda yang hanya ingin menikmati perkebunan teh dan karet, tak perlu sampai ke Candi Ceto, cukup sampai Ndoro Donker saja, Anda sudah menikmati hamparan kebun teh dan karet, ditemani teh yang berkelas dan menu yang enak.

**

Kontes Tulisan Tentang Solo

6 Comments

    • ranny
    • ranny

Reply