Solo, Kota Sejumput Rindu

kota-solo

Sumber : medogh.com

Ning stasiun balapan

Kuto Solo sing dadi kenangan

Kowe karo aku

Naliko ngeterke lungamu

-Setasiun Balapan , Didi Kempot-

Selama ini hanya bisa menyaksikan kota Solo dari layar televisi. Kala itu, aku ingat dengan jelas OVJ sedang road show di kota Solo. Aku sempat berujar dalam hati, kapan bisa ke sana? Setahun berselang doaku terkabul.

 14 Mei 2012 adalah momentum awal bagiku menjejakkan kaki di kota Pak Jokowi. Malam sudah meninggi kala tiba di kota itu. Aku hanya bisa menikmati temaram lampu jalan yang berpendar di tiap sudut kota, sambil tak hentinya menatap bangunan demi bangunan yang kulewati. Aku hanya bisa terdiam menikmati detak kota Solo ketika malam hari. Agak beda dengan kota asalku, Manado. Ada selusup ketenangan yang menyambutku kala itu.

 Kota Solo menawarkan sebuah ketenangan yang kuidamkan selama ini. Lahir dan besar di kompleks yang ramai, membuatku bermimpi satu saat kelak, aku ingin tinggal di kota yang tenang. Kompleks tempat tinggalku berada di pinggiran kota Solo, tepatnya di daerah Gentan. Kami menghuni salah satu rumah di perumahan Tirtamaya. Lingkungan tempat tinggalku sangat nyaman. Petugas keamanan yang ramah, ditambah tetangga yang baik, tak sungkan menolong dan tidak bossy, membuatku betah tinggal di kompleks ini.

Ternyata penduduk kota Solo sangat ramah dan halus bahasanya. Aku kagum dengan tutur bahasa mereka, sangat menghormati lawan bicara dan senyum yang tak henti mengembang di wajah mereka. Yang khas dari cara bicara mereka selain lembut adalah penggunaan bahasa jawa halus dan sangat medok. Aku sedikit tergagap saat berbicara dengan mereka. Aku harus mendengar baik-baik apa yang mereka katakan, diam lalu menjawab. Tapi, lama kelamaan aku terbiasa dengan bahasa mereka. Pernah sekali, waktu pertama kali tiba, keesokan harinya, suami dan aku makan di KFC Solo Square. Mendengar si mbak kasir ngomong, aku hanya bisa mangap , gak ngerti dengan apa yang dikatakan karena medoknya itu. Aku pun berasumsi, dia menanyakan menu, jadi kujawab apa yang ingin kupesan.

Selama berada di kota Solo, belum sekali aku ketemu dengan namanya macet. Kalau macet saat kereta lewat, itu biasa saja. Adanya ‘polisi dadakan’ di tiap persimpangan jalan, membuat lalu lintas lancar jaya. Aku sangat menikmati tiap melewati jalan-jalan kecil menuju satu tempat atau melewati Keraton Solo berkali-kali.

Satu hal yang membuatku merasa adem berada di kota ini adalah adanya pedistrian yang dilingkupi pepohonan rimbun, bangku taman dari besi dan lampu jalan. Hal yang sudah jarang kutemui di berbagai kota. Ketika malam hari, pendar kuning cahaya lampu jalan menerangi bangku taman, terlihat sangat eksotis! Ah, aku menyukainya! Berasa seperti berada di Manhanttan!

Kota Solo sangat kental akan budaya Jawa. Budaya adalah napas bagi kota ini. Tak heran jika banyak pagelaran budaya yang diadakan dan situs-situs bersejarah bisa kita temui di kota ini. Kisah Pandawa sangat melekat di kota ini, hal ini bisa terlihat dengan adanya patung megah berwarna keemasan yang berdiri di lima penjuru mata angin di depan Carefour Solo Baru. Tak jarang aku temui, ibu-ibu tua memakai kebaya duduk di pinggir pasar sambil ngobrol atau menjajakan jualan berupa kembang.

 Menurutku, ada 4 hal yang sangat melekat di kota ini.

  1. Joko Widodo alias Jokowi

Siapa sih yang tak kenal bapak kurus penyuka musik rock ini? Seantero Indonesia mengenalnya karena berhasil mengubah wajah kota Solo, yang dulunya jarang dikunjungi menjadi kota paling sering dikunjungi dan kota dengan segudang pagelaran budaya. Rasanya butuh berlembar-lembar untuk menceritakan kesuksesan beliau mengubah kota Solo. Keramahan beliau dan sifat tidak sombong, membuat beliau sangat lekat di hati masyarakat kota Solo. 

  1. Batik

Sejak kota Solo dipegang oleh Pak Jokowi, batik menjadi ciri khas kota ini. Solo menjadi pusat batik, City of Batik. Para penjual batik menjamur di mana-mana, pemerintah menyediakan satu ‘rumah’ untuk para penjual batik yang dikenal dengan nama Pusat Grosiran Solo (PGS). PGS menjadi desitansi wisata yang tak sepi pengunjung. Batik kini hidup lagi di kota ini.

  1. 4 Penjuru Mata Angin

Aku lahir dan besar di kota yang terbiasa mengucapkan kanan, kiri, depan. Tiba di kota Solo, aku sedikit kebingungan. Masyarakat di kota ini menggunakan arah mata angin untuk menunjukkan satu tempat. Jangan ditanya, sampai sekarang ini aku masih bingung jika dijawab : “Sebelah selatan, mbak.” 

  1. Wedangan

Nah, kuliner lokal ini banyak ditemui di sudut jalan kota Solo saat malam hari. Pertama kali mencoba wedangan, aku terkejut dengan harga makananya. Gorengan dijual lima ratus rupiah per biji. Astaga, sangat murah! Saat malam tiba, trotoar jalan menjelma jadi lesehan untuk menikmati wedangan.

Membahas kota Solo takkan habis dalam semalam. Kota ini selalu membawa rindu untuk selalu kembali. Keramahan, ketenangan, kenyamanan sangat melekat di kota ini. Ditambah satu sosok yang berada di kota itu – suami -, membuat aku selalu merindu untuk mengecap tiap sudut kota Solo. Berjalan bertiga dengan bayi mungil kami, keliling kota Solo, menikmati senja sambil duduk di  bangku pedistrian adalah hal yang rindu untuk kulakukan. Ada satu hal yang ingin aku lakukan, kelak balik ke Solo : menonton pagelaran seni budaya di benteng Verternsburg!

Seperti penggalan lirik lagu Didi Kempot di atas, kota ini selalu membawa sejumput rindu bagiku untuk selalu kembali.

**

 

Kontes Tulisan Tentang Solo

4 Comments

Reply